Renungan Harian Kristen
Renungan Harian Kristen Rabu 26 Juni 2024, "Hidup Dalam Proses Tanpa Protes Supaya Progres"
Maka dapatlah di mengerti bahwa saat kita membaca kitab Yeremia maka kita akan menemukan kitab itu penuh dengan kesuraman dan firasat buruk.
Oleh: Yohana Penina Zefanya Ribka
(Mahasiswa Pascasarjana UKAW Kupang)
Yeremia 18:1-17
Bila di lihat dari pembacaan firman Tuhan pada pasal ini, secara Tema besar penulisan kitab Yeremia menggambarkan mengenai hukuman Allah yang tidak terelakkan bagi Yehuda yang tidak bertobat dan hukuman itu memiliki kepastian, dan dibalik hukuman itu kasih Allah yang kekal juga berlaku atas bangsa itu apabila mereka memilih berbalik kepada Allah dan hidup dalam pertobatan.
Kunci dari seluruh pembacaan firman Tuhan hari ini adalah mengenai Peringatan. Dari latar belakang penulisan kitab Yeremia, kita akan menemukan bahwa pelayanan nabi Yeremia di arahkan kepada kerajaan selatan Yehuda, sepanjang 40 tahun terakhir dari sejarahnya (626-586 SM). Yeremia masih hidup untuk menyaksikan serbuan Babel ke Yehuda yang berakhir dengan kebinasaan Yerusalem dan bait suci.
Karena tugas Yeremia ialah bernubuat kepada bangsa itu selama tahun-tahun akhir dari kemunduran dan kejatuhannya. Maka dapatlah di mengerti bahwa saat kita membaca kitab Yeremia maka kita akan menemukan kitab itu penuh dengan kesuraman dan firasat buruk.
Yeremia, putra seorang imam, lahir dan dibesarkan di Anatot, desa para imam (6 km di timur laut dari Yerusalem) selama pemerintahan Raja Manasye yang jahat. Yeremia memulai pelayanan sebagai nabi pada tahun ke-13 pemerintahan Raja Yosia yang baik, dan ia ikut mendukung gerakan pembaharuan Yosia.
Akan tetapi, ia segera menyadari bahwa gerakan itu tidak menghasilkan perubahan yang sungguh-sungguh dalam hati bangsa itu; Yeremia mengingatkan bahwa jika tidak ada pertobatan nasional sejati, maka hukuman dan pemusnahan akan datang dengan tiba-tiba.
Pada tahun 612 SM, Asyur dikalahkan oleh suatu koalisi Babel. Sekitar empat tahun setelah kematian Raja Yosia, Mesir dikalahkan oleh Babel pada pertempuran di Karkemis (605 SM; lih. Yer 46:2).
Pada tahun yang sama pasukan Babel di bawah pimpinan Nebukadnezar menyerang Palestina, merebut Yerusalem dan membawa sebagian pemuda pilihan dari Yerusalem ke Babel, di antara mereka terdapat Daniel dan ketiga sahabatnya.
Penyerbuan kedua ke Yerusalem terjadi tahun 597 SM; ketika itu dibawa 10.000 orang tawanan ke Babel, di antaranya terdapat Yehezkiel. Selama ini nubuat Yeremia yang memperingatkan tentang hukuman Allah yang mendatang tidak diperhatikan. Kehancuran terakhir menimpa Yerusalem, Bait Suci, dan seluruh kerajaan Yehuda dalam tahun 586 SM.
Kitab nubuat ini menunjukkan bahwa Yeremia, sering kali disebut "nabi peratap," merupakan seorang yang membawa amanat keras namun berhati lembut dan hancur (mis. Yer 8:21--9:1). Sifatnya yang lembut itu menjadikan penderitaannya makin mendalam ketika firman nubuat Allah ditolak dengan angkuh oleh kerabat dan sahabat, imam dan raja, dan sebagian besar bangsa Yehuda.
Walaupun sepi dan ditolak seumur hidupnya, Yeremia termasuk nabi yang paling tegas dan berani. Kendatipun berhadapan dengan perlawanan yang berat, dengan setia ia melaksanakan panggilannya sebagai nabi untuk memperingatkan sesama warga Yehuda bahwa hukuman Allah makin dekat.
Ketika merangkum kehidupan Yeremia, seorang penulis mengatakan: "Tidak pernah manusia fana memperoleh beban yang begitu meremukkan. Sepanjang sejarah bangsa Yahudi tidak pernah ada teladan kesungguhan yang begitu mendalam, penderitaan tak henti-hentinya, pemberitaan amanat Allah tanpa takut, dan syafaat tanpa kenal lelah dari seorang nabi seperti halnya Yeremia. Tetapi tragedi kehidupannya ialah: bahwa ia berkhotbah kepada telinga yang tuli dan menuai hanya kebencian sebagai balasan kasihnya kepada orang-orang senegerinya" (Farley).
Penulis kitab ini jelas disebut yaitu Yeremia (Yer 1:1). Setelah bernubuat selama 20 tahun di Yehuda, Yeremia diperintahkan Allah untuk menuangkan amanatnya dalam bentuk tertulis; hal ini dilakukannya dengan mendiktekan nubuat-nubuatnya kepada Barukh, juru tulisnya yang setia (Yer 36:1-4). Karena Yeremia dilarang menghadap raja, Barukh diutus untuk membacakan nubuat-nubuat itu di rumah Tuhan, dan setelah itu Yehudi membacakannya kepada Raja Yoyakim.
Raja itu menunjukkan sikap menghina kepada Yeremia dan firman Allah dengan menyobek-nyobek kitab gulungan itu dengan pisau lalu melemparkannya ke dalam api (Yer 36:22-23).
Yeremia kemudian mendiktekan kembali nubuat-nubuatnya kepada Barukh, kali ini ia mencantumkan lebih banyak daripada di gulungan pertama. Kemungkinan besar, Barukh menyusun kitab Yeremia dalam bentuk terakhirnya segera sesudah wafatnya Yeremia (+585 - 580 SM).
| Renungan Harian Kristen 1 Januari 2026, Menjalani Tahun Anugerah dalam Sukacita & Damai Sejahtera |
|
|---|
| Renungan Harian Kristen Rabu 31 Desember 2025, TUHAN Pelindung Kita |
|
|---|
| Renungan Harian Kristen Selasa 30 Desember 2025, TUHAN Tempat Perteduhan Kita |
|
|---|
| Renungan Harian Kristen Senin 29 Desember 2025, Kasih yang Merampas dari Dosa |
|
|---|
| Renungan Harian Kristen Minggu 28 Desember 2025, Membarui Iman, Memperkuatkan Persekutuan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Yohana-Penina-Zefanya-Ribka-Mahasiswa-Pascasarjana-UKAW-Kupang.jpg)