Opini
Cinta dan Politik Cleopatra
Tanggal 14 Februari 2024, di Negara kita, selain akan dilaksanakannya Pesta Demokrasi, juga perayaan Valentine Day dan Rabu Abu untuk umat Katolik.
Oleh Sakarias Abduli
Tinggal di Biara San Juan Penfui-Kupang
POS-KUPANG.COM - Tanggal 14 Februari 2024, di Negara kita, selain akan dilaksanakannya Pesta Demokrasi, yang secara konstitusional terjadi rutin lima tahunan, ada juga dua peristiwa bermakna eksklusif atau terbatas, namun melibatkan sebagian masyarakat yang merayakannya, yaitu: Valentine Day, sebuah ‘kultur’ yang diafirmasi segelintir orang sebagai hari di mana dua jiwa merasakan getaran cinta yang sama. Dan Rabu Abu, untuk warga yang beragama Katolik, dihayati sebagai awal itinerari spiritual selama masa prapaskah yang ditandai dengan penerimaan abu dan praktik asketik serta komitmen pada pantang dan puasa (tahun ini, Gereja Katolik Indonesia telah menyiasati waktu ritual Rabu Abu agar semua umatnya terlibat aktif dalam pemilihan umum).
Secara intuitif, ada dua gelombang perasaan yang mendominasi, pertama, euphoria generasi z pada hari Kasih Sayang dan setangkai mawar merah tanda cinta, atau kedua, rasa optimis peserta Pemilu serentak rasa cemas akan hasilnya, entahkah ada bentangan karpet merah atau cucuran air mata kekalahan? Kita tentu berharap semua terbaik demi Indonesia tercinta.
Dahulu, pernah ada kisah percintaan antara Cleopatra dan Markus Antonius, sebuah hubungan yang ditandai dengan gairah, intrik, perebutan kekuasaan dan tragedi bahkan mampu menggoyahkan kekuatan Kekaisaran Romawi yang baru lahir.
Cleopatra, orang Mesir cantik, yang sepenuhnya bertekad untuk menduduki kekuasaan dan mengembalikan Mesir ke kejayaannya, tidak ragu sedikit pun menggunakan kecerdasannya dan senjata wanitanya mencari sekutu terbaik demi perjuangannya.
Orang pertama yang jatuh ke dalam perangkapnya adalah Julius Caesar, lalu setelah kematiannya ia digantikan oleh Markus Antonius. Keduanya memiliki seluruh instrumen kekuasaan, namun tak dapat menghindari sihir politik cinta Cleopatra.
Singkat cerita, Cleopatra yang licik dan cerdas, tidak semata-mata mengandalkan sensualitas feminin, tetapi juga memesona dalam gairah intelektual, budaya, bahasa, astronomi, termasuk ia mencintai buku-buku yang memenuhi perpustakaan Alexandria. Demikianlah, kekuatan dan pesona Cleopatra merenggut semua energi Julius Caesar dan Markus Antonius dalam manuver asmara politik kaum ningrat.
Apakah tanggal 14 Februari tahun ini adalah hari keramat karena berleburnya kultur global Valentine dan kontestasi politik Negeri ini?
Lagi-lagi merujuk ke pengalaman Markus Antonius yang merasakan trik Cleopatra. Markus Antonius paham bahwa hasrat cinta dalam berpolitik amat rentan dengan perpisahan, rekonsiliasi dan perebutan kekuasan serta kendali politik.
Menariknya, prajurit tangguh tersebut tetap berada dalam lingkaran pelukan mesra wanita pilihannya dan strategi politik internal Istana Mesir tanpa peduli pada visi dan misi institusi militer kekaisaran Romawi.
Kisah Cleopatra tercatat sebagai kisah cinta yang melahirkan tragedi dalam konspirasi politik di lingkungan keluarga dan istana. Ending-nya, kematian.
Markus Antonius misalnya, pada tanggal 1 Agustus 30 SM, setelah menjelajahi dunia politik dan kisah cinta penuh intrik, akhirnya mati bunuh diri, memaku dirinya sendiri, dengan pedangnya sendiri.
Partner politik cintanya, pada pertengahan Agustus tahun 30 SM, sebelum genap berusia empat puluh tahun, Cleopatra, merasa bahwa ternyata kecantikan, kecerdasan dan skillnya tak selalu disukai semua orang, memilih bunuh diri dalam prosuder ritual Mesir, yaitu dipagut seekor ular kobra Mesir. Hubungan politik mereka tuntas bersamaan dengan drama cinta penuh intrik dan konspiratif.
Valentine Day, dalam narasi politik merangkum dua kisah saat ini, yaitu cinta yang berkurban dan cinta yang membebaskan. Salah satu legenda menyatakan bahwa Valentinus adalah seorang Imam yang bertugas pada abad ketiga di Roma.
Ketika Kaisar Claudius II memutuskan bahwa pria lajang dapat menjadi prajurit yang lebih baik dibandingkan mereka yang memiliki istri dan keluarga, ia melarang pernikahan bagi pria muda, yang merupakan calon prajurit.
Valentinus menyadari ketidakadilan keputusan tersebut, menentang Claudius dan terus melakukan pernikahan untuk kekasih muda secara rahasia. Ketika tindakan Valentinus diketahui, Claudius memerintahkan agar ia dihukum mati.
Valentinus mungkin dibunuh karena berusaha membantu umat Kristen melarikan diri dari penjara Romawi yang keras di mana mereka sering dipukuli dan disiksa.
Valentinus sebenarnya telah mewakili suara para rohaniwan atau ulama yang memperjuangkan nilai demi martabat manusia dalam kehidupan bersama.
Cerita lainnya, Valentinus sebenarnya yang pertama kali mengirimkan ucapan ‘Valentine’. Saat berada di penjara, diyakini bahwa ia jatuh cinta dengan seorang gadis muda, yang mungkin adalah putri sipir penjara, yang mengunjunginya selama dia dikurung.
Sebelum kematiannya, diduga dia menulis surat padanya, yang ia tandatangani “Dari Valentine-mu,” sebuah ungkapan yang masih digunakan sampai sekarang.
Dari sini tersingkap makna, bahwa di balik ruangan penjara yang pengap tidak dapat menghalangi seorang manusia untuk mengekspresikan haknya menikmati kebebasan pikiran dan perasaan manusiawinya.
Kini, ketika kita berada dalam ledakan politik, kita tak boleh kehilangan dimensi yang menjadikan kita multi-perceiver, terpaku pada informasi yang diterima dari data yang dirilis oleh Tim dan multi-thinker, banyak berpikir tentang banyak hal yang berpotensi baik atau buruk.
Dalam bukunya In Praise of Love, Alain Badiou menggunakan metafora cinta sepasang kekasih ketika menulis tentang ‘esensi politik’. Dalam politik terkandung dua pertanyaan: Apa yang mampu dilakukan individu-individu ketika mereka bertemu, berorganisasi, berpikir dan mengambil keputusan?
Sedangkan dalam cinta, politik itu tentang mengetahui apakah Anda mampu melakukan dua hal, mengasumsikan perbedaan, menjadikannya kreatif atau mengetahui adanya perbedaan lalu menciptakan kesataraan.
Atau dalam konteks teologis dikenal sebagai prinsip pari cum pari atau primus cum pari, artinya setara dengan setara atau menjadi pertama dari yang setara?
Tentu saja cinta dan politik 14 Februari 2024 tidak semata-mata apa yang kita sebut kontes/kontestasi, melainkan, selaras konsep etimologis politik, kata ini sejak dulu dikenal dalam bahasa Yunani (Greek) ‘politicos’ yang diartikan sebagai kota, kerangka umumnya tentang intensionalitas kesejahteraan bersama, partisipasi dalam kebersamaan dan kesadaran hati yang penuh cinta.
Cinta dalam berpolitik adalah arsitek alam semesta, pencarian kebaikan dan keindahan, hak dan kesetaraan. Menurut Plato, kita memiliki dua sayap untuk terbang, akal dan cinta.
Memberi diri tanpa pamrih pada suatu tujuan dengan penuh semangat adalah cara jatuh cinta untuk menciptakan kehidupan dan mencari kebahagiaan.
Baca juga: Pemilu 2024 Bertepatan dengan Rabu Abu, Keuskupan Kupang Lakukan Misa di Hari Kamis
Meski tampak seperti kontradiksi, namun cinta bisa menjadi salah satu kekuatan rahasia dan kuat dalam perjuangan kelas. Cinta, menurut Marx, memungkinkan manusia untuk bangkit dari kotak kelas sosial menjadi sungguh-sungguh manusia. Bagi para filsuf Pencerahan, cinta adalah kain yang disulam dengan benang citra dan kuasa dalam semua tindakan alamiah dan rasional.
Gairah cinta dalam refleksi mereka bisa muncul ketika rakyat terpesona oleh sebuah retorika atau pidato politik. Terkadang orang tergila-gila pada pemimpin dan janjinya dalam balutan diksi yang menawan.
Padahal narasi politik esensial adalah tindakan cinta, sebagaimana yang diucapkan dalam sebuah debat politik para kandidat di Andalusia, Spanyol, oleh seorang wanita bernama Teresa Rodriguez, seorang politikus ulung meskipun terdengar mulia tetapi sulit manakala berada di tengah selokan politik lintas partai dan daerah pemilihan,
Jika bercinta bisa menjadi tindakan politik, maka berpolitik juga bisa menjadi tindakan cinta. Dalil tersebut, dalam nada berbeda ditulis oleh Che Guevara, “Izinkan saya memberi tahu Anda, dengan risiko terdengar konyol, bahwa revolusioner sejati dipandu oleh perasaan cinta yang besar."
Orang-orang Yunani dan Romawi telah mengetahui bahwa salah satu hukuman bagi mereka yang menolak berpartisipasi secara aktif dalam politik adalah diperintah oleh orang-orang yang lebih rendah dari Anda.
Seperti sekarang, kita akan dipimpin oleh orang-orang penuh cinta dalam politik atau orang-orang penuh intrik politik demi cinta akan dirinya, partainya dan kepentingannya?
Saat Pemilu ini, kita pinjam pesan Zygmunt Bauman, seorang teoretis kritis dan sosiolog dari Polandia, bahwa “Politiklah yang mempunyai tanggung jawab untuk menjembatani kesenjangan hak dan kebebasan de jure dan hak dan kebebasan de facto."
Mari bersama merayakan Pesta Demokrasi di Negara kita dengan bebas dan penuh cinta.*
Ikuti berita POS-KUPANG.COM di GOOGLE NEWS
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Sakarias-Abduli_0005.jpg)