Airlangga Hartarto Mundur

Efriza Bicara Airlangga Mundur, Mulai dari Dugaan Korupsi Hingga Tekanan Eksternal dan Internal 

Keputusan Airlangga Hartarto yang secara tiba-tiba meletakkan jabatannya sebagai Ketua Umum Partai Golkar, mengejutkan semua orang.

Editor: Frans Krowin
ISTIMEWA/POS-KUPANG.COM
MUNDUR – Pengamat Politik, Efriza angkat bicara soal mundurnya Airlangga Hartarto dari jabatan Ketua Umum Partai Golkar.  

POS-KUPANG.COM – Keputusan Airlangga Hartarto yang secara tiba-tiba meletakkan jabatannya sebagai Ketua Umum Partai Golkar, mengejutkan semua orang. Keputusan itu pun kini menjadi sorotan publik bahkan menuai berbagai spekulasi.

Ada yang menyebutkan bahwa pengunduran dirinya itu tak lepas dari kasus dugaan ekspor minyak kepala sawit yang terjadi pada tahun 2021 – 2022 lalu. Kasus itu diduga menjerat Airlangga dalam kemelut penyalahgunaan keuangan negara.

Bahkan saat ini Kejaksaan Agung RI pun didorong untuk segera memeriksa dan menetapkan Airlangga Hartarto sebagai tersangka dugaan ekspor minyak sawit tahun 2021-2022.

Atas pelbagai spekulasi itulah, Pengamat Politik Citra Institut, Efriza angkat bicara. Melalui sambungan telepon, Senin 12 Agustus 2024, Efriza mengatakan sejumlah hal melalui sambungan telepon.

Hanya saja ia tidak menyebutkan siapa kelompok atau orang yang mendesak Kejaksaan Agung RI untuk mengusut kasus Airlangga Hartarto dalam dugaan ekspor minyak kelapa sawit tersebut.

"Supaya kasus Airlangga itu mulai diperiksa KPK dan status Airlangga bisa naik jadi tersangka," jelasnya.

Efriza juga menyebutkan bahwa mundurnya Airlangga dari jabatan Ketua Umum Partai Golkar menimbulkan kontroversi. Karena saat ini kondisi ekonomi Jakarta yang sulit dan sebentar lagi akan dilaksanakan musyawarah nasional luas biasa (Munaslub).

Selain itu, kata Efriza adanya tekanan dari eksternal juga yang mendorong Airlangga Hartarto memutuskan untuk mundur.

"Ini tentunya tekanan dari internal dan ekstesternal, makanya ia memgambil keputusan secara pribadi dan bersama keluarganya," tegasnya.

Menurut Efriza, jika tekanan itu tidak kuat dan kencang maka Airlangga pasti tetap bertahan sebagai Ketua Umum Partai Golkar.

"Ini keputusan pribadi beliau, tentu disampaikan ke pak Presiden, Airlangga menunjukan sifat dan karakter tidak pernah melepaskan diskusi dengan Presiden Joko Widodo," imbuhnya. 

Sebelumnya, Airlangga Hartarto secara resmi telah mengumumkan mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Ketua Umum Partai Golkar Minggu 11 Agustus 2024 kemarin.

Pelaksana tugas (Plt) Ketum Partai Golkar telah diumumkan yaitu Agus Gumiwang Kartasasmita usai pengunduran diri Airlangga Hartarto.

Baca juga: Golkar NTT Kaget Airlangga Hartarto Mundur dari Ketua Umum

Pengamat Politi Citra Institute, Efriza mengatakan, mundurnya Airlangga Hartarto bukan secara mendadak tapi sudah direncanakan usai isu bakal dijadikan tersangka kasus dugaan kasus ekspor minyak sawit mentah 2021-2022.

Sebelum mengumumkan mundur, kata Efriza, Airlangga pada Jumat 9 Agustus 2024 sudah menemui Presiden Joko Widodo.

"Ini terlihat sekali bahwa, ada tekanan yang besar menjelang Munaslub Partai Golkar. Dan kita lihat ini secara cermat yang paling dikhawatirkan Airlangga bukan sebagai ketua umum atau soliditas dari Golkar tapi adalah keluarga dan pribadinya," jelas Airlangga, Senin 12 Agustus 2024. (*)

Ikuti Pos-Kupang.Com di GOOGLE NEWS

Sumber: Pos Kupang
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved