Pilpres 2024

Pilpres 2024: Kemungkinan Kemenangan Prabowo Akan Menjadi Ujian bagi Demokrasi Indonesia

Anggota masyarakat sipil Indonesia telah menentang Presiden Joko Widodo atas apa yang mereka lihat sebagai manuver politik mempertahankan pengaruhnya.

Editor: Agustinus Sape
YOUTUBE/KOMPAS TV
Pasangan Prabowo-Gibran saat menyampaikan pidato kemenangan di Istora Senayan Jakarta, usai Pemilu 14 Februari 2024. 

Oleh Yohanes Sulaiman

POS-KUPANG.COM, BANDUNG - Para pemilih di negara demokrasi terbesar ketiga di dunia, Indonesia, telah memilih mantan jenderal angkatan darat Prabowo Subianto sebagai presiden kedelapan, meskipun kampanyenya dirundung tuduhan pelanggaran hak asasi manusia dan kecurangan pemilu.

Menurut jajak pendapat terbaru yang dapat diandalkan, Prabowo – Menteri Pertahanan Indonesia – memperoleh hampir 60 persen suara dalam pemilu yang dianggap sebagai pemilu satu hari terbesar dan paling rumit di dunia. Ini kemungkinan besar berarti tidak akan ada putaran kedua.

Lebih dari 200 juta pemilih yang memenuhi syarat di lebih dari 17.000 pulau memberikan suara mereka di lebih dari 820.000 TPS. Proses pemungutan suara yang berlangsung selama satu hari ini melibatkan 5,7 juta petugas pemilu, hampir setara dengan jumlah penduduk Singapura.

Mengingat rumitnya pemilu, KPU akan mengumumkan hasil resminya pada tanggal 20 Maret. Namun sejak pemilu presiden langsung pertama pada tahun 2004, Indonesia mengandalkan penghitungan cepat untuk mengetahui presiden baru mereka pada hari pemilu.

Berdasarkan hasil awal ini, Prabowo mengalahkan kandidat lainnya - mantan Gubernur Jakarta Anies Baswedan, yang didukung oleh kelompok konservatif Muslim, dan mantan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, yang didukung oleh partai politik terbesar di Indonesia, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P).

Kemenangan Prabowo sudah lama diperkirakan. Ini adalah upaya keempatnya untuk mencalonkan diri untuk jabatan-jabatan penting di negara tersebut. Ia pertama kali mencalonkan diri sebagai calon wakil presiden Megawati Sukarnoputri, Ketua Umum PDI-P, pada pemilu presiden 2009.

Pasangan ini kalah dari Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono. Pada pemilu tahun 2014 dan 2019, Prabowo mencalonkan diri melawan presiden petahana, Joko “Jokowi” Widodo. Dia kalah dalam pemilihan umum yang ketat pada kedua kesempatan tersebut karena Jokowi mendapat dukungan dari partai Megawati.

Setelah kekalahannya pada pemilu tahun 2019, Prabowo menerima tawaran pekerjaan sebagai menteri pertahanan Jokowi.

Pada pemilu tahun ini, Prabowo berpasangan dengan putra sulung Jokowi, Gibran Rakabuming Raka, setelah terjadi perselisihan antara Jokowi dan Megawati mengenai pilihan calon mereka. Ini adalah contoh betapa tidak terduganya manuver para politisi di Indonesia untuk tetap berkuasa dan mempertahankan martabat mereka.

Faktor Jokowi

Sungguh menakjubkan melihat bagaimana Jokowi bangkit dari seorang politisi yang tidak dikenal pada tahun 2005 ketika ia mencalonkan diri sebagai walikota sebuah kota kecil Solo di provinsi Jawa Tengah, menjadi raja dalam pemilu saat ini.

Pasangan Prabowo-Gibran diorganisir dengan keterlibatan besar dari Jokowi. Gibran dinyatakan memenuhi syarat untuk mencalonkan diri sebagai calon wakil presiden setelah Mahkamah Konstitusi, yang dipimpin oleh saudara ipar Jokowi, Anwar Usman, membatalkan persyaratan bahwa calon tersebut harus berusia minimal 40 tahun agar putranya yang berusia 36 tahun dapat mencalonkan diri.

Tidak mengherankan, pihak oposisi berteriak-teriak melakukan pelanggaran. Banyak pihak menyatakan bahwa pemilu bukan lagi tentang meneruskan warisan Jokowi, namun tentang menyelamatkan demokrasi.

Tiga hari menjelang pemilu, sebuah film yang mengungkap dugaan kecurangan pemilu yang melibatkan Jokowi menjadi viral. Film Dirty Vote  menuduh Jokowi dengan susah payah mencurangi pemilu agar Prabowo dan putranya bisa menang.

Halaman
123
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved