Senin, 27 April 2026

Berita NTT

Pengembangan Co Firing Biomassa Membantu Pertumbuhan Ekonomi di NTT

Di PLTU Bolok, PLN telah sukses meningkatkan penggunaan biomassa sebesar 900 persen pada tahun 2024 sebagai bahan bakar

Editor: Eflin Rote
POS-KUPANG.COM/HO
Pengamat Tambang dan Energi pada Alpah Research Database Indonesia, Ferdy Hasiman 

POS-KUPANG.COM - Pengamat Tambang dan Energi pada Alpah Research Database Indonesia, Ferdy Hasiman, mengapresiasi upaya Perusahaan Listrik Negara (PLN Persero) mengupayakan Program Co Firing Biomassa di sekitar Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) di wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT).
 
“Itu upaya besar PLN agar ekonomi daerah bisa tumbuh dan ekosistem perekonomian daerah di NTT, baik di Pulau Timor, Sumba dan Flores tumbuh. Tanpa upaya dan bantuan seperti itu, daerah ini tetap terbelakang. Karena itu harus ada upaya-upaya terukur, sengaja dan sistematis untuk membantu daerah ini keluar dari poverty trap (jebakan kemiskinan). Kemiskinan di NTT tinggi, karena ekonomi tak tumbuh. Maka  apapun upaya untuk mendorong ekosistem ekonomi kerakyatan, termasuk upaya PLN melakukan co-firing biomassa di sekitar PLTU wajib diapresiasi,” kata Ferdy.
 
Di NTT, kata Ferdy, PLN sedang mendorong co-firing biomassa di PLTU Bolok dengan teknologi tinggi. Di PLTU Bolok, PLN telah sukses meningkatkan penggunaan biomassa sebesar 900 persen pada tahun 2024 sebagai bahan bakar dalam proses pembangkitan listrik. Itu terlihat dari pemakaian biomassa sebesar 879 ton dan menghasilkan energi sebesar 894 MWh tahun 2024.

Ini adalah upaya PLN untuk mendorong transisi energi dan pemakaian energi bersih yang ramah lingkungan dan rendah karbon.
 
“Saya berharap, PLN melakukan co-firing biomassa di beberapa PLTU milik PLN di Flores, seperti di PLTU Ropa agar ekonomi di wilayah Kabupaten Ende dan sekitarnya tumbuh dan daerah ini mengandalkan energi berbasis ramah lingkungan dan rendah karbon,” kata Ferdy.
 
Co-firing itu adalah teknologi pembakaran campuran batubara dan biomassa untuk menghasilkan energi listrik. Pengembangan co-firing biomassa ini mengandalkan hutan energi dan peternakan terpadu sebagai bahan bakunya.
 
“Ini kan bukan hanya untuk menghasilkan listrik semata saja, tetapi pengembangan ekomi masyarakat di daerah, termasuk di NTT, karena mengajak masyarakat di semua hutan energi dan peternakan terpadu untuk berpartisipasi menjaga lingkungan. Masyarakat juga diajak untuk melakukan budaya tanam pohon sebagai bahan baku biomassa. Tanaman yang cocok untuk biomassa, seperti kaliandra, kedondong hutan dan lamtoro. Semua ini tumbuh subur di Timor, Sumba dan Flores. Dengan begitu, masyarakat di sekitar bisa menghasilkan pendapatan dan ekonomi masyarakat bisa naik,” tambahnya.

Baca juga: PLN Siap Hadirkan 100 Persen Listrik Hijau pada HUT RI Ke-79 di IKN

Upaya PLN untuk menyelamatkan lingkungan di NTT juga perlu diapresiasi. NTT selama ini dikenal sebagai daerah yang tak memiliki sumber daya energi listrik, termasuk minyak, gas dan batu bara. 

Sementara sumber kelistrikan di Pulau Timor, Flores dan Sumba mayoritas atau hampir 80 persen berasal dari batubara dan bahan bakar minyak (BBM). Batubara tak ada di NTT.

PLN harus mengangkut batubara dari Kalimantan dan Sumatera untuk menyelamatkan kelistrikan NTT. Begitupun BBM. NTT tak memiliki lapangan minyak.

PLN harus mengangkut BBM dari kilang-kilang minyak Pertamina yang ada di Balongan, Duri dan Dumai untuk dikapalkan ke NTT.

Ini tentu menambah  biaya angkut PLN menjadi sangat mahal dan jika negara tak turun tangan untuk melakukan subsidi, harga rumah listrik masuk ke rumah tangga pasti akan mahal. NTT perlu bersyukur karena harga listrik di Jawa dan di rumah-rumah penduduk di NTT sama, karena negara mengeluarkan anggaran besar untuk subsidi listrik.
 
Untuk itu, setiap upaya untuk mengembangkan sumber kelistrikan dengan memerhatikan lingkungan hidup, seperti biomassa dan PLTP yang tersebar di NTT perlu didukung.

“Itu bukan untuk kepentingan PLN semata, tetapi untuk kepentingan kelistrikan di seluruh wilayah NTT dan untuk pertumbuhan ekosistem ekonomi kerakyatan. Jika listrik mati hidup setiap pekan selama 3 kali tentu anda akan protes ke PLN. Namun, anda tidak bertanya mengapa listrik di NTT, mati hidup terus, jika bukan karena sumber energi untuk menghasilkan listrik kita minim.

“Ayo masyarakat NTT, dukung upaya transisi energi untuk mendapatkan energi bersih dan ramah lingkungan di NTT," ajaknya. (*)

Ikuti Berita POS-KUPANG.COM di GOOGLE NEWS

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved