Selasa, 14 April 2026

Kota Kupang Terkini

Umat Stasi Naimata Hayati Sengsara Kristus Lewat Jalan Salib Hidup

Jalan Salib Hidup tersebut dilakukan dengan peragaan langsung kisah sengsara Kristus, dengan pemberhentian di setiap rumah umat. Suasana khidmat

Editor: Yeni Rahmawati
POS-KUPANG.COM/ALEXANDRO NOVALIANO DEMON PAKU
JUMAT AGUNG - Ratusan umat di Stasi Santo Fransiskus Xaverius Naimata mengikuti prosesi Jalan Salib Hidup pada Jumat Agung, yang digelar sejak pukul 07.00 WITA, Jumat (3/4/2026) 
Ringkasan Berita:
  • Ratusan umat di Stasi Santo Fransiskus Xaverius Naimata mengikuti prosesi Jalan Salib Hidup pada Jumat Agung, yang digelar sejak pukul 07.00 WITA, Jumat 3 April 2026.
  • Prosesi ini menjadi bagian dari perayaan Tri Hari Suci untuk mengenang sengsara dan wafat Yesus Kristus.
  • Jalan Salib Hidup tersebut dilakukan dengan peragaan langsung kisah sengsara Kristus, dengan pemberhentian di setiap rumah umat. Suasana khidmat dan penuh penghayatan tampak mewarnai seluruh rangkaian devosi ini.

 

Laporan Reporter POS-KUPANG. COM, Alexandro Novaliano Demon Paku

POS-KUPANG. COM, KUPANG - Ratusan umat di Stasi Santo Fransiskus Xaverius Naimata mengikuti prosesi Jalan Salib Hidup pada Jumat Agung, yang digelar sejak pukul 07.00 WITA, Jumat 3 April 2026.

Prosesi ini menjadi bagian dari perayaan Tri Hari Suci untuk mengenang sengsara dan wafat Yesus Kristus.

Jalan Salib Hidup tersebut dilakukan dengan peragaan langsung kisah sengsara Kristus, dengan pemberhentian di setiap rumah umat. Suasana khidmat dan penuh penghayatan tampak mewarnai seluruh rangkaian devosi ini.

Romo Yasintus Efi mengatakan, Jalan Salib merupakan bagian dari tradisi Gereja Katolik yang sarat makna iman. Melalui devosi ini, umat diajak untuk menyembah Salib Suci Tuhan.

“Kita sedang berada dalam Tri Hari Suci, mengenang misteri agung Allah yang menderita, wafat, dan bangkit. Pada Jumat Agung ini, Gereja Katolik melaksanakan Jalan Salib sebagai bentuk devosi umat,” ujarnya.

Ia menjelaskan, bagi sebagian orang, salib dipandang sebagai simbol penghinaan namun, bagi umat beriman, salib justru menjadi tanda kemenangan Kristus atas kuasa maut, dosa, dan kejahatan.

“Jalan Salib yang diperagakan ini adalah ungkapan sembah sujud umat kepada Salib Suci, yang menjadi tanda kemenangan Kristus,” tambahnya.

Baca juga: Jumat Hening, Jalan Van Beckum di Labuan Bajo, Manggarai Barat Tidak Dilewati Kendaraan

Lebih lanjut, Romo Yasintus menekankan bahwa Jalan Salib juga menjadi panggilan bagi umat untuk ikut serta memanggul salib kehidupan masing-masing.

“Kristus telah menanggung dosa manusia dengan memikul salib. Kita pun dipanggil untuk memanggul salib kita, menjalani hidup seturut kehendak Tuhan, serta meninggalkan dosa-dosa kita menuju keselamatan,” jelasnya.

Menurutnya, peringatan sengsara Kristus tidak hanya berhenti pada ritual, tetapi harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari, terutama dengan menunjukkan kepedulian kepada sesama.

“Harapannya, umat tidak hanya merasakan penderitaan Kristus, tetapi juga memiliki bela rasa terhadap sesama yang menderita, saling membantu dan menanggung beban bersama dalam iman,” tuturnya.

Prosesi Jalan Salib Hidup ini menjadi salah satu bentuk penghayatan iman umat di Stasi Naimata dalam menyambut misteri Paskah, sekaligus memperkuat semangat kebersamaan dan solidaritas di tengah kehidupan umat. (nov) 

Ikuti Berita POS-KUPANG.COM di GOOGLE NEWS

Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved