Minggu, 26 April 2026

Nasional Terkini 

Apa Dampak Konflik Timur Tengah ke Pasokan Energi RI?

Anggota DEN Septian Hario Seto mengatakan, pemerintah akan memantau perkembangan di Timur Tengah selama sepekan

Editor: Ryan Nong
ILUSTRASI/(Official President website/REUTERS) via KONTAN.OD.ID
ILUSTRASI. Sistem pertahanan udara Bavar-373 milik Iran. Saat ini ketegangan di Timur Tengah kian memanas. 

POS-KUPANG.COM, JAKARTA - Konflik Timur Tengah antara Iran melawan AS dan Israel kian memanas. Dewan Ekonomi Nasional (DEN) memastikan terus mencermati dampak konflik terhadap harga dan pasokan energi dalam negeri, terutama terkait minyak mentah. 

Anggota DEN Septian Hario Seto mengatakan, pemerintah akan memantau perkembangan di Timur Tengah selama sepekan ke depan. Hal ini untuk mengetahui sejauh mana eskalasi konflik antara Amerika Serikat (AS)-Israel dan Iran.

"Kita harus lihat dalam beberapa minggu ke depan, terutama seminggu ke depan ini, bagaimana eskalasinya di sana. Kalau ini bisa selesai cepat, seharusnya dampak ke sektor energinya mungkin akan limited," ujar Seto dikutip dari Kompas, Senin (2/3/2026).

Baca juga: Mantan Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad Tewas dalam Serangan Udara Israel-Amerika Serikat

Saat ini harga minyak mentah berjangka Brent berada di level 78,57 dollar AS per barrel, setelah pada pagi tadi sempat menyentuh level 82,37 dollar AS per barrel.

Angka itu jauh di atas asumsi APBN 2026 di mana harga minyak mentah Indonesia (ICP) dipatok 70 dollar AS per barrel.

Menurut Seto, jika tidak ada eskalasi perang lanjutan, maka dampak perang tersebut tidak akan memukul terlalu berat, meski harga minyak mentah sudah mengalami kenaikan.

"Jadi kalau ini bisa selesai cepat, mungkin naiknya enggak akan tinggi lagi. Tapi kalau ini berlarut-larut, itu yang dikhawatirkan. Itu yang mungkin akan membuat kondisinya bisa lebih uncertain dan volatilitas, harga di energinya bisa akan lebih tinggi," jelas dia.

Ia menuturkan, setiap negara yang mengimpor minyak mentah akan merasakan dampak eskalasi perang, terlebih jika penutupan Selat Hormuz dilakukan dalam waktu yang lebih lama.

"Secara umum, saya kira dampaknya adalah transmisinya itu akan mungkin dilihat nanti dari harga energi. Jadi itu yang mungkin akan mempengaruhi kondisinya banyak negara, terutama yang impor minyak," katanya.

Indonesia sendiri menjadi salah satu negara yang cukup banyak mengimpor minyak mentah. Maka dari itu, pemerintah akan terus memantau seberapa besar dampak konflik tersebut terhadap kondisi dalam negeri.

Seto bilang, pemerintah pada dasarnya sudah mulai mengurangi ketergantungan akan impor energi. Misalnya dengan strategi pengembangan biodiesel yang mengoptimalkan sumber daya alam dalam negeri sebagai bahan bakar.

"Kalau kita lihat strateginya Bapak Presiden, dari awal kita sudah coba mengurangi dependensi terhadap impor. Salah satunya biodiesel, kebijakan dan segala macam. Saya kira itu sudah satu langkah mitigasi. Jadi kita coba kurangi dependensi terhadap minyaknya," pungkas Seto. (*)

 

Ikuti berita terbaru POS-KUPANG.COM di GOOGLE NEWS

 

Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved