Minggu, 12 April 2026

Berita NTT

Tenun NTT Sarat Makna, Doa dan Harapan Ibu

NTT yang dikenal dengan tenunan tentu menjadi salah satu fokus utama Joe, sapaan akrabnya. Mayoritas penenun adalah ibu-ibu

Penulis: Agustina Yulian Tasino Dhema | Editor: Eflin Rote
POS-KUPANG.COM/ASTI DHEMA
Mama Meri, seorang penenun asal So'E, TTS, NTT menenun saat IFFT 2024 di Kopi In Town Pasar Pagi Mangga Dua, Jakarta Utara pada Sabtu, 29 Juni 2024. 

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Asti Dhema

POS-KUPANG.COM, JAKARTA –  Bagi Joemarni Fare, apa yang didapatnya selama puluhan tahun di Jakarta bisa kembali kepada anak-anak di daerah kelahirannya.

Pengalaman terjun langsung ke lapangan membuatnya turut merasakan apa yang dirasakan masyarakat di daerah pelosok Nusa Tenggara Timur (NTT) yang masih sangat memerlukan ide-ide kreatif dengan segala fasilitas serba ada di ibu kota.

NTT yang dikenal dengan tenunan tentu menjadi salah satu fokus utama Joe, sapaan akrabnya. Mayoritas penenun adalah ibu-ibu. Dengan tangan terampil ibu-ibu ini bisa menghasilkan motif-motif unik yang harusnya diapresiasi.

Namun kebanyakan hasil tenunan mereka ini hanya digunakan sendiri karena sulitnya sarana promosi ke dunia luar. Minimnya akses transportasi dan informasi menjadi kendala utama untuk memasarkan hasil kerja keras mereka.

Meski demikian kondisi ini tak meredupkan semangat dan idealisme ibu-ibu ini untuk terus menenun sebagai salah satu mata pencarian mereka. Bagaimana kain tenun diterima dan dinilai dengan baik oleh pengguna fashion. Pemikiran-pemikiran ini menjadi awal dirinya mulai melirik wastra khususnya tenun NTT.

"Karena kecintaan ibu saya pada kain tenun dan kerinduan saya yang amat mendalam kepada orang tua saya di Nusa Tenggara Timur luar biasa sekali," ungkap Joemarni pada Sabtu, 29 Juni 2024.

Pada umumnya, mata pencaharian masyarakat di NTT adalah bertani dan beternak. Dulunya kain tenun hanya digunakan sendiri khusus saat upacara adat namun saat ini menenun menjadi mata pencaharian yang bisa menghidupkan keluarga bahkan berhasil menyekolahkan anak-anak mereka hingga sarjana. Saat dirinya duduk di bangku sekolah dasar, sang almarhumah mamanya salah seorang pecinta tenun. Sang almarhumah mengoleksi kain-kain tenun motif bunga lotis, dan futus (ikat).

Di balik motif-motif ini, Joe paham ternyata proses membuat tenun itu sangat panjang dan diiringi dengan doa ibu-ibu. Saat suami mereka berkebun atau beternak, para ibu di rumah menenun dan berdoa agar menenun dapat di dijadikan mata pencaharian. Kain NTT memang sarat makna, doa, dan keberlanjutan dari seni tenun itu sendiri.

Lahir di kota kecil yang jaraknya sekitar 200 km dari pusat ibu kota Provinsi NTT membuatnya sulit mengakses informasi. Saat itu ia hanya bisa mendapatkan informasi dari majalah, radio dan media massa lainnya. Untuk saat ini akses informasi di NTT sudah sangat mendukung karena sudah banyak provider jaringan internet yang dikhususkan untuk meng-cover area indonesia Timur terutama di NTT.

Kendati demikian, menurut Joe untuk saat ini anak-anak di NTT di bagian kota memang sudah full access informasi dan sangat kreatif tetapi berbanding terbalik dengan kondisi anak-anak di desa. 

“Kebetulan kemarin saya sempat datang ke Fatukopa. Anak-anaknya itu masih banyak yang harus kita lakukan yang penuh fasilitas di Jakarta. Untuk penenun sendiri sangat banyak namun untuk sekali menenun sehelai kain bisa menelan waktu 6 bulan. Jadi untuk supply-nya aja kita memang kesulitan, padahal kalau dikembangkan lagi oleh pemerintah setempat pasti akan sangat luar biasa dan kita sampai ke luar negeri,” lanjutnya.

Khusus ibu-ibu penenun di TTS masih banyak penenun menggunakan cara tradisonal misalnya mereka menenun tidak menggunakan alat tenun yang dilengkapi pegangan bingkai tetapi dengan menggantungkan dan menjepit benang tenunan pada pintu.

Padahal menggunakan alat tenun yang proper bisa meringankan mereka menenun tanpa mengurangi estetika dan nilai tenun

Untuk menghasilkan warna yang baik, ibu-ibu penenun menggunakan buah mengkudu dan kulit kayu yang diolah menjadi pewarna alami. Saat ini, pendatang dari Bugis yang biasanya mata pencaharian mereka kebanyakan pedagang. Sehingga terjadi akulturasi budaya, para pedagang menjual benang kepada para penenun.  Wastra bukan bukan hanya batik, tenun bukan hanya fashion tetapi benar-benar syarat makna.

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved