Berita NTT

Pengungsi Afghanistan Minta Bantuan Rudenim Kupang, Diancam Blacklist ke Negara Ketiga

Penulis: novemy
Editor: Kanis Jehola
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Perwakilan pengungsi Afghanistan di Kupang, Asif, Mustafa dan Rahimi saat berdialog dengan Kepala Rudenim Kupang, Heksa Asyik Soepriadi dan Kasi Kamtib, Melsy Fanggi dan Kasubag Tata Usaha, Matias Horo, Kamis (14/10/2021).

POS-KUPANG.COM, KUPANG- "Kami datang kesini minta bantuan, karena ibu Melsy sudah tahu, lama kami tinggal disini, banyak orang sudah kabur, lari ke Jakarta, banyak pengungsi sudah bunuh diri, ada yang sakit jiwa. Kami mau didengar oleh Imigrasi Indonesia, tanpa kalian kami akan dilupa."

Kalimat ini disampaikan perwakilan pengungsi Afghanistan di Kupang yakni Mustafa, Asif dan Rahimi kepada Kepala Rudenim Kupang, Heksa Asik Soepriadi, S.H, kepala   Seksi Keamanan dan Ketertiban, Melsy Fanggi dan Kasubag Tata Usaha, Matias Horo, Kamis (14/10/2021).  Hari itu ketiganya datang ke Kantor Rudenim Kupang bersama ratusan pengungsi lainnya.

Dalam aksi damai itu, mereka membawa aspirasi yang mereka tulis di sejumlah kertas kartun dan banner besar bertuliskan We Hope Our cry for freedom could be heard by third resettelemnt countries. Please help afghan refugees in Indonesia.”

Mereka datang ke Kanor Rudemin sejak pukul 10.00 Wita dan melakukan orasi di halaman depan kantor Rudenim. Sambil berjajar rapi, mengenakan masker, mereka menyampaikan keinginan untuk diresettlemen. Pada pukul 11.30 Kepala Rudenim Kupang mengijinkan tiga perwakilan pengungsi untuk bertemu dengannya.

Baca juga: Aksi Damai Ke Rudenim Kupang, Pengungsi Afghanistan Diblacklist, UNHCR Bilang Begini

Menurut Mustafa, kedatangan mereka untuk meminta bantuan pihak imigrasi dan rudenim agar bisa memediasi pertemuan mereka dengan UNHCR dan IOM. Mereka ingin bisa cepat dipindahkan atau proses resettlemen ke negara ketiga karena mereka sudah berada di Kupang ini hingga 9 tahun. Sebelumnya mereka juga melakukan aksi damai di Kantor IOM Kupang.

Terhadap permintaan itu Kepala Rudenim Kupang, Heksa Asik Soepriadi, S.H mengatakan, selama ini pihaknya telah memediasi dan memfasilitasi pengungsi dengan UNHCR dan IOM. Karenanya Heksa minta pengungsi tidak melakukan tindakan anarkis saat aksi damai karena bisa diproses hukum. 

"Terimakasih anda berikan kepercayaan kepada kami. Tapi saya ingin katakan secara tegas rudenim juga selalu berusaha, tidak diam saja. Artinya ya tolong yang sabar, kalau anda tak sabar saya kuatir nanti pihak UNHCR marah atau apa tidak mau bantu kalian malah kalian dibiarkan lama di Kupang," kata Heksa.

Heksa menambahkan, jika UNHCR marah dan mencabut status pengungsi dan mereka tidak lagi menjadi pengungsi maka efeknya tidak baik. "Dampaknya, Pemerintah Indonesia, Imigrasi berhak bisa mendeportasi kalian pulang kembali ke Afghanistan. Karena UU Kami kalau punya status sebagai pengungsi, kami tidak bisa mendeportasi kalian karena anda dalam perlindungan hukum sebagai pengungsi oleh UNHCR maka otomatis negara Indonesia masih melindungi anda dan tidak bisa usir anda ke Afgahnistan," kata Heksa.

Baca juga: Tim UNHCR Temui Pengungsi Afghanistan di Kupang Provinsi NTT 

Tapi kalau UNHCR marah dan cabut status pengungsinya, kata Heksa, maka mereka bisa mengusir pengungsi pulang kembali ke Afghanistan. "Kalau UNHCR Marah dan cabut status pengungsinya, Kami akan usir Anda pulang ke Afghanistan. Dan kami tidak mau tahu apa yang terjadi mungkin kamu ketemu Taliban, itu urusan kalian. Jadi saya mohon bersabar," jelas Heksa yang memastikan pihaknya tak bisa menekan UNHCR dan IOM.

Heksa mengatakan, sebagai manusia dia juga sedih melihat nasib dan kondisi pengungsi yang belum juga bisa resettlemen. "Bahkan saya pernah satu menit berpikir sebagai anda, pasti saya sedih menangis dan stress, depresi  tapi saya bisa apa, saya hanya seorang kepala rudenim, tidak mungkin saya bisa tekan UNHCR ini semua satu-satu harus diberangkatkan. Tidak mungkin. Saya bukan menteri, Presiden Jokowi, atau Menteri Yasona Laoli. Saya hanyua Heksa, semut kecil, tidak mungkin bisa intervensi UNHCR,” jelas Heksa.

Halaman
123