Sumba Timur Terkini
Ratusan Warga Sumba Timur Terpapar HIV/AIDS, Stigma Masyarakat Jadi Tantangan Pemulihan
Lukas menjelaskan, sekitar 80 persen dari orang dengan HIV/AIDS tersebut saat ini rutin menjalani pengobatan.
Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Irfan Budiman
POS-KUPANG.COM, WAINGAPU – Dinas Kesehatan Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT) menangani sebanyak 314 kasus HIV/AIDS sejak tahun 2014 hingga Oktober 2025.
Hal tersebut disampaikan Kepala Dinas Kesehatan Sumba Timur, Rambu M. R. K. U. Djima, melalui Penanggung Jawab Program HIV, Lukas Lu Walangara kepada POS-KUPANG.COM, Senin (1/12/2025).
“Jumlah kasus HIV hingga 31 Oktober ada 314 kasus yang terdaftar. Data ini kita kumpulkan dari tahun 2014,” sebutnya.
Baca juga: Pemkab Sikka Targetkan Sikka Bebas AIDS 2030
Lukas menjelaskan, sekitar 80 persen dari orang dengan HIV/AIDS tersebut saat ini rutin menjalani pengobatan.
“Sedangkan 20 persennya itu ya mereka yang masih putus-putus minum obat atau belum rutin,” ungkapnya.
Ia menyebutkan, kelompok usia produktif paling banyak terkena HIV. Mereka umumnya di rentang usia 30 hingga 45 tahun.
“Sudah di angka sekitar 60-an persen (produktif) secara keseluruhan kalau gabung begitu. Itu kondisinya sekarang,” katanya.
Untuk layanan pemeriksaan HIV, kata dia, seluruh puskesmas di Sumba Timur sudah bisa melakukan tes HIV.
Sementara layanan pengobatan saat ini hanya tersedia di RSUD Umbu Rara Meha, RSK Lindimara dan Puskesmas Lewa.
“Ke depan ada beberapa puskesmas yang akan kita tambahkan untuk bisa layani pengobatan,” ujarnya.
Lukas menjelaskan tantangan pengobatan orang dengan HIV/AIDS di Sumba Timur. Di antaranya adalah stigma dan diskriminasi. Ia menilai stigma menyebabkan banyak orang takut memeriksakan diri meski merasa berisiko.
“Kami melihat tantangan paling berat sekarang di Sumba Timur itu adalah stigma dan diskriminasi. Begitu orang mau melakukan pemeriksaan atau merasa berisiko, dia tidak punya keberanian untuk datang periksa. Ya, karena malu. Nanti mungkin dia kembali ke keluarga masih berpikir diterima atau tidak. Kemudian dia tahu bahwa orang selalu menganggap HIV itu adalah penyakit (aib),” ungkapnya.
Jika tidak ada stigma masyarajat, lanjut dia, penanganan HIV dapat berjalan lebih mudah.
“Orang akan lebih bebas untuk melakukan pemeriksaan dengan minum obat teratur seperti penyakit-penyakit yang lain,” ujarnya. (dim)
Ikuti berita POS-KUPANG.COM di GOOGLE NEWS
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Dinas-Kesehatan-Kabupaten-TTU-merilis-data-kasus-HIV.jpg)