Opini
Opini: Kekerasan Terhadap Perempuan
Propaganda kapitalis, tambah doktrinasi budaya yang kaku, menyebabkan perempuan tidak bebas secara politis.
Tentu praktik semacam ini menjadi hambatan kemajuan bagi sistem demokrasi yang menjunjung tinggi kesetaraan.
Gerakan Feminisme
Gerakan perlawanan perempuan terhadap praktik budaya patriarki, ingin supaya ada kesetaraan dan hak yang sama antara laki-laki dan perempuan.
Kaum femini menginginkan bahwa negara harus membuka akses bagi kaum perempuan untuk berpartisipasi dalam dunia politik, ekonomi, dan pendidikan.
Legitimasi budaya, adat, dan agama harus merevisi terkait ajaran yang memojokkan posisi kaum feminis.
Apabila doktrinasi yang memasung perempuan tidak dikritik, maka utopia terkait kesetaraan gender tidak mungkin ada.
Semisal gerakan feminisme liberal, memperjuangkan hak-hak perempuan seperti hak perempuan untuk mengakses dunia politik, berkarir, menentukan pilihan, dan kebebasan berpendapat (Saidul Amin, 2015: 80)
Di Indonesia muncul tokoh feminis yang berani bersuara untuk kesetaraan dalam mengakses dunia pendidikan. Tokoh feminis asal Indonesia itu bernama Raden Ajeng Kartini.
Penulis memasukan tokoh ini sebagai tokoh perempuan Indonesia yang terkenal, bahkan di lain sisi, Kartini hidup dalam budaya patriarki yang sangat ketat.
Perlawanan Kartini terhadap larangan bagi kaum perempuan untuk akses ke dunia pendidikan, tentu suatu perlawanan menjadi contoh bahkan patut dikenang sepanjang masa (Tia Amanda Pratiwi dan Hudaidah, Vol. 3, 2021: 562-568).
Perlawanan para feminis Indonesia bertujuan supaya perempuan tidak bergantung sepenuhnya kepada laki-laki. Artinya kemerdekaan bagi perempuan.
Selain itu, feminis memiliki kekuasaan penuh terhadap hidup mereka. Gerakan feminis dan ajaran feminisme sebagai gerakan untuk kemerdekaan atas hidup.
Artinya, instansi atau lembaga apapun itu, perlu menghormati eksistensi kaum feminis.
Kehadiran negara sangat membantu untuk mencegah disparitas apik agar aspirasi kaum feminis terkoordinasi secara baik. Kehadiran negara membela kaum feminis cerminan bagi negara yang demokrasi. (*)
Simak terus berita POS-KUPANG.COM di Google News
Aurelius Savio
teologi Feminis
Feminis Humanis
feminis
Meaningful
IFTK Ledalero
kekerasan terhadap perempuan
| Opini: Veronika! Su Nonton Film Pesta Babi Ko? |
|
|---|
| Opini: Memandang Penderitaan sebagai Doa dalam Terang Teologi Salib Edith Stein |
|
|---|
| Opini: Menakar Krisis Iklim Kemarau Ekstrem dan Gejolak Vulkanik Lewotobi Laki-laki |
|
|---|
| Opini: Amfoang yang Terlupakan- Saat BBM Langka, Jalan Rusak dan Faskes Menjadi Pajangan |
|
|---|
| Opini: Absurdistas Hukum di Negeri Konoha |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Aurelius-Savio.jpg)