Kuliner NTT
Kuliner NTT, Minum Kopi Timor di KRI Multatuli, Wartawan Kompas Kena Tembak 4 Jurnalis Masuk Dili
kuliner ntt yang berbahagia beta minum kopi arabica Timor di KRI Multatuli menuju RDTL Republic Democratic Timor Leste
Penulis: Ferry Ndoen | Editor: Ferry Ndoen
Laporan Wartawan Pos-Kupang.com, Ferry Ndoen
POS- KUPANG.COM - Sahabat kuliner ntt yang berbahagia beta minum kopi arabica Timor pagi ini di rumah, ini kopi pahit tanpa gula.
Beta minum deng pisang goreng Timor panas panas sambil beta teringat kisah dan cerita perjalanan jurnalisttik saat menuju ke Kota Dili Bersama Kapal Markas (Kapal Induk,red) KRI Multatuli Milik TNi AL pada tahun 1999 silam.
Sahabat kuliner ntt yang berbahagia, kisah ini tak akan pernah hilang dalam ingatan dan sejarah, juga catatan jurnalistik di beta pung ingatan dan kepala.
Saat itu tanggal 6 September Tahun 1999, beta ditelepon oleh Redaktur Pelaksana (RedPel) Pos Kupang om Osi (Dion DB Putra), om Osi bilang om Fen, demikian panggilan akrab beta.
Om Osi bilang siap peralatan kerja. Nanti ke Kantor Setda Humas Pemda NTT untuk begabung dengan rekan wartawan lain/jurnalis.
Segera berangkat ke Kota Dili, Republic Democratic Timor Leste untuk buat tulisan reportase pasca beberapa jam Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) umumkan RDTL Merdeka jadi sebuah negara.
Beta sempat kaget, karena yang beta tahu Kota Dili sedang chaos, ato sedang kacau tanpa ada pemerintahan yang mengatur negara kecil yang baru merdeka beberpa jam lalu hasi pengumuman PBBB melalui referendum yang dilaksanakan PBB.
Mengapa harus ke Dili yang lagi Chaso? Karena ini sifatnya perintah, sebagai prajurit di lapangan ketika itu yang masih semangat di lapangan, beta hanya katakan siap.
Waktu itu, tanggal 6 September 1999 jam 15.00 Wita. Atau hari H pengumuman hasil referendum PBB jika RDTL berdiri menjadi sebuah negara otonom atau menjadi sebuah negara merdeka sesuai perhitunganhasil referendum oleh PBB.
Om Osi hanya pesan, siapkan peralatan kerja dan segera laporkan perkembangan terbartu ato catatan perjalanan (reportase) pada kesempatan pertama dan segera kirim ke Mabes Pos Kupang.
Beta hanya kata siap,walau hati sangat galau dan ada rasa ketakutan, Namun perintah pimpinan segera ke Dili, RDTL bersama KRI Multatuli.
KRI Multatuli sendiri adalah sebuah kapal markas yang saat itu ditugaskan Panglima TNI (Pemerintah Indonesia) agar segera merapat ke Dili.
Tujuannya, untuk menjaga segala sesuatu, serta kemungkinan jika terjadi pertempuran, atau pembunuhan atau hal hal yang bisa mengancam warga NKRI yang masih terjebak di wilayah RDTL.
Dan salah satu tugas utama Kapal Induk (Kapal Markas KRI Multatuli,red) adalah melakukan evakuasi warga NKRI yang ingin segera pulang ke Indonesia.
Dan yang beta ingat saat itu, operasi yang dilaksanakan KRi Multatuli selaku Kapal Induk yang mewakili Kapal Perang Terbesar yang diperintah Panglima TNI Cq Kepala Staf Angkatan Laut (KASAL) adalah melakukan operasi penyelamatan/operasi kemanusian ke Dili untuk menyelamatkan warga Indonesia yang terjebak
Atau warga Indonesia yang ingin bergerak/ingin pulang ke Indonesia, dan segera lakukan evakuasi ribuan warga RI.
Beta segera ke Humas Setda NTT di Kantor Gubernur NTT untuk menyelesaikan adminsitrasi dan registrasi wartawan/jurnalis yang namanya terdaftar dan ingin melakukan perjalanan reportase ke Kota Dili RTDTL.
Beta ingat waktu itu Karo Humas Setda NTT, yakni Drs. Nani Kosapilawan (alm).
Betapun mendaftarkan nama ke Humas Setda NTT bersama empat wartawan lainnya,
Kitong diberi sangu biaya perjalanan oleh Humas Setda NTT waktu itu uang jalan per orang sekitar Rp 450 Ribu.
Nilai ini jika dipikirkan memang sonde sebanding dengan tarurahan nyawa yang mesti kitong pertaruhkan.
Karena perintahnya harus membuat reportase perjalanan di daerah yang sedang chaos, daerah perang yakni ke Kota Dili.
Saat tanda tangan surat jalan dan terima uang biaya perjalanan, hati ini ju sangat bergolak dan bergejolak, karena kitong diperintahkan harus masuk ke daerah perang.
Atau masuk ke daerah zona merah yang sedang terjadi peperangan hebat dalam wilayah kota Dili -RDTL yang mana kota ini boleh dikatakan tanpa tuan.
Dan saat itu, juga ada pemberitaan di media TV bahwa ada wartawan Kompas yang tertembak di Dili saat bergeser ingin balik ke Kupang via perbatasan.
Sementara lima orang wartawan malah ditugaskan untuk masuk ke daerah perang yang mana saat itu Kota Dili sama sekali tidak ada pemerintahannya. Atau belum ada yang memerintah dan mengatur.
Sekitar jam 3 sore, beta bergerak dan diantar dengan mobil dari Korem 161 menuju ke Dermaga Pelabuhan Tenau- Kupang.
Yang beta ingat kitong yang berangkat ke Kota Dili pakai Kapal Markas KRI Multatuli, yakni Ferry Ndoen, S.Sos, Peter Rumlaklak (almarhum)/ (Reporter RRI Regional 1 Kupang).
Adhie Malehere/almahum (Wartawan Suara Pembaharuan yang sebelumnya adalah wartawan Harian Sinar Harapan) wartawan media nasional yang ditempatkan/domisili di Kupang-NTT.
Serta 2 orang wartawan TVRI- Kupang, satunya adalah pendampingi yang juga pegang kamera staf Humas Setda NTT, Nyong Oetemoesoe.
Yang beta ingat, kitong lima sampai di Dermaga Pelabuhan Tenau Kupang sekitar jam 4 sore
Lalu didaulat dan dipandu oleh kelasi KRi Multatuli masuk ruang kapal/ruang tidur VIP.
Kitong pung ditempatkan di kamar yang sangat ekslusif untuk tamu kapal.
Kamar itu seperti berada di sebuah kamar hotel dan sanagat luxury/mewah.
Lalu, kitong bersih bersih diri dan diberitahukan nanti jam 19.00 Wita ada jamuan makan oleh Komandan Kapal KRI Mutatul bersama Komandan Operasi GESER, Kolonel Laut (P) Surharso.
Lalu, kitong mandi dan bersih bersih diri. Saat kelasi KRI Multatatuli saat mau tinggal ruangan kamar, dia berpesan jika kira wartawan membutuhkan apa saja, bisa atau segera tekan tombol yang ada dalam ruangan dan nanti segera dilayani oleh kelasi KRI Multatuli.
Beta ingat, beta bersama Bung Adhie Malehere (alm) dan Bung Peter Rumlaklak (alm), kami saat itu masih sempat berdikusi banyak tentang perjalanan ke depan yang nanti penuh dengan bahaya.
Pasalnya, kitong ini bukan wartawan perang tapi kitong masuk dan melakukan reportase ke wilayah/daerah perang.
Hati ini juga sempat galau, karena beta ju ingat beta pung anak Oliver Kevin Ndoen, ST, saat itu masih kecil usia 3 tahun,
serta Stephanie Larasathi Ndoen, S.Ak yang saat itu masih berusia empat bulan di rumah, saat itu tanggal 6 September 1999 .
Waktu, detik demi detik bergerak terasa begitu cepat. detak bunyi jam di dinding kapal membuat perasaan beta menjadi galau.
Apalagi, di televisi diberitakan ada reporter Kompas yang tertembak di kaki di Kota Dili saat ingin bergerak pulang/ masuk ke Kupang.
Hati galau jika ingat anak yang masih kecil, lalu harus masuk ke daerah perang yang penuh risiko.
Pasalnya di Kota Dili semua pada saling curiga, dan tidak tahu mana kawan dan mana lawan.
Satu sama lain tidak tahun mana warga yang prokem (pro kemerdekaan) dan warga yang pro NKRI.
Ini yang membuat satu dan lainnya saling curiga dan saling membantai/saling membunuh di Kota Dili.
Saat jamuan makan malam, kami lima wartawan benar benar diberi tempat yang sangat terhormat di jamu langsung komandan kapal bersama Komanda Operasi "GESER''
Operasi GESER adalah sandi yang diberikan TNI AL untuk melakukan penyelematan kepada warag Indonesia yang ingin bergerak keluar Kota Dili.
Opoerasi GESER adalah operasi resmi Pemerintah Indonesia untuk menyelamatkan warga Indonesi yang terjebak sehingga tidak dibantai warga Prokem (pro kemerdekaan) yang mana semuanya juga bersenjata.
Saat makan malam di sebuah meja makan elite beralas kain putih bersih dengan aneka menu makanan, kami 5 wartawan (2 wartawan TVRi dan 2 wartawan media cetak sarta 1 reporter RRI Kupang( benar benar dijamu bagaikan raja di ruang makan yang sangat ekslusif.
Kami berlima makan bersama Kolonel Laut (P) Suharsono didampingi oleh Komandan KRI Multatuli yang berpangkat Letkol Laut (P), tapi beta lupa nama Komandan KRI Multatuli waktu itu.
Kitang makan sambil ngobrol dengan Kolonel Laut (P) Suharsono. Dan dari sisi kapasitas dan kepangkatan, Kolonel Laut Suharsono yang punya hak untuk memberikan penjelasan kepada media sebagai pimpin operasi GESER KE Kota Dili/RDTL.
Sementara Komandan Kapal hanya mendampingi dan hanya ikut dalam jamuan makan malam bersama sejumlah perwira kapal.
Saat kami 5 wartawan makan, disamping kami berdiri para kelasi KRI Multatuli yang siap melayani kami wartawan dalam hal teknis di ruang makan.
Kami benar benar dilayani sebagai tamu VIP dituangkan air ke dalam gelas, dan dilayani benar benar sebagai tamu kehormatan kapal.
SaaT itu, yang beta ingat Kolonel Lau (P) Suharsono menceritakan/bercerita kepadakami wartawan bahwa dirinya dipercaya/ditugaskan KASAL untuk sebuah operasi yang diberi nama/sandi OPERASI GESER.
Kolonel Laut Suharsono juga menjelaskan, dalam operasi ini, KRI Multatuli adalah sebagai kapal induk yang berfungsi sebagai kapal markas.
Kolonel Lau Suharsono lalu secara rahasia menceritakan kepada kami wartawan, bahwa sebagai pimpin Operasi GESER', dirinya saat ini membawa 2.000 pasukan bersenjata lengkap yang dipersenjatai dengan senjata serbu M-16 menuju ke Kota Dili.
Tugas dari operasi GESER adalah membantu mengevakuasi warga NKRI yang membutuhkan bantuan serta pertolongan armada transporasti dan ingin bergerak ke lokasi terdekat yakni ke Kota Kupang, cq PelabuhanTenau Kupang.
Kolonel Laut Suharono juga secara terang terangan menjelaskan, ini sebuah operasi yang penuh risiko karena harus berhadapan nantinya dengan orang orang/warga yang belum jelas dan belum diketahui identitasnya, namun mereka bersenjata.
jadi satu pesan yang disampaikan kepada kami wartawan agar saat melakukan liputan atau reportase di lapangan harus ekstra hati hati.
Kolonel Suharsono meminta kami berlima untuk mengutamakan keselamatan dan selalu menjaga diri.
Dia meminta jika memang situasinya genting dan tidak jelas sebaiknya jangan terlalu mendekat ke Pelabuhan Dili.
Kraerna sesuai info yang diperoleh, hampir semua yang berada di Pelabuhan semuanya bersenjata.
Kolonel Suharsono juga menceritakan selain KRI Multatuli membawa 2000 lebih pasukan marinir bersenjata lengkap, KRI Multatuli sebagai kapal markas ini dikawal 4 buah kapal fregat.serta sebuah kapal selam.
Menurutnya, KRI Multatuli sebagai kapal markas/kapal induk ini dikawal/diapit 5 buah fregat (kapal kecil) pengangkut pasukan namun kapal fregat gerakan lebih cepat termasuk untuk
manuver mengamankan pelayaran kapal induk KRI Multatuli bersam 2.000 pasukan marinir
Usai makan malam, kami pun beristirahat. Namun karena galau, kami tidak bisa beristirahat dengan tenang dan saat KRI Multatuli bergerak ke Dili, kami lima wartawan bersama seorang staf humas Setda NTT masih ngobrol di geladak kapal.
Tanpa terasa, jam 02.00 subuh, Kapal Markas KRI Multatuli sudah berlabuh di teluk laut perairan Kota Dili.
Jam 02.00 hingga jam 05.00 kami terus memantau Kota Dili dari Geladak KRi Multatuli.
Saat itu sudah terlihat dengan jelas suasana pertempuran, dan juga peperangan yang terjadi wilayah dalam Kota Dilli hingga ke arah atas pegunungan di atas Kota Dili.
Kami terus saja memantau Kota Dili dari geladak KRI Multatuli sambil dada ini terus berdebar.
Bagaimana besok pagi saat kami berempat harus turun dan masuk ke Kota Dili melewati Pelabuhan Kota Dili?
pertanyaan ini terus berkecamuk di pikiran dan perasaan, juga ada rasa takut bagaimana jika kami tertembak peluru nyasar.
Pasalnya, sejak jam 02.00 Wita saat kapal sudah mendekat ke perairan laut Kota Dili, dari atas geladak KRI Multatuli, kami sudah melihat percikakan api serta dentuman bunyi tembakan dan meriam yang berterbangan seperti bola api, terutama di daerah perbukitan di atas wilayah Kota Dili. Titik nyala api betrebaran di wilayah Dili saat dilihat dari geladak kapal.
Juga bunyi tembakanmemekan kesunyian malam di Kota Dili dan bunyi tembakan dan luncuran percikan api senjata terdengar dan terlihat sangat jelas dari atas KRI Multatuli.
Hati ini terus berdebar karena nanti subuh kami harus merapat ke Kota Dili melewati Pelabuhan Dili.
Hari masih gelap dan bunyi senjata serta eluncuran percikan api senjata terlihat bersileweran di daerah perbukitan dan di dalam Kota Dili.
Dan tanpa terasa kami terus memantau sitauasi Kota Dili dari geladak Kapal Perang Multatuli.
Dan waktu yang mendebarkan pun akhirnya sampai saat samar samar mentari mulai muncul di ufuk timur Pulau Timor.
Samar samar wajah Kota Dili mulai terlihat jelas dari geladak KRI Multatuli.
Dan saat waktu menunjuk pukul 05.00 Wita saat mentari mulai muncul perlahan di ufuk timur Pulau Timor, wajah Kota Dili mulai terlihat jelas.
Kami pun mulai bersiap siap setelah mandi pagi, mempersiakan peralatan. Kami pun mempersiapkan peralatan jurnalistik berupa kamera serta buku catatan untuk menulis setiap detik demi detik peristiwa yang mungkin terjadi.
Catatna ini nantinya yang menjadi catatan reporese jurnalitik di daerah perang di Kota Dili tanggal 6 September 1999 subuh.
Kami dijemput Kapal Fregat, salah satu dari empau unit fregat yang mengawal KRI Multatuli.
Dari atas kapal fregat, kami pun dijemput speed boat milik TN untuk menuju ke pelabuhan.
Speedboat ini merapat di lambung fregat lalu mulai membawa kami ke daerah pelabuhan.
Saat makan malam bersama Kolonel Laut (P) Suharsono, kami sudah diberi penjelasan secara detail soal KRI Multatuli
Kolonel Laut (P) Suharsono kepada kami wartawan hanya memberi pesan.
"adek adek, ini daerah perang.Kalian nantinya akan masuk ke daerah peparangan. Di sana,nantinya kalian tidak bisa membedakan mana kawan dan mana lawan.
Karena nantinya semua akan terlihat memegang senjata. Sementara kalian hanya memegang kamera, ini juga bisa memancing perhatian orang orang yang memegang senjata api.
Ini juga sangat berbahaya. Jadi, kalian harus super hati hati, dan jangan mengabadikan secara sembarangan ke sejumlah objek,
Karena ini nantinya bisa memancing marah orang orang yang semuanya itu memegang senjata.
Karenas saat itu, kita tidak bisa memprediksi mana kawan dan mana lawan.
Kita tidak bisa membedakan mana yang proKem dan Pro NKRI. Jadi harus super hati hati. Jika memang sangat membahayakan, sebaiknya tidak usah sampai ke daratan di Pelabuhan, karena sesuai info semuanya memegang senjata api," pesan Kolonel Suharsono.
Namun dia juga saat itu memberi tahu, bahwa dirinya juga di kawal oleh pasukan Katak namun jumlahnya terbatas hanya 6 orang.
Karena itu, Kolonel Suharono memberikan info jika kami wartawan nantinya akan dikawallhusus 4 pasukan Katak TNI AL.
Kolonel Suharosno menjelaskan, jika kemampuan empat pasukan katak ini di atas rata rata. Mereka punya kemampuan di atas marinir.
{asukan Katak TNi AL ini seperti Kopasus nya di TNI AD.
Nanti saya akan memberikan 4 pasukan kawal yang setiap hari mengawal saya untuk nantinya mengawal kalian saat menggunakan fregat dan speed boat menuju ke Pelabuhan.
Kolonel Suharsono juga memberi penjelasan dan bercerita soal kemampuan Pasukan Katak TNI AL.
Pasukan Katak TNI AL ini meiliki kemampuan di atas marinir. Mereka dilengkapi senjata USI, senjata elite buatan Israel.
Jika marinir memegang senjata serbu M-16, maka Pasukan Katak TNi AL mememegang USI.
KRI Multatuli selaku kapal induk (kapal markas) berlabuh di tengah laut diperairan Dili.
KRI Mulatuli ini di kawal oleh empat kapal fregat dari empat penjuru saat pelayaran dari Kupang menuju ke Pelabuhan Dili.
Danbenar, saat kami naik ke kapal fregat, lalu berpindah ke Speed Boat milik TNI AL,kami di kawal 4 orang Pasukan Elite TNI AL, yakni Pasuka Katak.
Empat pasukankatak ini berdiri pada empat sisi mengawal kami yang mana 2 pasukan katak berada di sisi haluan speed boat milik TNi AL.
Dua pasukan Katak lainnya berdiri di buritan speed boat.
Mereka berempat memegang senjata serbu elite buatan Israel yakni senjata USI
Senjata ini terlihat lebih ringkas, terlihat llebih pendek dan bisa dilipat.
Senjata Usi ini disilangkan di dada mereka. Dan di sisi kanan terlihat 2 senjata revolver melekat di sisi kiri dan kanan paha empat pasukan Katak TNI AL ini.
Mata mereka terlihat tertuju ke area depan saat speed boat mulai merapat ke daerah dermaga Pelabuhan Kota Dili.
4 Pasukan KATAK TNi AL ini terlihat sepertinya mengurung kami empat wartawan di tengah, sementara wartawan TVRI Kupang di haluan dan menyoroti ke depan.
Saat itu terlihat pasukan kat elite TNI AL ini juga sangat tegang.
Pasalnya, mereka berempat dipercayakan mengawal 4 wartawan yang berada di speeedaboat milik TNI AL.
Dan boleh dikatakan, nyawa empat wartawan ini menjadi taruhan bagi mereka dan mungkin juga karier mereka jika terjadi apa apa, atau jika terjadi kontak senjata.
Saat itu, kami wartawan juga tegang dan swdikti agak ketakutan karena ini menyangkut nyawa.
Apalagi nyawa tidak dijual di toko.'Jika terkena tembakan, yang ada hanya dua kata, mati atau hidup.
Speed boat secara perlahan bergerak menuju ke Pelabuhan Kota Dili, bergerak dari Pelabuhan tenau Kupang memasuki perairan Laut Timor menuju ke perairan Timor Leste
.Udara masih sangat dingin dan udara laut terasa menusuk kulit,
saat itu,, beta menggunakan rompi sambil menggantung alat potre Tustel/Kamera Nikon FM milik kantor Pos Kupang.
Beta sudah mengisi kamera Nikon dengan film baru ASA 400 Fuji Film untuk memotret setiap moment yang ditemukan di dermaga Pelabuhan Dili.
Jantung terus berdebar saat speed boat secara perlahan mulai bergerakmamasuki bibir Pelabuhan Dermaga pelabuhanKota Dili.
Di Tengah hati yang sedang galau dan sedikit ada ras ketakutan karena mulai terlihat dengansamar wajah wajah orang yang sangat bengis bersenjata di atas deramaga.
Du tengah rasa takut, dan kapten speed boat atntara mau merapat k bibir dermaga PelabuhanDili dan tidak mau merepat.
Tiba tiba seorang anggota Pasukan Katak beteriak dari belakang mecah kesunyian di pagi hari saat wajah bengis orang orang bersenjata mulai terlihat jelas di bibir di atas dermaga Pelauhan Kota Dili.
Dengan lantang salah satu anggota pasukan Katak TNI AL ini berteriak lantang, adek adek, sebaikny kita jangan merapat apalagi naik ke dermaga Pelabuhan Dili.
Saya tidak bisa menjamin jika di atas kita akan berbenturan (kontak senjata) dengan orang orang di atas dermaga karena banyak diantara mereka yang memegang senjata.
Sebaiknya kita kembali ke kapal fregat dan kembali ke kapal markas KRI Multatuli. Ini semua demi kesemalatan jiwa teman teman wartawan.
Kami pun langsung menyatakan setuju, sebaiknya kita kembali ke kapal markas KRI Multatuli.
Saat itu kapten speed boat pung dengan gesit melambung dan memutar haluan kapal kembali ke KRi Multatuli setelah speed boat menyentuh bibir tembok Pelabuhan Dili.
Saat dalam pelayaran balik ke kapal markas KRI Multatuli ini, baru kami melihat wajah empat pasukan= Katak yang tadinya tegang bisa sedikit legah.
Saat itu bisa melihat jelas, pasukan katak ini melintangkan senapan elite USI buatan Israel, dan di sisi kiri kanan terlihat senjata pistol FN 45 buata Amerika Serikat.
saat itu barulah terlihat wajah tegang pasukan elite PasukanKatak TNi AL bisa bernafas lega setelahkembai ke KRi Multatutli,
Pasalnya, ditanganmereka 4 wartawan ini diperintah untuk dikawal dan dijaga keselamatan mereka.
Salah satu pasukan elite TNI AL ini pun bercerita jika saat itu sangat tegang, karena nyawa empat wartawan ini dipercayakan kepadamereka 4 pasukan KATAK TNI AL untuk dijaga dan dikawal keselamatannya.
Saat kembali ke geladak KRi Multatuli dan bertemu Kolonel Suharsono, saat itu barulah kami secara perlahan bisa melihat ternyata benar apa yang dikatakan Kolonel Lau (P) Suharsono.
Saat udara pagi sudah cerah, kami bisa melihat dengan jelas ribuan pasukan marinir yang berada di perut KRi Multatuli.
'Mereka berseragam lengkap dan semuanya memegang senjata serbu M-16 atau senjata serbu buatan Amerika Srikat.
Kurang lebih sekitar jam 10.00 Wit, KRI Multatuli secara perlahan mulai merapat ke Dermaga Pelabuhan Kot Dili.
Dan kami pun akhir bisa melakukan potret Pelabuhan Kota Dili dari atas geladak KRi Multatuli.
Dan saat itu, kami sanksikan langsung bagaimana pasukan Marinir bersenjata lengkap M-16 secara tiba tiba turun dari mulut pintu KRi Multatuli dan memenuhi Pelabuhan KKota Dili.
Pasukan marinir secara elite membuat formasi dan langsung mengepung Pelabuhan Kota Dili dengan senjata stan by di tubuh masing masing.
dan dengan cekatan, mereka bergerak meminta warga yang berada di atas PelabuhanKota Dili yang ingin evakuasi agar segera naik ke geladak kapal KRI Multatuli.
dan terlihat warga yang berada di atas pelabuhan pun mulai bergerak perlahan menaiki KRi Multatuli.
Namun sebelum naik, seluruh bawaan warag diperiksa secara detail oleh pasukan marinir yang langsung memenuhi Pelabuhan Laut Kota Dili.
'Setai warag yang akan naik ke atas kapal diperiksa satu persatu barang bawaannya.
Saat itu ditemukan banyak senjata api yang ada tas dan juga ransel bawaan mereka.
Selain senjata api rakitan, yang terlihat granat tangan yang disembunyikan di dalam tas warga yang naik ke atas kapal.
Semua jenis senjata dan granat langsung di sita marinir.'
Dan terpantau ada ratusan senjata api standar dan senjata api rakitan berhasil diamanan pasukan marinir di atas geladak KRI Multatuli
Operasi GESER ini berlangsung hnbgga sore hari sebelum KRi Multatuli bergerak kembali ke Palbuhan tenau Kupang.
Dalam perjalan menuju ke kupang, kami diperisilakan oleh Kolonel Suharosno untuk mengabadikan dan mengambil gambar senjata hasil sitaan yang di taruh di atsa geladak KRi Multatuli.
Kami pun tak menyia nyiakan momentum ini untuk mengambil gambar secara jelas untuk dibuatkan reportase atau catatan perjalanan saat menuju daerah perangyang menjadi sebuah negara tanpa pemerintahan hasil referendum PBB pada 6 September 1999.
Inilahan catat secangkir kopi dan reportase yang masih melekat dalam ingatan wartawan senior Ferry Ndoen, S.Sos, 22 tahun silam.
Dan secangkir kopi panas jenis arabica Timor menjadi suguhan untuk mengenang kembali saat bersama 4 wartawan teman seangkatan duduk minum kopi Timor bersama Kolonel Laut (P) Suharsono di Kapal Markas (Kapal Induk) KRI Multatuli.
Inilah catatan detik detik PBB mengumumkan hasil referendum RDTL 6 September 1999 sebuah catatan memasuki daerah perang Timor Lesta untuk sahabat kuliner ntt
Selamat menikmati secangkir kopi panas Arabica Timor dan kue pisang panas ala Ferry Ndoen. (Penulis Ferry Ndoen).
Baca juga: Kuliner NTT, Informasi Harga Pisang Raja, Timor Asli dari Kebun Amarasi vs Istri Tanduk Suami

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.