Selasa, 2 Juni 2026

Internasional Terkini

Rusia Bombardir Ukraina dengan 8.150 Drone dan 211 Rudal

Rusia membombardir Ukraina dengan menggunakan 8.150 drone sepanjang Mei 2026. 

Tayang:
Editor: Alfons Nedabang
Libkos
Foto ilustrasi. Petugas pemadam kebakaran berjalan di dalam Katedral Transfigurasi Odesa Ukraina, yang rusak berat akibat serangan rudal Rusia di Odesa, Ukraina, Minggu 23 Juli 2023. 

POS-KUPANG.COM - Rusia bombardir Ukraina dengan menggunakan 8.150 drone sepanjang Mei 2026. 

Jumlah tersebut meningkat 24 persen dibandingkan jumlah serangan drone pada April. 

Rekor ini terungkap berdasarkan analisis kantor berita AFP terhadap data harian yang dirilis oleh Angkatan Udara Ukraina pada Senin (1/6/2026).

Selain ribuan drone, Rusia juga menembakkan 211 rudal selama Mei, yang menjadi angka bulanan tertinggi.

Termasuk di antaranya adalah serangan terparah dalam beberapa bulan terakhir, menghantam bangunan tempat tinggal di Ibu Kota Kyiv, bagian dari rentetan serangan dengan korban tewas mencapai 20-an orang. 

Moskwa juga tercatat mengerahkan rudal balistik nuklir terbarunya, Oreshnik, untuk kali ketiga selama invasi.

Baca juga: Menjelang Kesepakatan Damai, Militer Iran Tembak Drone Mata-mata Israel

Meski dihujani ribuan proyektil, sistem pertahanan udara Ukraina sebenarnya menunjukkan performa solid. Berdasarkan data militer, Ukraina berhasil mencegat sekitar 91 persen dari seluruh drone dan rudal Rusia yang masuk selama Mei. 

"Hal itu menunjukkan bagaimana Ukraina memelopori sistem untuk mencegat drone jarak jauh, tetapi masih sangat bergantung pada sekutu Barat untuk melawan rudal," tulis laporan tersebut. 

Kyiv memang membangun jaringan sistem pertahanan udara yang kuat di seluruh negeri untuk melumpuhkan sejumlah besar drone. 

Namun, untuk menghadapi serangan rudal Rusia, mereka masih sangat bergantung pada pasokan dari para sekutunya di Barat. 

Saat ini, para pejabat Ukraina berulang kali memperingatkan bahwa persediaan sistem anti-rudal dan amunisi mereka kian menipis. 

Kondisi ini diperparah oleh situasi geopolitik global, khususnya konflik di Timur Tengah. Perang yang pecah di wilayah tersebut memaksa Amerika Serikat (AS) menghabiskan sejumlah besar amunisi pertahanan udara demi melindungi lokasi-lokasi strategis di kawasan Teluk. 

Baca juga: Rusia Gempur Ukraina dengan 600 Drone dan 90 Rudal

Lonjakan serangan udara ini terjadi setelah gencatan senjata tiga hari pada bulan lalu sempat menumbuhkan harapan adanya proses perdamaian. 

Kendati demikian, harapan pupus setelah Kyiv dan Moskwa saling menuduh melakukan pelanggaran, dan justru meningkatkan intensitas serangan jarak jauh mereka. 

Di sisi lain, dinamika politik di AS turut memengaruhi peta konflik. Presiden AS Donald Trump tahun lalu sempat berjanji segera mengakhiri perang di Ukraina

Namun, pembicaraan damai tetap menemui jalan buntu karena Rusia dan Ukraina masih berselisih terkait tuntutan teritorial Rusia

Langkah diplomatik semakin terhambat setelah perhatian Washington terpecah dan beralih ke perang AS-Israel di Iran yang pecah sejak 28 Februari 2026. (*)

Sumber: Kompas.com

Ikuti berita POS-KUPANG.COM lain di GOOGLE NEWS

 

Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved