Selasa, 21 April 2026

Sikka Terkini

Pelajar di Poma Sikka Bertaruh Nyawa Lewati Jembatan Bambu Demi Sekolah

Setiap hari mereka harus melewati jembatan bambu yang rusak dan rawan amblas sebagai akses satu-satunya ke sekolah.

Editor: Eflin Rote
POS-KUPANG.COM/HO
Sejumlah siswa dari tingkat SD dan SMP di Desa Poma, Kecamatan Tanawawo, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT),harus bertaruh nyawa demi bisa bersekolah 
Ringkasan Berita:
  • Sejumlah siswa dari tingkat SD dan SMP di Desa Poma, Kecamatan Tanawawo, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT),harus bertaruh nyawa demi bisa bersekolah
  • Setiap hari mereka harus melewati jembatan bambu yang rusak dan rawan amblas sebagai akses satu-satunya ke sekolah
  • Kondisi ini sudah berlangsung puluhan tahun, namun belum ada perhatian dari pemerintah setempat

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Arnold Welianto

POS-KUPANG.COM, MAUMERE - Sejumlah siswa dari tingkat SD dan SMP di Desa Poma, Kecamatan Tanawawo, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT),harus bertaruh nyawa demi bisa bersekolah.

Setiap hari mereka harus melewati jembatan bambu yang rusak dan rawan amblas sebagai akses satu-satunya ke sekolah.

Para siswa harus melewati jembatan bambu yang rusak dan rawan ambruk untuk menuju sekolah karena tidak ada alternatif lain. 

Tak ada jembatan beton, dan hanya jembatan bambu satu-satunya akses siswa untuk ke sekolah, demi tekad untuk menuntut ilmu sebagai bekal di masa depan.

Kondisi ini sudah berlangsung puluhan tahun, namun belum ada perhatian dari pemerintah setempat.

Kepala Desa Poma, Donatus Rada mengatakan, jembatan bambu yang terletak di Dusun Detu Kato itu dikerjakan secara swadaya masyarakat setempat untuk akses para pelajar dan masyarakat karena merupakan akses satu-satunya. 

Baca juga: Delapan rumah di Desa Ian Tena, Kewapante, Kabupaten Sikka, Rusak Diterjang Angin Kencang

"Ini jembatan bambu yang ada di Dusun Detu Kato, Desa Poma, satu-satunya akses ketika banjir, anak sekolah dan masyarakat semua aktivitas melalui jembatan bambu ini," jelasnya Rabu (11/3/2026).

Kata dia, sekitar 8 tahun lalu, sudah korban jiwa akibat terjatuh saat melewati jembatan tersebut. 

"Sekitar 7 atau 8 tahun yang lalu, sudah ada korban ketika pulang dari kebun dan jatuh di jembatan ini, yang jatuh pun meninggal," ujarnya. 

Sementara itu, Camat Tanawawo, Jhon Oriwis, mengatakan, jembatan bambu itu menjadi akses satu-satunya untuk para guru dan siswa menuju SD Detu Naka, Para Siswa SMP dari Detu Denu dan Detu Naka yang bersekolah di  SMP SATAP POMA di Funga. 

Selain itu, apabila terjadi banjir, evakuasi pasien pun melewati jembatan bambu menuju Puskesmas Wolofeo

"Kadang kalau banjir pasien juga lewat sini untuk ke Puskesmas Wolofeo, " Jelasnya. 

Jhon mengaku, sudah meninjau lokasi itu bersama, Kapospam Tanawawo Polsek Paga, Aiptu Fransiskus Lister, bersama Ba Pospam Tanawawo, Bripka Firmianus Weki. (awk)

Ikuti berita POS-KUPANG.COM lain di GOOGLE NEWS

Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved