Resei ekonomi

Sri Mulyani Klaim Resesi Ekonomi RI Lebih Baik dari Negara Lain,Ekonom Indef:Jangan Over Optimis!

Presiden Joko Widodo didampingi Menkeu Sri Mulyani. ANTARA FOTO/HO/Biro Pers Sekretariat Presiden/Muchlis Jr/sgd/aww.

2. Utang yang berlebihan

Saat individu atau bisnis mempunyai terlalu banyak hutang, biaya membayar hutang dapat meningkat ke titik di mana penghutang tak dapat membayar tagihannya.

3. Aset

Pengambilan keputusan investasi didorong oleh emosi, membuat ekonomi yang buruk dapat terjadi.

Investor dapat menjadi terlalu optimis selama ekonomi kuat.

Kegembiraan irasional menggembungkan pasar saham atau gelembung real estat, di mana saat gelembung ini meletus, panic selling dapat menghancurkan pasar dan menyebabkan resesi.

4. Inflasi

Inflasi merupakan tren harga yang stabil dan naik dari waktu ke waktu. Inflasi yang berlebihan menjadi hal berbahaya.

5. Deflasi

Meskipun inflasi tak terkendali dapat membuat resesi, deflasi bisa menjadi lebih buruk.

Deflasi terjadi saat harga turun dari waktu ke waktu, menyebabkan upah menurun dan menekan harga.

6. Perubahan teknologi

Penemuan baru meningkatkan produktvitas dan membantu perekonomian dalam jangka panjang, tapi mungkin terdapat periode penyesuaian jangka pendek untuk terobosan teknologi.

Apa dampaknya pada masyarakat?

Menurut Fahmy, resesi akan berpengaruh pada pasokan atau supply barang yang menurun secara drastis, tapi permintaan tetap.

Sehingga, harga akan naik dan memicu inflasi. Inflasi yang tak terkendali membuat daya beli masyarakat menurun, menyebabkan pertumbuhan ekonomi semakin terpuruk.

Selain itu, resesi dapat meningkatkan angka pengangguran dan kemiskinan.

Sementara itu, Ekonom Institute for Development and Finance (Indef) Bhima Yudhistira Adhinegara menjelaskan, resesi akan berdampak secara langsung terhadap daya beli masyarakat yang menurun.

Hal ini mengartikan kebutuhan masyarakat dan pendapatan tak sebanding.

Resesi juga akan membuat pemutusan hubungan kerja (PHK) massal di berbagai sektor.

Apa yang bisa dilakukan?

Bisnis di bidang digital menjadi salah satu hal yang menjanjkan di masa sulit, lantara masyarakat banyak memenuhi kebutuhan melalui platform digital.

Diberitakan Kompas.com, 4 Agustus 2020, pakar finansial Ahmad Gozali menjelaskan beberapa cara bertahan saat resesi, seperti:

- Melindungi sumber penghasilan

Sebagai karyawan, sebaiknya tidak agresif pindak pekerjaan sebelum ada kepastian bahwa pekerjaan yang baru lebih stabil.

Sementara sektor usaha, pertimbangkan rencana ekspansi.

- Dana cadangan

Besaran dana cadangan sebaiknya dijaga 3-12 kali pengeluaran bulanan dalam bentuk liquid.

Dana cadangan menjadi semakin penting dan jangan digunakan untuk hal lain.

Sedangkan menurut Bhima, dana darurat setidaknya sebesar 20-40 persen dari pendapatan.

- Tahan pembelanjaan besar

Rencana untuk melakukan kredit kendaraan atau rumah perlu dipelajari lagi risikonya.

Jangan terlalu memaksakan, terlebih menggunakan dana cadangan untuk pembiayaan kredit ini.

Bhima mengatakan, pengelolaan keuangan di masa resesi wajib diprioritaskan ke kebutuhan pokok meliputi bahan pangan, obat-obatan, tagihan listrik, hingga kuota internet.

- Belanja kebutuhan pokok secara rutin

Pembelanjaan kebutuhan rumah rangga menjadi hal penting yang dapat mendorong ekonomi dominan.

Pengalokasian dana ke investasi masih dapat dilakukan ke aset yang aman.

Aset-aset aman tersebut seperti emas, logam mulia, surat utang pemerintah, dan deposito bank dengan tenor jangka pendek (kurang dari dua tahun).

sumber:

Apa Itu Resesi dan yang Perlu Kita Pahami

Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Menkeu Klaim RI Lebih Baik dari Negara Lain soal Resesi, Ekonom Indef: ''Jangan Over Optimis'', https://www.tribunnews.com/bisnis/2020/10/19/menkeu-klaim-ri-lebih-baik-dari-negara-lain-soal-resesi-ekonom-indef-jangan-over-optimis?page=all
Penulis: Fitri Wulandari
Editor: Sanusi

Berita Populer