NTT Terkini
Romo Leo Mali: Mengapa Harus Bunuh Diri, Kalau Masih Ada Alasan Hidup
Dalam pengantarnya, Romo Leo mengisahkan beberapa kejadian percobaan bunuh diri yang dilakukan oleh beberapa orang, tetapi akhirnya tidak meninggal.
Penulis: Ray Rebon | Editor: Oby Lewanmeru
Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Ray Rebon
POS-KUPANG.COM, KUPANG - Komunitas Comunione e Liberazione menggelar perjumpaan spiritual bertajuk "Mengapa Harus Bunuh Diri" di Kapela Seminari Santo Mikhael Penfui pada Sabtu, 15 Februari 2025.
Kegiatan ini diikuti oleh ratusan peserta, mayoritas mahasiswa, yang ingin menemukan makna hidup dalam menghadapi berbagai tantangan.
Acara ini dibuka dengan pengantar oleh Romo Leonardus Mali, Pr., inisiator komunitas Comunione e Liberazione.
Dalam pengantarnya, Romo Leo mengisahkan beberapa kejadian percobaan bunuh diri yang dilakukan oleh beberapa orang, tetapi akhirnya tidak meninggal.
Ia mempertanyakan alasan seseorang untuk mengakhiri hidupnya, padahal masih ada harapan dan tujuan yang bisa dikejar.
Baca juga: Dua Warga Honuk Kabupaten Kupang Lakukan Percobaan Bunuh Diri dan Aksi Bunuh Diri
"Mengapa harus bunuh diri, jika masih ada alasan untuk hidup?" tanya Romo Leo kepada para peserta.
Ia kemudian mengajak mahasiswa untuk merenungkan alasan mereka kuliah dan menghadapi berbagai tantangan dalam proses akademik.
"Seberapa besar kekuatan yang harus saya kerahkan untuk mencapai tujuan yang saya impikan? Mengapa saya hidup, dan untuk apa?," lanjutnya.
Menurut Romo Leo, dalam diri manusia terdapat paradoks, kadang ingin menjadi Tuhan, tetapi di saat lain ingin menjauh dari Tuhan demi kebebasan.
Namun, menurut dia manusia perlu menyadari bahwa kehidupannya bukan hanya bergantung pada orang tua, tetapi juga pada Tuhan sebagai pencipta.
"Bukan saja seseorang lahir dari seorang ibu dan bapa, tetapi hidup saya bergantung pada subjek lain. Saya diciptakan dari yang pernah tidak ada dan suatu saat kelak akan hilang," jelasnya.
Ia mengutip kitab Nabi Yesaya yang menyatakan bahwa Allah tidak akan meninggalkan umat-Nya. "Engkaulah putra-Ku, Aku menulis engkau di telapak kaki-Ku, biar langit runtuh, bumi bergoncang, Aku tidak akan meninggalkan engkau."
Romo Leo menegaskan bahwa setiap tantangan dalam hidup adalah bentuk latihan dari Tuhan.
"Makna penderitaan diajarkan oleh Yesus di atas salib. Semua yang percaya kepada-Nya akan melalui proses yang sama dan menjadi lebih kuat," ujarnya.
Ia menekankan pentingnya menyerahkan segala beban hidup kepada Tuhan melalui doa.
Dalam perspektifnya, bunuh diri terjadi karena manusia menjauhi Allah dan mencurigai kebaikan-Nya.
"Tradisi Kristen mengatakan bahwa setan membisikkan kebohongan pada manusia. Kita lupa bahwa hidup ini adalah pertarungan antara tangan Tuhan yang berusaha memegang kita dan setan yang ingin menjauhkan kita," tegasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa bahkan Yesus pernah dicobai setan untuk menjatuhkan diri-Nya dari atas kota suci.
"Dalam konteks manusia, ini bisa diartikan sebagai godaan untuk bunuh diri dengan keyakinan bahwa Tuhan akan menolong," katanya.
Menurutnya, hidup tanpa harapan adalah senjata setan untuk menghancurkan manusia.
"Harapan datang paling awal dan pergi paling terakhir. Ketika seseorang tidak memiliki harapan, ia kehilangan kekuatan untuk hidup," tambahnya.
Ketua panitia kegiatan, Herman Seran, mengatakan bahwa perjumpaan spiritual ini bertujuan untuk bersolider dengan mahasiswa dan anak muda di Kota Kupang yang bergumul dengan berbagai persoalan hidup.
"Kami mencoba mengikuti pesan Gereja melalui sinodalitas," ujarnya.
Menurut Herman, kegiatan ini juga menyoroti kasus bunuh diri yang sering terjadi di NTT, khususnya di Kota Kupang, yang didominasi oleh anak-anak muda.
"Alasan inilah yang mendorong kami untuk membantu mereka menemukan alasan tetap bertahan dalam berbagai kesulitan hidup," katanya.
Komunitas Comunione e Liberazione, yang merupakan gerakan awam pembaruan spiritual di bawah Tahta Suci, ingin membantu anak muda menemukan hubungan antara iman dan kehidupan sehari-hari.
Dengan semakin maraknya kasus bunuh diri di NTT, kegiatan ini diharapkan menjadi ruang refleksi bagi para peserta untuk menemukan makna hidup, harapan, dan kekuatan untuk bertahan dalam menghadapi tantangan hidup. (*)
Ikuti Berita POS-KUPANG.COM lainnya di GOOGLE NEWS
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Romo-Leo-Mali-memberi-materi.jpg)