Sikka Terkini
Pelajar di Poma Sikka Bertaruh Nyawa Lewati Jembatan Bambu Demi Sekolah
Setiap hari mereka harus melewati jembatan bambu yang rusak dan rawan amblas sebagai akses satu-satunya ke sekolah.
Ringkasan Berita:
- Sejumlah siswa dari tingkat SD dan SMP di Desa Poma, Kecamatan Tanawawo, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT),harus bertaruh nyawa demi bisa bersekolah
- Setiap hari mereka harus melewati jembatan bambu yang rusak dan rawan amblas sebagai akses satu-satunya ke sekolah
- Kondisi ini sudah berlangsung puluhan tahun, namun belum ada perhatian dari pemerintah setempat
Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Arnold Welianto
POS-KUPANG.COM, MAUMERE - Sejumlah siswa dari tingkat SD dan SMP di Desa Poma, Kecamatan Tanawawo, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT),harus bertaruh nyawa demi bisa bersekolah.
Setiap hari mereka harus melewati jembatan bambu yang rusak dan rawan amblas sebagai akses satu-satunya ke sekolah.
Para siswa harus melewati jembatan bambu yang rusak dan rawan ambruk untuk menuju sekolah karena tidak ada alternatif lain.
Tak ada jembatan beton, dan hanya jembatan bambu satu-satunya akses siswa untuk ke sekolah, demi tekad untuk menuntut ilmu sebagai bekal di masa depan.
Kondisi ini sudah berlangsung puluhan tahun, namun belum ada perhatian dari pemerintah setempat.
Kepala Desa Poma, Donatus Rada mengatakan, jembatan bambu yang terletak di Dusun Detu Kato itu dikerjakan secara swadaya masyarakat setempat untuk akses para pelajar dan masyarakat karena merupakan akses satu-satunya.
Baca juga: Delapan rumah di Desa Ian Tena, Kewapante, Kabupaten Sikka, Rusak Diterjang Angin Kencang
"Ini jembatan bambu yang ada di Dusun Detu Kato, Desa Poma, satu-satunya akses ketika banjir, anak sekolah dan masyarakat semua aktivitas melalui jembatan bambu ini," jelasnya Rabu (11/3/2026).
Kata dia, sekitar 8 tahun lalu, sudah korban jiwa akibat terjatuh saat melewati jembatan tersebut.
"Sekitar 7 atau 8 tahun yang lalu, sudah ada korban ketika pulang dari kebun dan jatuh di jembatan ini, yang jatuh pun meninggal," ujarnya.
Sementara itu, Camat Tanawawo, Jhon Oriwis, mengatakan, jembatan bambu itu menjadi akses satu-satunya untuk para guru dan siswa menuju SD Detu Naka, Para Siswa SMP dari Detu Denu dan Detu Naka yang bersekolah di SMP SATAP POMA di Funga.
Selain itu, apabila terjadi banjir, evakuasi pasien pun melewati jembatan bambu menuju Puskesmas Wolofeo.
"Kadang kalau banjir pasien juga lewat sini untuk ke Puskesmas Wolofeo, " Jelasnya.
Jhon mengaku, sudah meninjau lokasi itu bersama, Kapospam Tanawawo Polsek Paga, Aiptu Fransiskus Lister, bersama Ba Pospam Tanawawo, Bripka Firmianus Weki. (awk)
Ikuti berita POS-KUPANG.COM lain di GOOGLE NEWS
| Kisah Emanuel Laga Kobun, Mengabdi 7 Tahun Menjadi Nakes Sukarela Tanpa Gaji |
|
|---|
| Rektor Unipa Apresiasi Pengukuhan Pater Otto Gusti jadi Guru Besar |
|
|---|
| Kepala LLDIKTI XV NTT Sebut: Prof. Otto Gusti Perkuat Barisan Guru Besar Filsafat Politik Indonesia |
|
|---|
| Very Awales Sebut Pengukuhan Prof Otto Gusti Madung Jadi Kebanggaan Dunia Akademik dan Gereja |
|
|---|
| Guru Besar IFTK Ledalero Pater Otto Gusti Soroti Masa Depan Demokrasi Indonesia |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Sejumlah-siswa-dari-tingkat-SD-dan-SMP-di-Desa-Poma-Kecamatan-Tanawawo.jpg)