Puisi

Puisi Aster Bili Bora: Gula Semua

Gula Semua adalah puisi karya Aster Bili Bora, sastrawan NTT asal Kota Tambolaka, Kabupaten Sumba Barat Daya.

Editor: Agustinus Sape
Kolase POS-KUPANG.COM
Ilustrasi puisi Gula Semua karya Aster Bili Bora, sastrawan NTT asal Kota Tambolaka, Kabupaten Sumba Barat Daya. 

Aku anak kampung, kampungnya kampung dari udik sana
Tidak melihat motor kongkor apa lagi yang namanya mobil
Kutahan hati apa hendak dikata, ayah-ibuku orang menderita
Aku sekolah tidak sarapan, ikut jalan setapak penuh embun.

Tanteku yang cantik dan budiman riang gembira bawa gula
Tanteku semangat bercerita tentang enaknya hidup di kota
Ayah-ibu yang merindu aku peroleh bulan suatu hari nanti
Akhirnya memberi aku restu demi sebuah mimpi otak berisi.

Tante yang baik hati, cintamu tak terkira banyaknya kurasa
Sepertinya aku sudah tiba di bulan purnama sebelum waktu
Di rumah ini kurasakan nikmatnya empat sehat lima sempurna
Lagi pula pergi-pulang sekolah di atas mobil mewah Om Ganteng,
Suami tersayang tanteku tercinta selama-lamanya, amin.

Orang tuaku dengar aku hidup bahagia tak berkekurangan
Ayahku tahu diri berutang tidak mengirim biaya sebutir beras
Dua bulan berlalu ayah menyusul dengan bekal otot semata
Ayah bekerja seperti budak hingga malam sekadar ambil hati.

Mendengar kabar hama belalang menyerang ladang jagung
Ayah pamit minta pulang kampung dengan kantong kosong
Tidak mengapa, sudah syukur aku baik-baik saja bersekolah
Demi hadirnya kemewahan hidup di kampung suatu ketika.

Delapan bulan betapa kualami belu-belai kasih sayang tante
Di depan cermin aku senantiasa tersenyum melihat wajahku
Ternyata aku makin bertambah cantik mempesona aduhai
Kurasa benar pesan tante: pulang kampung bawa aroma kota.

Belum setahun berlalu, matahari dan bulan mati ditikam
Kini yang ada padaku hanyalah kelam malam tiada batasnya
Sekuat apa pun aku berjuang, semuanya telah sia-sia belaka
Kepada siapa aku bersandar? Semuanya sudah gelap gulita!

Akhirnya aku pulang membawa sesuatu yang bukan harapan:
Perut besar dengan janin bertanya: siapa dan yang mana ayahku?
Beginilah nasib orang menderita yang berharap belas kasihan
Beginilah nasib anak kampung mencari peruntungan di kota.

Berharap peroleh ilmu, sialnya yang kudapat ular kualat
Sungguh kejam..! Disekap dalam kamar tertutup rapat
Akan dihabisi nyawaku bila membongkar aib maksiat:
Suami tanteku sendiri, Om ganteng memperkosaku!
Ayah om ganteng kejam, kejam memperkosaku pula
Adik om ganteng lebih sadis lagi memperkosaku.

Kepada siapa aku akan mengadu? Saudaraku bukan polisi
Hanya pada Tuhan aku berserah dengan luka mendalam
Kiranya cukup kali ini saja kurasakan betapa sakitnya hati
Bersandar yang luarnya gula semua, dalamnya ulat semua

Tambolaka, 14 September 2023

Aster Bili Bora,sastrawan tinggal di Tambolaka, Sumba Barat Daya. Karya-karyanya terbaca di berbagai koran dan majalah, baik cetak maupun online.Antologi cerpennya: Bukan sebuah jawaban (1988), Matahari jatuh (1990), Bilang saja saya sudah mati ( 2021), Laki yang terbuang (2021). Karya novel yang sedang disiapkan: Laki yang kesekian-sekian. Antologi bersama pengarang lain: 1) Seruling perdamaian dari bumi flobamora tahun 2018 2) Tanah Langit NTT tahun 2021, 3) Gairah Literasi Negeriku tahun 2021, Guru Berkesan Tak Lekang Dari Ingatan tahun 2022, Geliat Literasi Mencerahkan Hati tahun 2023, Cambuk Kehidupan tahun 2023.

Ikuti berita POS-KUPANG.COM di GOOGLE NEWS

 

 

 

 

 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved