Minggu, 3 Mei 2026

Liputan Khusus

Lipsus - Mgr. Hironimus Pakaenoni Harus Tegas

Perayaan pentahbisan yang bertepatan dengan pesta kenaikan Tuhan Yesus ini menjadi pesta iman yang begitu kental.

Tayang:
Editor: Ryan Nong
POS-KUPANG.COM/RYAN TAPEHEN
Penumpangan tangan oleh Nuncio Apostolik Vatikan Mgr. Pierro Pioppo kepada Uskup Agung Kupang Mgr. HIronimus Pakaenoni dalam upacara pentahbisan, Kamis 9 Mei 2024. 

POS-KUPANG.COM, KUPANG - Suasana khidmat mewarnai upacara pentahbisan Uskup Agung Kupang Mgr. Hironimus Pakaenoni oleh Duta Besar Vatikan untuk Indonesia Mgr. Pierro Pioppo di Gereja Kristus Raja Katedral Kupang, Kamis 9 Mei 2024 pagi.

Perayaan pentahbisan yang bertepatan dengan pesta kenaikan Tuhan Yesus ini menjadi pesta iman yang begitu kental. Uskup Petrus Turang menjadi gembala umat selama 27 tahun akan digantikan oleh uskup agung yang baru.

Mgr. Pioppo yang tiba sekitar pukul 08.30 Wita disambut dengan ucapan selamat datang oleh tokoh masyarakat yang melakukan sambutan secara adat berupa natoni serta pengalungan selendang.

Baca juga: 11 Simbol dalam Logo Uskup Agung Kupang Mgr. Hironimus Pakaenoni Beserta Maknanya

Selanjutnya dimulai dengan perarakan bersama para imam dan uskup terpilih diiringi dengan tarian cakalele yang dibawakan penari Sanggar Santa Brigidia.

Dari atas altar Mgr. Pioppo menyapa seluruh umat. Sambutan hangat diberikan oleh umat Keuskupang Agung Kupang kepada Mgr. Pioppo yang akan mentahbiskan Uskup Hironomis.

Upacara pentahbisan diawali dengan pembacaan surat Sri Paus Fransiskus atas penunjukan Mgr. Hironimus sebagai Uskup Metropolitan Kupang. Surat Sri Paus dibacakan Romo Sipri Senda.

Pentahbisan episkopal berlangsung khidmat saat uskup terpilih, Mgr Hironimus Pakaenoni yang didampingi dua imam yakni Romo Marsel Seludin dan Romo Theo Silab hadir di tengah-tengah umat, berdiri menghadap ke uskup pentahbis dan mengucapkan janji uskupnya dengan lantang. Upacara dilanjutkan dengan nyanyian litani.

Uskup Hironimus sebelum diurapi berbaring telungkup dihadapan Mgr. Pioppo dan Uskup Petrus Turang serta Uskup Dominikus Saku sebagai uskup pendamping. 

Selanjutnya dilakukan penumpangan tangan oleh uskup pentahbis dengan memohon doa bagi Uskup Agung Kupang yang baru kemudian uskup lain juga ikut menumpangkan tangan kepada uskup baru ini.

Usai penumpangan tangan Uskup baru kemudian diurapi dengan minyak krisma dan berdoa kepada Uskup yang baru dalam mengambil bagian dalam imamat Kristus.

Selanjutnya menyusul penyerahan evangeliarum dimana kitab suci ditumpangkan diatas kepala Uskup Hironimus.
Lalu juga dilakukan penyerahan dan penyematan Palium, penyerahan Mitra dan Tongkat kepada Uskup Hironimus dan dirinya juga diarahkan menuju takhta Uskup di bagian kanan altar.

Uskup-uskup lain kemudian memberikan ciuman persaudaraan tanda selamat kepada uskup Agung Kupang Hironimus Pakaenoni dengan diiringi lagu Pasce Oves Meas.

Lagu Pasce Oves Meas sendiri merupakan Motto Episkopal Uskup Agung Kupang dimana Motto tersebut berarti gembalakankah domba-dombaku yang diambil dari bacaan kitab suci injil Yohanes pasal 21 ayat 17.

Uskup Agung Kupang Hironimus Pakaenoni mengungkapkan pilihan Motto ini berangkat dari pertanyaan sederhana namun mendalam yang ada di dalam dirinya.

"Mengapa saya, tidak adakah orang lain yang lebih pantas untuk jabatan ini," ujarnya dalam awal sambutan episkopalnya.

Motto itu kata dia merupakan perintah Yesus kepada Petrus yang diulang sebanyak tiga kali, dan bagi Uskup Hironimus menggembalakan domba  bukan sebuah kompetensi manusiawi tapi sebuah lambang cinta kasih yang diwujudkan bagimana mencintai Yesus.

Usai ditahbis Mgr. Pioppo yang meninggalkan upacara tersebut kemudian diambil alih oleh Mgr. Hironimus memimpin missa hingga selesai.

Uskup emeritus Petrus Turang Meminta Mgr. Hironimus Pakaenoni untuk meneladani Yesus Kristus dimana Yesus merupakan gembala yang baik agar hidup baik secara moral, sosial, serta eksitensial.

"Uskup sebagai sebagai gembala harus bersikap rendah hati dan tegas agar kehadiran uskup sejatinya memerdekakan anak-anak Allah dalam bersaksi. Dalam pelayanan kegembalaan harus hidup bersaudara dalam sukacita," ungkap Uskup Petrus Turang saat perayaan pentahbisan yang bertepatan dengan pesta kenaikan Tuhan  Yesus, Kamis 9 Mei 2024 ini.

Mgr. Hironimus Pakaenoni yang diangkat oleh Sri Paus menjadi Uskup Agung Metropolitan Kupang juga dalam khotbah Uskup Turang agar meneladani Kristus dalam menyemangati kebersamaan hidup iman yang bermutu sehingga persatuan dan persaudaaan makin tampil sebagai kesaksian hidup akan Yesus Kristus.

Dalam pelayanan kegembalaan ini juga Uskup Turang meminta agar Uskup Hironimus dalam pelayanan kegembalaan harus hidup bersaudara dalam sukacita.

"Peristiwa iman kenaikan Yesus ke surga persekutuan jemaat tidak ditinggalkan sebagai yatim piatu tapi mereka terus membangun hidup yang memerdekakan. Yesus tetap menjadi teladan dalan diri mereka dengan persaudaraan yang seiman dalam perdamaian," ungkap Uskup Petrus Turang.

Bagi dia Uskup bertanggungjawab mengantar iman umat kepada Bapa dengan membangkitkan dan mengairahkan semangat injil dalam dunia ini.

"Dengan merayakan pentahbisan uskup gereja kita terkasih membimbing persekutuan imat yang hidup secara terus menerus," harapnya.

 

Terinspirasi Dialog Yesus dan Rasul Petrus 

Uskup Agung Metropolitan Kupang, Mgr. Hironimus Pakaenoni resmi ditahbiskan pada Kamis, 9  Mei 2024 di Gereja Katedral Kristus Raja Kupang.

Mengawali sambutannya, Mgr. Hironimus mengucapkan terima kasih kepada Duta Besar Vatikan untuk Indonesia, Mgr. Piero Pioppo beserta seluruh uskup, imam, biarawan/biarawati, tokoh dan pemuka agama, pemerintah Kota, Kupang, Pemerintah Provinsi NTT, Forkopimda, keluarga, undangan, serta umat yang hadir dalam misa penahbisan tersebut.

Motto episkopal Mgr. Hironimus adalah gembalakanlah domba-dombaku atau dalam bahasa latin disebut pasce oves meas. Menurut Mgr. Hironimus motto tersebut bertolak dari dialog mendalam antara Yesus dan Simon Petrus yang dikenal sebagai salah satu dari 12 murid Yesus.

Dalam permenungannya Mgr. Hironimus sering bertanya mengapa dirinya dipilih oleh Tuhan untuk menggembalakan umat.

“Siapakah aku ini sehingga Tuhanku berkenan memilihku. Mengapa saya? adalah orang lain yang lebih baik, dan lebih pantas untuk jabatan ini. Ini adalah pertanyaan yang sempat berkecamuk dalam benak saya, selama beberapa waktu terakhir hingga menjelang peristiwa iman pentahbisan hari ini,” ujar Mgr. Hironimus dalam sambutannya.

Untuk menjawab pertanyaan ini Mgr. Hironimus bertolak dari dialog cinta yang mendalam dari Yesus dan Simon Petrus. Kemudian muncul kata- kata Yesus yang akhirnya dijadikan sebagai motto episkopal.

“Mengapa hanya kepada Simon Petrus, Yesus bertanya apakah engkau mengasihi aku? meskipun ada murid lainnya. Adakah kualitas insani yang istimewa yang dimiliki oleh Simon Petrus? dan jawabannya ternyata tidak. Bukan keunggulan kualitas insani, melainkan sebaliknya kerapuhan kualitas insan,” ungkap Mgr. Hironimus.

Layaknya Simon Petrus pada zaman itu, Mgr. Hironimus yakin keterpilihannya bukan karena kehebatan dan prestasi pribadi melainkan cinta kasih yang didapatkannya dari Yesus sebagai gembala utama.

“Cinta kasih lah dasar utama keterpilihan saya oleh sang gembala agung yang utama. Gembalakanlah domba-dombaku,” kata Mgr. Hironimus.

Motto episkopal ini sekaligus mengingatkannya pada pesan Santo Paulus bahwa sehebat apapun seseorang jika tanpa cinta kasih tidak akan berguna.

Lewat motto episkopal ini Mgr. Hironimus menghubungkan dengan 3 godaan iblis di padang gurun dan cara Yesus memanggil Rasul Petrus dalam tugas penggembalaannya.

Pertama Yesus mengarahkan kasih Petrus padanya. Hal paling menurut Mgr. Hironimus adalah dipanggil untuk menggembalakan kawanan domba, bukan kompetensi manusiawi yang diminta melainkan tentang cinta kasih apakah kita sungguh mencintai Yesus.

Kedua, tersirat dalam kata-kata Yesus tentang memberi makan domba. Bagaimana cara seorang gembala memberikan makan dombanya? yakni dengan pelayanan sabda atau firman dan sakramen khususnya ekaristi mahakudus.

Ketiga, tugas penggembalaan jauh dari nuansa spektakuler dan gagah-gagahan apalagi dengan tujuan mencari popularitas. Mgr. Hironimus menegaskan gembala bukan profesi mentereng dan menggiurkan yang diminati banyak orang.

“Tugas penggembalaan ini bukanlah tugas yang dijalankan sendiri-sendiri, melainkan dilakukan bersama-sama. Kita akan selalu berjalan bersama, senantiasa peduli dan melayani satu dengan yang lain, berkehendak baik, bekerjasama dengan siapa saja. Sebagai gembala dalam komunitas iman, kita berani mempersembahkan diri dalam harapan akan iman kita, dalam suka cita, keputusasaan, kesedihan, keberanian, dan ketakutan tersedia bagi orang lain sebagai cara kita tetap terhubung dengan Tuhan dalam kehidupan. Sesungguhnya pelayanan adalah sebuah misteri yang syarat cinta kasih dan tanpa pamrih. Gerbang menuju cinta Tuhan yang tak terbatas,” jelas Mgr. Hironimus.

Hal terakhir yang disampaikan Mgr. Hironimus adalah godaan akan kuasa dan kontrol. “Godaan yang sering kita alami adalah keinginan akan kuasa dan kontrol. Ketika kita melayani di dalam gereja, kita selalu tergoda memegang kendali. Jalur gembala bukanlah jalur di mana kuasa dan kontrol diperoleh, tetapi semakin banyak diserahkan,” ungkapnya.

Pada akhir sambutannya, Mgr. Hironimus menyampaikan terima kasih kepada Mgr. Emr. Petrus Turang yang telah membimbingnya selama 27 tahun hingga pada perayaan penahbisan hari ini.

Mgr. Hironimus kembali mengucapkan terima kasih satu persatu kepada semua pihak, termasuk kepada keluarga Mgr. Emr. Petrus Turang yang turut serta hadir dan mensukseskan kegiatan serta semua unsur yang hadir dalam penahbisannya sebagai Uskup Agung Kupang yang baru. 

Banyak Kenangan Indah Bersama Uskup Turang 

Ketua Panitia Penahbisan Uskup Agung Kupang, Dra. Sisilia Sona mengatakan selama 27 Tahun menjalankan tugas sebagai Uskup Agung Kupang, banyak kenangan indah yang didapat bersama Mgr. Emr. Petrus Turang.

“Saya banggakan dan muliakan Mgr. Petrus Turang selama 27 tahun menggembalakan umat di Keuskupan Agung Kupang. Ini bukanlah waktu yang singkat. Banyak yang sudah beliau kerjakan dan banyak kenangan indah bersama beliau,” ujar Sisilia usai misa penhbisan Kamis, 9 Mei 2024 di Gereja Katedral Kristus Raja Kupang.

Menurut Sisilia Mgr. Petrus Turang dikenal sebagai pribadi yang berwibawa, tegas, disegani, dan murah hati. Salah satu kenangan terbaik tentang Mgr. Petrus Turang adalah proses penahbisan Mgr. Hironimus Pakaenoni hari ini.

“Kenangan indah tentang beliau adalah kadang berjalan beliau berjalan di depan, kadang berjalan di tengah umat, dan tak jarang beliau berada di belakang. Salah satu contohnya adalah Mgr. Hironimus Pakaenoni adalah salah satu imam pertama yang ditahbiskan beliau ketika menjadi Uskup,” ungkap Sisilia.

Atas penahbisan ini, sisilia mengungkapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi untuk kesuksesan perayaan penahbisan, kehadiran, dan keterlibatan baik unsur pemerintah Kota Kupang dan Provinsi NTT, keluarga, maupun umat di wilayah Keuskupan Agung Kupang.

Sisilia mewakili umat Katolik di wilayah Keuskupan Agung Kupang menyampaikan ucapan terima kasih kepada Mgr. Emr. Petrus Turang atas pengabdiannya, dan menyambut Mgr. Hironimus Pakaenoni sebagai Uskup Agung Kupang yang baru.

“Kami menyambut dengan sangat bahagia dan gembira Mgr. Hironimus Pakaenoni yang baru ditahbiskan. Gembalakan kami umatmu, dan bawalah kami menuju air yang tenang. Kepada semua keluarga dan semua yang hadir yang dengan caranya sendirinya membantu mensukseskan kegiatan ini, kami sampaikan limpah terima kasih Tuhan pasti akan balas semuanya,” ucapnya.

Sisilia juga menyampaikan permohonan maaf kepada undangan dan juga umat yang hadir.

“Kami mohon maaf apabila selama perayaan syukur ini ada hal yang kurang berkenan. Terima kasih untuk kehadiran kita semua, Tuhan memberkati,” pungkasnya.

Utusan Paroki Kenakan Pakaian Adat

Ratusan umat utusan dari paroki-paroki yang ada di wilayah Keuskupan Agung Kupang, khususnya paroki yang ada di Kota Kupang mengenakan pakaian adat menyambut upacara Penahbisan Uskup Agung Kupang terpilih, RD. Hironimus Pakaenoni.

Perwakilan paroki ini mengenakan beragama pakaian adat yang ada di wilayah  Provinsi NTT.

Salah satu utusan dari Paroki St. Familia Sikumana, Rifan mengatakan dirinya bersama anggi rekannya mengenakan pakaian adat Rote.

“Satu bulan sebelum misa penahbisan, kami dipilih oleh paroki sebagai utusan yang mengenakan pakaian adat. Paroki kami mengirimkan 5 pasangan yang berarti 10 orang. Pakaian adat ini kami dipilihkan oleh paroki,” ungkapnya Kamis, 9 Mei 2024 di Halaman Gereja Katedral Kristus Raja Kupang.

Rian asal Paroki St. Petrus Rasul Tuak Daun Merah mengatakan pasangan yang dipilih untuk mengenakan pakaian adat adalah OMK dari Paroki.

“Pakaian adat yang kami kenakan ditentukan panitia. Kami ada 4 pasang. Pakaian yang kami kenakan dari TTS dan Bajawa,” jelasnya.

Adapun utusan paroki yang menggenakan pakaian adat, diberikan tempat khusus baik di dalam gereja maupun di luar gereja. 

MUI NTT Beri Selamat 

Majelis Ulama Indonesia (MUI) NTT menyampaikan ucapan selamat atas pentahbisan Uskup Agung Kupang

Sekretaris MUI NTT H Husen Anwar menyampaikan peristiwa hari ini adalah salah satu momentum besar bagi umat Katolik. Seorang diberi tugas menjadi penggembala bagi umatnya, lebih khusus di Keuskupan Agung Kupang. 

"Selamat atas pentahbisan Bapak Uskup Agung Kupang yang baru, yang mulia Mgr Roni Pakaenoni," kata dia, Kamis 9 Mei 2024.

Menurut dia, kedekatan umat beragama yang sudah terjalin selama ini hendaknya menjadi perhatian utama Uskup Agung Kupang yang baru. Husen Anwar mengatakan, MUI NTT sangat berharap agar Uskup Agung Kupang juga bisa bekerja sama dengan para pimpinan dan lembaga keagamaan lainnya. 

"Tentu kita sangat berharap bapak Uskup Agung Kupang yang baru ini bisa menjalin, memperkuat kerja sama dengan semua pimpinan agama di NTT," ujarnya. 

Kehidupan majemuk masyarakat NTT, hendaknya terus dirawat. Tugas utama para pimpinan agama adalah terus mengingatkan umatnya untuk saling mengasihi antar sesama. 

"Mari kita terus rawat keberagaman ini. NTT punya toleransi yang sangat tinggi. Kita semua harus bertanggungjawab merawat ini agar masyarakat hidup damai, saling mengasihi dan tetap kompak," kata dia. 

Selaku pimpinan MUI NTT juga menyampaikan ucapan terima kasih kepada Mgr Petrus Turang. Selama ini, kata dia, yang mulia Mgr Petrus Turang sangat bersahabat dengan semua tokoh agama di NTT. Banyak kontribusi pemikiran tentang keberagaman selalu disampaikan. 

Menurut dia, kehadiran Uskup Agung Kupang juga akan semakin memperkuat dan melanjutkan tugas yang sudah ada. Di samping tetap berkolaborasi dengan agama lainnya untuk kemajuan Provinsi NTT. 

"Selamat untuk Bapak Uskup Agung Kupang yang baru, yang mulia Mgr Roni Pakaenoni. Selamat menjadi penggembala bagi semua saudara-saudara umat Katolik di Keuskupan Agung Kupang," ucapnya. (ary/fan/cr19)

 

Ikuti berita POS-KUPANG.COM di GOOGLE NEWS

 

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved