Minggu, 24 Mei 2026

Opini

Opini: Kekerasan Terhadap Perempuan

Propaganda kapitalis, tambah doktrinasi budaya yang kaku, menyebabkan perempuan tidak bebas secara politis. 

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI AURELIUS SAVIO
Aurelius Savio 

Tentu praktik semacam ini menjadi hambatan kemajuan bagi sistem demokrasi yang menjunjung tinggi kesetaraan.
 
Gerakan Feminisme

Gerakan perlawanan perempuan terhadap praktik budaya patriarki, ingin supaya ada kesetaraan dan hak yang sama antara laki-laki dan perempuan. 

Kaum femini  menginginkan bahwa negara harus membuka akses bagi kaum perempuan untuk berpartisipasi dalam dunia politik, ekonomi, dan pendidikan. 

Legitimasi budaya, adat, dan agama harus merevisi terkait ajaran yang memojokkan posisi kaum feminis

Apabila doktrinasi yang memasung perempuan tidak dikritik, maka utopia terkait kesetaraan gender tidak mungkin ada. 

Semisal gerakan feminisme liberal, memperjuangkan hak-hak perempuan seperti hak perempuan untuk mengakses dunia politik, berkarir, menentukan pilihan, dan kebebasan berpendapat (Saidul Amin, 2015: 80)

Di Indonesia muncul tokoh feminis yang berani bersuara untuk kesetaraan dalam mengakses dunia pendidikan. Tokoh feminis asal Indonesia itu bernama Raden Ajeng Kartini. 

Penulis memasukan tokoh ini sebagai tokoh perempuan Indonesia yang terkenal, bahkan di lain sisi, Kartini hidup dalam budaya patriarki yang sangat ketat. 

Perlawanan Kartini terhadap larangan bagi kaum perempuan untuk akses ke dunia pendidikan, tentu suatu perlawanan menjadi contoh bahkan patut dikenang sepanjang masa (Tia Amanda Pratiwi dan Hudaidah, Vol. 3, 2021: 562-568).

Perlawanan para feminis Indonesia bertujuan supaya perempuan tidak bergantung sepenuhnya kepada laki-laki. Artinya kemerdekaan bagi perempuan. 

Selain itu, feminis memiliki kekuasaan penuh terhadap hidup mereka. Gerakan feminis dan ajaran feminisme sebagai gerakan untuk kemerdekaan atas hidup. 

Artinya, instansi atau lembaga apapun itu, perlu menghormati eksistensi kaum feminis

Kehadiran negara sangat membantu untuk mencegah disparitas apik agar aspirasi kaum feminis  terkoordinasi secara baik. Kehadiran negara membela kaum feminis cerminan bagi negara yang demokrasi. (*)

Simak terus berita POS-KUPANG.COM di Google News 

 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 3/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved