NTT Terkini
Perkuat Peran Akademisi, Workshop Kapasitas Dosen untuk Program Imunisasi Berbasis Gender
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada UNICEF dan Poltekkes Kemenkes Kupang atas dukungan dalam penyelenggaraan kegiatan tersebut.
Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Eugenius Suba Boro
POS-KUPANG.COM, KUPANG — Workshop peningkatan kapasitas dosen dalam mendukung program imunisasi rutin melalui pendekatan gender digelar di Hotel Aston Kupang, Selasa (10/3/2026).
Kegiatan ini melibatkan sekitar 60 dosen dan tenaga pendidik dari berbagai perguruan tinggi kesehatan di Kota Kupang serta didukung pemerintah daerah dan mitra pembangunan.
Workshop yang berlangsung selama dua hari, 10–11 Maret 2026 ini diikuti oleh dosen dari Poltekkes Kemenkes Kupang, Universitas Citra Bangsa, Stikes Maranatha, Stikes Nusantara, Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Nusa Cendana, serta Fakultas Kedokteran dan Kedokteran Hewan (FKKH) Universitas Nusa Cendana.
Selain institusi pendidikan, kegiatan ini juga didukung oleh Dinas Kesehatan Provinsi Nusa Tenggara Timur dan UNICEF sebagai bagian dari upaya memperkuat kapasitas tenaga pendidik dalam mengintegrasikan pendekatan gender dalam program imunisasi serta pendidikan tenaga kesehatan.
Baca juga: Cakupan Imunisasi Dasar Lengkap di NTT 63,4 Persen, Dinkes Kejar Target 85 Persen Tahun 2026
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi NTT, drg Iien Adriany, M.Kes, dalam sambutannya sekaligus membuka kegiatan tersebut mengatakan bahwa imunisasi merupakan salah satu intervensi kesehatan masyarakat paling efektif untuk melindungi anak dari berbagai penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I).
Namun demikian, capaian imunisasi dasar lengkap di Provinsi Nusa Tenggara Timur pada tahun 2025 baru mencapai sekitar 63,4 persen, masih berada di bawah target nasional sebesar 80 persen.
“Melalui kegiatan workshop ini, diharapkan para dosen dapat meningkatkan pemahaman mengenai pentingnya perspektif gender dalam program imunisasi, serta mampu mengintegrasikan isu gender dan keterlibatan keluarga dalam proses pembelajaran di bidang kesehatan masyarakat, kebidanan, keperawatan maupun kesehatan anak,” ujar Iien.
Ia menambahkan, peran tenaga pendidik sangat strategis dalam mempersiapkan calon tenaga kesehatan yang tidak hanya memiliki kompetensi teknis, tetapi juga mampu memahami dinamika sosial yang mempengaruhi keputusan keluarga dalam mengakses layanan kesehatan.
“Melalui pelatihan ini, para dosen diharapkan dapat mengembangkan pendekatan komunikasi dan edukasi kesehatan yang lebih efektif, inklusif, dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat, sehingga dapat mendukung peningkatan cakupan imunisasi dan perlindungan kesehatan anak di Nusa Tenggara Timur,” tambahnya.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada UNICEF dan Poltekkes Kemenkes Kupang atas dukungan dalam penyelenggaraan kegiatan tersebut.
“Kami menyampaikan terima kasih kepada UNICEF serta Poltekkes Kemenkes Kupang atas dukungan dan kerja sama yang telah diberikan. Kami berharap kegiatan ini dapat semakin memperkuat kolaborasi antara sektor kesehatan dan institusi pendidikan dalam meningkatkan cakupan imunisasi serta perlindungan kesehatan anak di Provinsi Nusa Tenggara Timur,” katanya.
Sementara itu, Kepala Kantor UNICEF Perwakilan NTT dan NTB, Yudhistira Yewangoe, menekankan pentingnya peran tenaga pendidik dalam memperkuat sistem kesehatan di daerah.
Menurutnya, investasi pada pendidikan tenaga kesehatan merupakan investasi jangka panjang bagi peningkatan kualitas pelayanan kesehatan masyarakat.
Ia menjelaskan bahwa penurunan cakupan imunisasi dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari keterbatasan akses layanan hingga keputusan keluarga yang sering menjadi penentu apakah seorang anak dibawa ke fasilitas kesehatan untuk mendapatkan imunisasi.
“Kadang keputusan keluarga dipengaruhi berbagai hal, misalnya kondisi cuaca atau pertimbangan lain sehingga anak tidak dibawa ke posyandu. Selain itu, beredarnya informasi yang tidak benar, seperti isu mengenai kehalalan vaksin atau anggapan bahwa imunisasi dapat menyebabkan autisme, juga turut mempengaruhi penerimaan masyarakat terhadap imunisasi,” ujarnya.
Melalui pelatihan ini, para dosen diharapkan dapat mempersiapkan mahasiswa tenaga kesehatan agar mampu memahami dan menghadapi dinamika yang terjadi di masyarakat.
“Modul pelatihan yang dikembangkan diharapkan dapat menjadi referensi yang relevan dalam membekali mahasiswa dengan pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan untuk meningkatkan penerimaan imunisasi di masyarakat,” tambahnya.
Wakil Direktur II Poltekkes Kemenkes Kupang, Karolus Ngambut, SKM., M.Kes, menjelaskan bahwa dosen memiliki peran strategis dalam mendukung program imunisasi melalui pelaksanaan tridharma perguruan tinggi.
Menurutnya, melalui workshop ini para dosen diharapkan dapat meningkatkan pemahaman, pengetahuan, serta keterampilan terkait isu gender dalam program imunisasi.
“Para dosen diharapkan tidak hanya memahami konsep tersebut, tetapi juga mampu memberdayakan masyarakat melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat, membagikan pengetahuan kepada mahasiswa, serta mengembangkan isu gender dan imunisasi sebagai bagian dari kajian akademik,” jelas Karolus.
Ia menambahkan bahwa peran dosen sangat penting dalam mendukung keberhasilan program-program pemerintah, khususnya di bidang kesehatan dan imunisasi.
Pada hari pertama workshop, peserta mengikuti dua panel presentasi yang membahas kebijakan dan capaian program imunisasi di Provinsi NTT serta hasil penelitian terkait imunisasi dan pendekatan gender. Materi tersebut disampaikan oleh Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Provinsi NTT selaku penanggung jawab program imunisasi serta Dr. Aemilianus Mau.
Selain itu, peserta juga mengikuti beberapa sesi pembelajaran berbasis modul. Modul pertama membahas konsep dan definisi dasar persoalan gender dalam imunisasi yang disampaikan oleh Ignasensia D. Mirong, M.Kes.
Modul kedua mengangkat topik pelibatan laki-laki untuk kesehatan yang lebih baik oleh Dr. Aemilianus Mau. Sementara modul ketiga membahas peta perjalanan menuju kesehatan dan imunisasi yang disampaikan oleh dr. Alfian R. Munthe, MPH.
Pelatihan ini akan dilanjutkan pada hari kedua dengan pembahasan Modul 4 mengenai imunisasi rutin pada anak, Modul 5 tentang niat, kekuasaan, dan kontrol dalam pengambilan keputusan kesehatan, serta Modul 6 yang membahas pengalaman praktik dalam pelayanan imunisasi yang akan disampaikan oleh perwakilan Dinas Kesehatan.
Melalui workshop ini diharapkan para dosen dapat berperan sebagai agen perubahan dalam meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya imunisasi, sekaligus mendorong pendekatan yang lebih inklusif dan responsif gender guna meningkatkan cakupan imunisasi di Provinsi Nusa Tenggara Timur. (uge)
Ikuti Berita POS-KUPANG.COM Lainnya di GOOGLE NEWS
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/workshop-imunisasi.jpg)