Senin, 4 Mei 2026

Renungan Harian Kristen

Renungan Harian Kristen Minggu 2 Juni 2024, Hidup Yang Berkenan Kepada Allah

Secara umum, kitab Nabi Mikha juga menyerukan tentang harapan akan adanya keadilan dalam tatanan kehidupan umat Israel.

Tayang: | Diperbarui:
Editor: Oby Lewanmeru
POS-KUPANG.COM/HO
Pdt. Selvy N. Nalle-Ndun,M.Th 

Oleh: Pdt. Selvy N. Nalle-Ndun,M.Th

POS-KUPANG.COM, KUPANG - Renungan Harian Kristen Minggu 2 Juni 2024, Hidup Yang berkenan kepada Allah sesuai Kitab Mikha 6: 1-16.

Pengantar

Menurut kamus Besar bahasa Indonesia, keadilan artinya tidak berpihak kepada yang salah sebaliknya berpihak kepada kebenaran, tidak bersikap sewenang-wenang.

Dalam kaitan dengan perlakuan, di dalam keadilan terdapat  keseimbangan antara hak dan kewajiban.Nilai keadilan juga bermakna kesejahteraan lahir dan bathin yang diperoleh secara wajar dengan tetap menghormati apa yang menjadi hak orang lain.

Keadilan juga bersangkut paut dengan perlakuan yang wajar.  Pengertian keadilan juga bersangkut paut dengan harapan   semua orang untuk diperlakukan sama di mata hukum.

Dalam tatanan kehidupan bersama keadilan di cari lewat perjuangan hukum yang berlaku. Itu sebabnya, dalam suatu tatanan kehidupan bersama orang selalu menginginkan kehidupan yang adil.Tanpa keadilan kehidupan bersama tidak akan tenteram.

Secara umum, kitab Nabi Mikha juga menyerukan tentang harapan akan adanya keadilan dalam tatanan kehidupan umat Israel.

Seruan nabi Mikha ini ditujukan baik  kepada Samaria yang saat itu menjadi ibu kota kerajaan Israel Utara maupun kepada Yerusalem yang saat itu menjadi ibu kota kerajaan Selatan (Yehuda).

Dalam konteks kehidupan nyata, umat Israel tidak melakukan keadilan. Praktek-praktek kehidupan mereka menunjuk kepada ketidakadilan.

Bentuk ketidakadilan umat ditunjukan  dalam relasi dengan Allah. Apa saja ketidakadilan umat dalam relasi dengan Allah?

Nabi Mikha menyatakan bahwa banyak umat yang mengabaikan perintah Allah. Mereka bukannya taat beribadah kepada Allah, malah umat Israel dan pemimpin mereka justru lebih taat menyembah ilah lain (Lih Ps.1:7).

Ketidakadilan umat bukan hanya berkaitan dengan Allah dalam relasi ibadah tetapi juga berkaitan dengan relasi sosial.

Baca juga: Renungan Harian Kristen Sabtu 1 Juni 2024, Pendidikan Untuk Memperoleh Hikmat

Apa saja bentuk ketidak adilan Israel dalam relasi sosial?Mereka mempraktekan kehidupan menipu, merampok orang–orang miskin (Lih. Ps.  2:1-2).

Konteks Bacaan dan Pesan Teks                   

Bacaan ini merupakan bagian penting dari perjalanan iman Umat Israel. Judul bacaan ini ialah “Pengaduan, tuntutan, dan hukuman Tuhan terhadap umat-Nya”Perjalanan iman umat Israel tidak hanya melalui perlindungan Tuhan tetapi juga melalui teguran Allah.

Pengaduan, tuntutan, dan hukuman Allah merupakan bentuk teguran sekaligus sebagai sarana evaluasi bagi umat tentang sejauh mana mereka telah pekah untuk mentaati kehendak Allah.

Dengan kata lain, Tuhan mengevaluasi kehidupan umat yang gagal  mengelolah  persekutuan mereka secara benar baik dalam relasi dengan Allah maupun dengan sesama. Evaluasi Tuhan itu dibawah dalam sebuah pengadilan.

Pengadilan biasanya menjadi lembaga sah dalam pelaksanaan mencari keadilan secara hukum. Di pengadilan, ada penerimaan terhadap berkas, ada pemeriksaan terhadap bukti dan saksi, dan ada keputusan terhadap kasus yang diajukan.

Gelar perkara dan penyelesaian terhadap perkara dilakukan di pengadilan dalam tujuan untuk mencari keadilan hukum.

Dalam kasus ini, Allah juga mencari keadilan terhadap ketidakadilan yang dilakukan umat-Nya. Allah hadir menggugat umat, dengan menghadirkan gunung-gunung, dasar-dasar bumi sebagai saksi (ay.2).  Allah juga menjadi hakim dalam pengadilan ini.

Dalam mencari keadilan Allah menanyakan kembali kepada umat tentang ketidakadilan yang mana yang pernah Ia lakukan terhadap umat.

“ Umat-Ku, apakah yang telah Kulakukan kepadamu?Dengan apakah engkau telah Kulelahkan?Jawablah Aku?” (ayat 3). Apakah Allah telah melakukan keadilan sebagai teladan? Allah memberikan bukti keadilan-Nya kepada umat Israel.  

Dalam mencari keadilan, Allah  menyampaikan keadilan yang telah Ia lakukan terhadap Umat-Nya sebagai bukti akan keadilanNya.

Keadilan yang telah Allah lakukan ditemukan dalam tindakan Allah kepada umat. Keadilan Allah disampaikan kepada umat lewat cerita sejarah perjalan umat Israel menjadi sebuah bangsa yang merdeka.

Allah telah melakukan keadilan dengan menuntun umat keluar dari tanah Mesir, dan telah membebaskan mereka dari rumah perbudakan (ayat 4).

Dengan mengutus Musa, Harun, dan Miryam, Allah telah melakukan keadilannya dengan mebebaskan Israel dari perbudakan tersistem di Mesir.

Bukti keadilan Allah juga dilakukan lewat sejarah bangsa Israel yang  lain. Pembuktian itu disampaikan Allah lewat kisah yang terjadi di daratan Moab, ketika Israel yang dipimpin Musa berkemah dekat daerah seberang sungai Yordan dekat Yerikho (Band. Bil 22:1)Keadilan Allah dilakukan melalui Bileam. Bileam dipakai oleh Allah untuk tetap membela Israel.

Siapakah Bileam? Bileam adalah seorang pelihat yang perkataannya adalah benar. Jika ia mengucapkan sesuatu maka apa yang diucapkannya terjadi.

Bileam adalah teman sebangsa dengan raja Moab (Lih. Bil.22:5).Kisah yang terjadi saat itu ialah, Raja Moab yang bernama Balak bin Zipor meminta Bileam bin Beor untuk mengutuki bangsa Israel. Namun, walaupun Balak menawarkan kekayaan berlimpah sebagai bayaran kepada Bileam untuk mengutuki Israel, namunBileam tidak tergiur dengan bayaran serta perintah raja Balak.

Bileam lebih memilih melawan perintah raja Balak dan berpihak mentaati perintah Allah (Lih. Bil 22:17,18). Bileam memilih melakukan keadilan dengan cara mentarakan kebenaran sebagaimana yang Tuhan perintahkan kepadanya yaitu jangan mengutuki Israel sebaliknya memberkati Israel. (Lih. Bil.23-24:9).

Tindakan Allah kepada umat-Nya dilakukan berdasarkan anugerah. Allah tidak menyampaikan tindakan keadilannya sebagai bagian dari jasa, tetapi Allah menyatakan bentuk keadilan-Nya sebagai bagian dari anugerah. Artinya, kekuatan kasih Allah menjadi dasar Allah melakukan keadilan.

Namun apa bentuk syukur yang dilakukan umat? Umat tidak menyatakan syukur yang benar. Meraka melupakan keadilan yang telah mereka nikamati sebagai bagian dari anugerah Allah.  Meraka melakukan dosa pemberontakan terhadap Allah, melalui sikap berpaling dari Allah dan memilih menyembah ilah lain.

Alasan Allah dalam pengaduan, tuntutan, serta alasan Allah menghukum, berkaitan dengan kegagalan umat melakukan tiga hal, yaitu berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allah.

Dalam menggugat umat, Allah menyampaikan ketidakadilan yang dilakukan umat. Allah mengkritik motivasi ibadah yang mereka lakukan.

Dosa mereka ialah ada pada motivasi persembahan. Persembahan dberikan dalam motivasi supaya dosa mereka ditutupi tanpa melakuan pertobatan (ayat 7). Oleh karena itu, Allah juga  menggugat cara beribadah umat, Allah menyatakan akan sikap-Nya yang nenerima ibadah umat. Namun, ibadah yang diterima Allah itu ialah ibadah dengan motivasi hati yang bersih yang mesti diaktualkan kelanjutannya dengan melakukan keadilan, kesetiaan, dan sikap rendah hati.

Baca juga: Renungan Harian Kristen Jumat 31 Mei 2024, Budaya Kristen Memenuhi Bumi

Pesan apa yang dapat kita ambil dari bacaan ini. Beberapa catatatan pesan tersebut antara lain:

1.      Pengaduan, tuntutan , dan hukuman Allah merupakan cara Allah  mengingatkan Israel bahwa kehidupan penuh berkat akan tercurah di dalam kehidupan yang damai. Kedamaian tidak akan terjadi tanpa keadilan baik keadilan  relasi dengan Allahmaupun keadilan relasi dengan sesama.

2.      Melakukan keadilan sama dengan menunjukan syalom Allah sedang terjadi di dalam hidup kita.

3.      Menselaraskan kehidupan yang seimbang antara ritual dan perilaku sosial menjadi penting sebagaiwujud dari pertumbuhan iman.

4.      Ternyata ibadah juga dapat menjadi bagian dari tindakan Allah untuk mengevaluasi perilaku umat. Sejauh mana perilaku kita sejalan dengan kehendak Tuhan. Catatn ini kita lihat dalam bacaan ini, bagaimana Israel ditegur lewat gugatan Allah yang maha Tahu. Persembahan ibadah kita mesti berimbang dengan perbuatan sehari-hari kita yang sesuai dengan kehendak Tuhan.

5.      Adalah bijak jika umat melakukan perintah Allah sebagai bagian dari aktualisasi ibadahnya yaitu berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup rendah hati di hadapan Tuhan. Oleh karena itu, marilah kita mengevaluasi hidup kita supaya hidup kita tetap berkenan kepada Allah. (*)

Ikuti berita POS-KUPANG.COM lainnya di GOOGLE NEWS

Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved