Nasional Terkini
Kisah Mahasiswa Timor Leste Telantar di Jawa Timur
Nicodemos mengakui bahwa ia tak sepenuhnya memahami mengapa beasiswanya dihentikan.
POS-KUPANG.COM, SURABAYA - Ruang pelayanan Kantor Dinas Sosial Provinsi Jawa Timur 29 April 2026 tampak berbeda dari biasanya. Seorang pemuda berusia 27 tahun duduk menunggu, wajahnya tampak lelah namun sedikit lega.
Namanya Nicodemos Da Costa. Ia bukan warga Jawa Timur, bukan pula warga Indonesia. Ia datang dari Comoro, sebuah kawasan di Timor Leste, negara kecil yang berbagi pulau dengan Nusa Tenggara Timur (NTT). Setelah hampir sebulan hidup tanpa kepastian, ia akhirnya akan pulang.
Kedatangan pejabat dari Konsulat Jenderal Timor Leste ke kantor Dinsos Jatim bukan sekadar kunjungan biasa. Ini adalah momen serah terima sebagai penanda bahwa sebuah kisah pahit seorang perantau muda akhirnya menemukan titik akhirnya.
Kepedulian Warga
Kisah ini sebenarnya dimulai bukan dari kantor pemerintah, melainkan dari kepedulian warga. Pada 26 April 2026, tim rescue Kota Batu menerima laporan dari perangkat Kelurahan Dadaprejo, Kecamatan Junrejo.
Seorang pria asing ditemukan dalam kondisi telantar di kawasan tersebut. Tak jelas asal-usulnya, tak jelas ke mana hendak pergi. Laporan itu segera ditindaklanjuti. Petugas turun ke lapangan, melakukan asesmen menyeluruh.
Mencari tahu siapa dia, bagaimana kondisi kesehatannya, apa yang ia butuhkan. Dari situ, perlahan-lahan terurai sebuah cerita yang menyentuh tentang mimpi yang kandas di negeri orang.
Menuntut Ilmu di Indonesia
Nicodemos sebenarnya bukanlah orang yang datang tanpa tujuan. Sekitar enam bulan sebelumnya, ia tiba di Indonesia bersama empat rekan sesama warga Timor Leste dengan satu tekad, yaitu menuntut ilmu.
Mereka masuk melalui jalur beasiswa ke Universitas Pekalongan, Jawa Tengah, dan Nicodemos mengambil program D4 Teknik Konstruksi, bidang keilmuan yang ia harapkan bisa mengangkat masa depannya.
Sayangnya, beasiswa yang ia terima hanya untuk enam bulan masa studi, dari September 2025 hingga Maret 2026. Ketika masa itu habis, habis pula kemampuannya untuk membayar biaya kuliah. Status mahasiswanya berakhir. Ia pun harus meninggalkan kampus.
Kepada petugas yang menemuinya pada Selasa pagi, 28 April 2026, Nicodemos mengakui bahwa ia tak sepenuhnya memahami mengapa beasiswanya dihentikan.
Penjelasan yang ia berikan pun tak cukup perinci untuk menggambarkan duduk persoalan sesungguhnya. Yang pasti, ketika pintu kampus tertutup, ia tak tahu harus ke mana.
Dengan kantong yang nyaris kosong, Nicodemos diantar seorang kawan menuju Malang menggunakan kereta api, satu-satunya perjalanan yang masih bisa dijangkau oleh sisa uangnya.
Hidup menggelandang di Malang
Setelah itu, ia benar-benar sendirian. Selama hampir satu bulan, pemuda itu hidup menggelandang di sudut-sudut Kota Malang. Tak ada tempat tinggal tetap, tak ada penghasilan, tak ada kejelasan. Ketika akhirnya ditemukan oleh tim rescue Kota Batu, kondisi tubuhnya pun mulai melemah sedang mengalami gangguan lambung yang cukup serius.
Sekretaris Dinas Sosial Jatim, Yusmanu SST, yang mewakili Kepala Dinsos Jatim Restu Novi Widiani menjelaskan, penanganan kasus ini merupakan bagian dari komitmen pemerintah untuk merespons setiap laporan terkait orang telantar secara cepat dan terukur.
"Begitu laporan masuk, kami langsung bergerak. Tidak peduli siapa orangnya atau dari mana asalnya selama ia membutuhkan perlindungan sosial, itu adalah tanggung jawab kami," ujar Yasmanus dikutip dari Kompas.com, Minggu (17/5/2026).
Setelah Nicodemos dibawa ke kantor Dinsos Jatim, ia mendapatkan perawatan medis, kebutuhan dasar, serta pendampingan.
Tim Pelayanan Pemulangan Orang Terlantar pun segera berkoordinasi lintas lembaga dengan menghubungi Dinsos Nusa Tenggara Timur sebagai jalur kepulangan awal, sekaligus menjalin komunikasi dengan Konsulat Jenderal Timor Leste di Bali.
“Saat ditemukan, kondisi kesehatannya juga menurun dan mengalami gangguan lambung atau maag sehingga membutuhkan perawatan serta pengobatan. Setelah itu, ia dibawa ke Dinsos Provinsi Jawa Timur untuk mendapatkan pelayanan kebutuhan dasar,” imbuhnya.
Semula, Dinsos Jatim sudah menyiapkan tiket kapal laut untuk memulangkan Nicodemos melalui jalur NTT.
Namun rencana itu berubah ketika pihak Konsulat Jenderal Timor Leste memutuskan untuk turun langsung menjemput warganya dan membawanya pulang ke tanah air.
Rabu sore di Kantor Dinsos Jatim itu pun menjadi momen yang sulit dilupakan. Proses serah terima berlangsung resmi namun penuh kehangatan.
Nicodemos, yang dua hari lalu masih tidur tanpa atap yang pasti, kini duduk di hadapan pejabat konsulatnya sendiri, siap untuk kembali ke pelukan keluarga dan tanah airnya.
Kasus Nicodemos menjadi pengingat bahwa di balik angka-angka statistik tentang orang telantar, selalu ada manusia dengan cerita nyata, tentang ambisi yang kandas, tentang kesendirian di negeri asing, dan tentang bagaimana sebuah sistem yang berjalan dengan baik bisa menjadi tangan yang mengulur pertolongan di saat yang paling dibutuhkan.
Kini, Nicodemos pulang. Bukan dengan cara yang ia bayangkan ketika pertama kali menginjakkan kaki di Indonesia enam bulan lalu. Tapi setidaknya, ia pulang. (kompas.com)
Ikuti berita POS-KUPANG.COM lainnya di GOOGLE NEWS
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Konsulat-Jenderal-Timor-Leste-di-kantor-Dinsos-Jatim-saat-proses-pemulangan-Nicodemos.jpg)