Tanam Setelah Hari Arwah
ATAMBUA, POS KUPANG.Com -- Petani di Kabupaten Belu pada umumnya sudah menyiapkan lahan untuk ditanam. Pada umumnya para petani baru mulai menanam setelah Hari Mata Bian alias Hari Arwah, awal November 2010.
ATAMBUA, POS KUPANG.Com -- Petani di Kabupaten Belu pada umumnya sudah menyiapkan lahan untuk ditanam. Pada umumnya para petani baru mulai menanam setelah Hari Mata Bian alias Hari Arwah, awal November 2010.
Meski demikian, petani di beberapa daerah sudah menanam jagung di kebunnya setelah hujan turun sekitar sepekan terakhir. Seperti terlihat di beberapa kebun petani di Desa Manleten, Kecamatan Tasifeto Timur, beberapa petani sudah menanam jagung di kebunnya.
Petani setempat biasanya baru menanam setelah Hari Arwah, setiap awal November, dimana umat Katolik khusus berdoa untuk keselamatan arwah orang yang sudah meninggal dunia. Kesempatan itu dimanfaatkan petani Belu untuk meminta restu leluhur agar kebun dan ladang mereka mendapat panen berlimpah.
Beberapa petani di Desa Manleten, Petrus Mauk, Anastasia Luan Berek, Barbara Ximenez, yang ditemui terpisah, Jumat (15/10/2010) dan Sabtu (16/10/2010), mengatakan bahwa tradisi bercocok tanam di Belu tidak terlepas dari budaya. Petani di wilayah utara Belu, misalnya, meskipun hujan sudah turun sekian minggu namun petani baru mulai menanam setelah upacara Mata Bian (Hari Arwah). Pada saat ini, kata mereka, warga berbondong-bondong ke kuburan untuk meminta doa dan restu para leluhur agar hasil kebun mereka berlimpah.
"Ini sudah tradisi. Bulan September sampai Oktober biasanya petani bersihkan lahan. Meskipun hujan sudah turun sekian minggu tapi petani tidak semuanya menanam jagung atau padi. Setelah hari Mata Bian barulah petani mulai tanam padi atau jagung di kebun," tutur Petrus.
Sementara Anastasia Luan dan Barbara Ximenez mengatakan bahwa hujan yang turun beberapa hari terakhir mendorong sebagian petani mulai menanam jagung baik di pekarangan rumah maupun di ladang. Jagung yang ditanam umumnya jagung biasa (warna putih). Sedangkan jagung kuning (hibrida) baru ditanam setelah hari Mata Bian. Sebab jika jagung hibrida ditanam saat curah hujan belum menentu maka akan mubazir dan dimakan semut merah.
Pantauan Pos Kupang di Desa Manleten, petani sudah menyiapkan lahan untuk ditanami. Sebagian tanah di pekarangan rumah sudah dpacul, namun belum ditanam.
Menurut Wakil Bupati Belu, Taolin Ludovikus, hujan yang turun dalam sepekan terakhit sangat membantu petani di sekitar Atambua dan wilayah utara Belu. Mereka sudah bisa tanam jagung. Sedangkan wilayah selatan Belu belum bisa bercocok tanam karena cuaca kadang tak menentu di daerah ini. (yon)