Rabu, 10 Juni 2026

Opini

Opini: Air, Stunting, dan Rintihan Ekologi NTT

Melalui ajaran tentang "Ekologi Integral", Laudato Si’ menegaskan bahwa segala sesuatu di atas bumi ini saling terhubung. 

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI AGUSTINUS B. MUDE
Agustinus Bili Mude 

Sulitnya akses air bersih memicu masalah sanitasi yang buruk, serta penyakit pencernaan kronis pada balita. 

Hal inilah yang menjadi motor utama di balik masih tingginya angka stunting di wilayah tersebut.

​Berdasarkan data SSGI 2024, prevalensi stunting di Provinsi NTT sempat berada di angka 37 persen. 

Kini, di tahun 2026, pemerintah daerah sedang berjuang menurunkan angka tersebut menuju target 30,70 persen pada tahun 2027. 

Namun, di balik angka statistik tersebut, terdapat realitas riil di lapangan. 

Baca juga: Ramalan Zodiak Keuangan Besok 10 Juni 2026, Capricorn dan Aquarius Rugi, 7 Zodiak Sulit Uang

Khususnya di Kabupaten Timor Tengah Selatan, akses air bersih yang belum memadai tetap menjadi penghambat utama. 

Inilah manifestasi nyata dari ketidakadilan kosmos yang merenggut masa depan generasi kita.

​Herakleitos mengingatkan bahwa alam memiliki daya koreksi murni. Bencana kekeringan panjang, gagal tanam, dan kemiskinan ekstrem struktural di NTT bukanlah takdir. 

Semua itu adalah reaksi alamiah kosmos yang sedang mempertahankan dirinya dari eksploitasi yang melampaui batas. Oleh karena itu, Laudato Si’ menawarkan satu-satunya jalan keluar yang logis, yaitu sebuah " Pertobatan Ekologis".

​Lantas, apa solusi nyata dalam menghadapi masalah ini? Pertobatan ekologis tidak boleh berhenti pada retorika di atas kertas. 

Pertama, Pemerintah Provinsi NTT harus menghentikan izin pembukaan lahan di area tangkapan air (catchment area). 

Pemerintah juga wajib mendorong setiap kabupaten untuk melakukan pemetaan, serta pemagaran ketat terhadap mata air sebagai aset strategis daerah. 

Kedua, kita memerlukan sinkronisasi kebijakan antara dinas kesehatan dan dinas lingkungan hidup. Masalah stunting tidak bisa hanya diatasi dengan pemberian makanan tambahan. 

Langkah ini harus dimulai dengan memastikan akses air bersih yang higienis melalui restorasi ekologi. 

Ketiga, kita harus mengaktifkan kembali kearifan lokal dalam menjaga hutan dan sumber air. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 2/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved