Jumat, 15 Mei 2026

Internasional Terkini

Lima Syarat Iran untuk Jaminan Minimum Lanjutkan Perundingan Damai  

Syarat itu ditetapkan Teheran untuk membangun kepercayaan sekaligus menjadi  "jaminan minimum"

Tayang:
Editor: Ryan Nong
kontan
Ilustrasi perundingan damai Iran dan Amerika Serikat di Pakistan 

POS-KUPANG.COM, TEHERAN - Iran kembali memberikan syarat untuk memulai putaran kedua perundingan damai dengan Amerika Serikat (AS). Syarat itu ditetapkan Teheran untuk membangun kepercayaan sekaligus menjadi  "jaminan minimum" yang diperlukan untuk memulai negosiasi baru dengan AS.

Mengutip TASS, Kamis (14/5/2026), disampaikan oleh kantor berita Iran, Fars News Agency, lima syarat yang ditetapkan Teheran itu mencakup "mengakhiri perang di semua front, terutama Lebanon", mencabut sanksi-sanksi, melepaskan aset-aset Iran yang dibekukan, memberikan kompensasi atas kerusakan perang, dan mengakui hak kedaulatan Iran atas Selat Hormuz.

Baca juga: PM Israel Benyamin Netanyahu Sebut Perang Lawan Iran Belum Berakhir

Iran, sebut sumber yang dikutip Fars News Agency, juga memberi tahu mediator Pakistan bahwa blokade laut AS yang terus berlanjut di Laut Arab dan Teluk Oman setelah gencatan senjata diberlakukan, telah semakin memperkuat rasa tidak percaya Teheran terhadap negosiasi dengan Washington.

Ditambahkan oleh Fars News Agency dalam laporannya bahwa syarat-syarat Iran tersebut didefinisikan semata-mata dalam kerangka menciptakan kepercayaan minimum untuk kembali ke perundingan, dan bahwa Teheran meyakini negosiasi baru tidak dapat dimulai tanpa implementasi praktis syarat-syarat tersebut.

Menurut Fars News Agency, Iran telah mengajukan lima syarat tersebut dalam proposal balasan menanggapi rencana perdamaian 14 poin yang terlebih dulu diajukan oleh AS, dalam upaya mengakhiri perang.

Rincian rencana perdamaian yang diusulkan Washington itu tidak secara gamblang diungkap ke publik. Namun laporan Fars News Agency menyebut proposal itu "sepenuhnya sepihak" dan bertujuan untuk mengamankan tujuan-tujuan perang AS yang gagal melalui negosiasi.

Laporan sejumlah media sebelumnya menyebutkan bahwa proposal Washington itu melibatkan nota kesepahaman satu halaman yang dimaksudkan mengakhiri pertempuran dan menetapkan kerangka kerja untuk negosiasi tentang program nuklir Iran.

Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump menolak proposal balasan Iran, yang disebutnya sebagai proposal "bodoh" dan "sampah". Trump juga menyebut gencatan senjata AS-Iran yang diberlakukan sejak awal April dalam "kondisi kritis".

Pemerintah Iran, pada Selasa (12/5), menolak gagasan untuk mengubah proposalnya. Perunding utama Teheran, Mohammad Bagher Ghalibaf, justru mengeluarkan ultimatum kepada AS bahwa "tidak ada alternatif lainnya" selain menerima syarat yang diajukan Iran untuk perdamaian Timur Tengah, atau menghadapi "kegagalan". (*)

 

 

Ikuti berita POS-KUPANG.COM lainnya di GOOGLE NEWS

 

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved