Mengintip Pesawat Capres Cawapres
JK Sematkan Nama Ibunda di Pesawat Pribadinya
Ada yang menyewa dan ada juga yang menggunakan pesawat pribadi.
GELIAT capres-cawapres untuk mereguk dukungan dari belahan Nusantara yang begitu luas, memaksa mereka harus menggunakan pesawat terbang non komersial. Ada yang menyewa dan ada juga yang menggunakan pesawat pribadi.
Tribunnews berkesempatan mengikuti penerbangan non komersial bersama dua capres yakni Joko Widodo dan Prabowo Subianto serta cawapres M Jusuf Kalla. Untuk Prabowo dan Jokowi, keduanya menyewa pesawat. Sedangkan Jusuf Kalla menggunakan pesawat pribadi bernama Athirah.
Penerbangan bersama Jusuf Kalla (JK) dengan pesawat pribadi jenis jet BAe 146 - 200 tersebut dilakukan Tribun sejak 28-30 Mei lalu. JK terbang ke Bandung lalu Makassar yang tak lain kampung halamannya dan kembali lagi ke Jakarta. .
Hampir di setiap acara galang dukungan pada Pilpres kali ini, JK selalu mengajak sang istri tercinta, Mufidah Kalla. Tak ketinggalan pula sejumlah anggota Pasukan Pengaman Presiden (Paspampres), hingga sejumlah staf pribadi dan kolega politik ikut bersama di pesawat JK tersebut.
Untuk terbang ke tiga propinsi dalam waktu yang berdekatan, JK bersama rombongan yang berjumlah sekitar 50 orang dengan menggunakan pesawat, BAe 146 - 200 bernomor lambung PK - JKW yang diberi nama Athirah, nama ibunda JK.
Begitu memasuki pesawat yang telah dimodifikasi dengan kapasitas 64 orang, kabin terasa lega.
Dari pintu depan, penumpang akan masuk ke dalam bagian pesawat yang terdapat dapur, toilet, pintu masuk kokpit dan dua kursi lipat untuk pramugari. Di tempat itu juga para penumpang disambut oleh senyum ramah pramugari.
Di kabin bagian depan terdapat12 bangku, yang terbagi dalam tiga deret di sisi kiri dan kanan lorong. Bangku deret pertama dan kedua dari depan posisinya berhadapan, sedangkan bangku deret ke tiga menghadap bagian belakang bangku deret kedua. Bangku yang ada di kabin tersebut tampak cukup nyaman dengan balutan busa yang cukup tebal dan empuk.
Di antara bangku deret pertama dan kedua, terdapat meja berukuran sekitar satu meter. Di meja itu setiap pesawat hendak terbang selalu tersedia buket berisi bunga, piring kecil berisi camilan seperti permen dan cokelat, serta sejumlah koran dan majalah terbaru.
JK biasanya duduk di deret kedua sebelah kanan, di kursi yang terdapat di sisi lorong, sedangkan istri JK, Mufidah duduk disebelah JK. Di kabin itu juga kerabat serta kolega politik JK duduk.
Di ujung kabin bagian depan terdapat tempat penyimpanan barang, yang biasa digunakan untuk menyimpan koper JK dan penumpang di kabin bagian depan. Tempat penyimpanan itu berada di sisi kiri dan kanan lorong. Bentuknya hanya merupakan ruang kosong dengan dinding di sisi kiri dan kanannya, lebarnya hanya sekitar satu meter, dan tingginya setinggi kabin pesawat. Tempat penyimpanan itu memisahkan kabin bagian depan dan kabin bagian belakang.
Di kabin belakang terdapat 52 kursi. Di tujuh deret pertama masing-masing di sisi kiri dan kanan lorong terdapat tiga kursi. Di sisi ke delapan di sisi kanan pesawat terdapat dua bangku, dan di sisi kirinya terdapat tiga bangku, sedangkan di deret ke sembilan masing-masing terdapat dua bangku.
Di kabin tersebut kursinya sama seperti kursi di pesawat komersil kelas ekonomi, hanya ada fasilitas pengaturan sandaran, dan meja yang menempel di bagian belakang sandaran. Namun demikian pengaturan kursi tersebut cukup nyaman karena jaraknya tidak begitu dekat antara deret satu dan lainnya. Penumpang masih diberikan ruang kaki yang cukup luas.
Di deret pertama dan kedua diisi oleh anggota Paspampres yang siap mengamankan JK dan keluarganya. Di bagian tengah di isi oleh staf JK. Kemudian selanjutnya ditempati para wartawan yang biasa diajak JK meliput. Sedangkan di kursi bagian belakang diisi oleh teknisi pesawat dan pramugari. Di ujung kabin terdapat bagian pesawat yang berisi dapur, toilet dan pintu keluar bagian belakang.
Sejak Pilpres 2009
Pesawat buatan British Aerospace pada tahun 1996 itu harganya bisa mencapai 11 tuta dolar AS. Pesawat tersebut dibeli menjelang pemilihan presiden 2009 lalu. Ketika itu JK maju sebagai capres yang berduet dengan Wiranto. Pada 2009 lalu selama masa kampanye JK - Wiranto dan sejumlah anggota tim pemenangannya berkeliling Indonesia dengan pesawat tersebut.
Berdasarkan informasi yang diperoleh Tribun dari berbagai situs aviasi, diketahui pesawat itu panjangnya mencapai 28,6 meter, dengan lebar bentangan sayap mencapai 26,21 meter, dan tinggi 8,59 meter. Berat kosong pesawat itu 23,897 ton, berat maksimal yang bisa mengakut beban sekitar 21 ton. Pesawat itu dilengkapi dengan empat buah turbofan, yang bisa membawa pesawat tersebut pada kecepatan 801 kilometer perjam pada ketinggian 8,840 meter di atas permukaan laut.
Pesawat yang dibuat untuk Short Take Off Landing (STOL) atau landasan pendek itu dipercayakan JK ke Nusantara Air Charter (NAC), yang menyediakan garasi, kru dan perawatan.
Pesawat tersebut lebih sering digunakan JK untuk penerbangan dalam negeri, untuk urusan keluarga, bisnis maupun urusan politik.
Salah satu penerbangan terjauh yang pernah ditempuh pesawat itu adalah penerbangan ke Myanmar pada Agustus 2012 lalu, saat JK sebagai Ketua
Umum Palang Merah Indonesia (PMI) memberikan bantuan untuk muslim Rohingya.
Sedangkan pesawat yang sering digunakan untuk berpergian ke luar negri, JK menggunakan pesawat Challenger buatan Bombardier yang hanya bisa menampung sekitar 9 penumpang.
Pesawat Athirah yang kini menjadi tunggangan JK bersama rombongan untuk berkampanye Pilpres 2014 nanti, dari luar sekilas nampak kurang mulus.
Pada beberapa bagian tampak cat putih yang melapisi pesawat sudah mulai retak. Selain itu plastik pelindung jendela juga tampak lecet. Namun pesawat itu masih bisa mendarat dengan sangat mulus di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, setelah dua jam perjalanan. (tribunnews/nurmulia rekso purnomo)