Senin, 27 April 2026

Berita NTT

Penyakit Gagal Ginjal Bukan Akhir dari Hidup

Penyakit gagal ginjal yang menjadi momok bagi sebagian besar masyarakat bukanlah akhir dari hidup seseorang. 

Penulis: Michaella Uzurasi | Editor: Oby Lewanmeru
POS-KUPANG.COM/IWA
PODCAST - Dokter Spesialis Bedah Konsultan Vaskular dan Endovascular RS Siloam Kupang, dr. Teguh Dwi Nugroho, SpB, SubSP, BVE (K), Head of Marketing RS Siloam Kupang, Iin dan Kepala Ruangan Hemodialisis Siloam kupang, Ratna Melinda Bakker, bersama host jurnalis Pos Kupang Ella Uzurasi, Senin 8 Mei 2023. 

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Michaella Uzurasi

POS-KUPANG.COM, KUPANG - Penyakit gagal ginjal yang menjadi momok bagi sebagian besar masyarakat bukanlah akhir dari hidup seseorang. 

Demikian disampaikan Dokter Spesialis Bedah Konsultan Vaskular dan Endovascular RS Siloam Kupang, dr. Teguh Dwi Nugroho, SpB, SubSP, BVE (K) ketika menjadi narasumber dalam podcast Pos Kupang bersama Head of Marketing RS Siloam Kupang, Iin Harun dan Kepala Ruangan Hemodialisis Siloam Kupang, Ratna Melinda Bakker, Senin, 8 Mei 2023. 

Dikatakan dr. Teguh, para pasien gagal ginjal harus melakukan prosedur cuci darah jika sudah pada stadium akhir. 

Baca juga: Nonton Bareng Film 3D, RS Siloam Kupang Beri Edukasi Pentingnya Menjaga Kesehatan Otak

"Stadium akhir itu memang pasien yang sudah gagal ginjal, ginjalnya gagal berfungsi. Kalau kita ngomong secara kedokteran selalu ada dua. Ada struktur ada fungsi. Strukturnya mungkin baik tapi fungsinya nggak bisa. Nah karena tidak berfungsi dengan baik makanya ginjalnya digantikan fungsinya dengan cuci darah," kata dr. Teguh.

Hemodialisa sendiri, lanjut dia, adalah salah satu dari beberapa cara untuk menggantikan fungsi ginjal yang sudah tidak baik pada pasien gagal ginjal. 

"Itu ada juga banyak orang di NTT yang menderita gagal ginjal. Jadi penderita gagal ginjal itu bukan cuma di Kota besar, di Jawa, di luar negeri, nggak. Di NTT pun ternyata banyak," ujarnya. 

Baca juga: BPOM dan Kemenkes Berkolaborasi Hadapi Kasus Gagal Ginjal Akut

Di NTT yang memiliki 22 kabupaten/ kota, kata dr. Teguh, ternyata cuma 7 daerah saja yang mempunyai fasilitas cuci darah.

"Itu saja sudah jadi masalah kan? Bahwa sebenarnya di kabupaten yang tidak mempunyai fasilitas cuci darah bukan berarti tidak ada pasien gagal ginjal di sana," katanya. 

Di Kota Kupang saat ini pun tidak semua rumah sakit mempunyai fasilitas gagal ginjal. Hanya ada tiga yang memiliki fasilitas ini yakni RS Siloam, RSU W.Z Yohannes, RS Leona.

Baca juga: IDAI NTT Sebut Ada Lima Daerah di NTT Laporkan Kasus Gangguan Ginjal Akut Misterius

"Yang akan ada kedepan mungkin RS Bhayangkara, RSUP Ben Mboy juga bakal ada di sana tetapi tidak semua rumah sakit punya fasilitas itu.  Jadi orang - orang yang gagal ginjal hanya terfokus pada beberapa rumah sakit. Misalnya di Pulau Timor sendiri, di Kefa, di Soe tidak ada. Di Atambua ada, jumlahnya juga tidak banyak di sana. Di Malaka belum ada. Jadi apakah di Malaka tidak ada orang yang gagal ginjal? Ada. Ke mana mereka berobat, paling dekat ya ke Atambua kalau tidak ke Kupang," jelas dr. Teguh. 

Menurut dr. Teguh, tidak semua pasien gagal ginjal itu penyebabnya sama dan tidak semua pasien gagal ginjal itu cuci darah seumur hidup tetapi tergantung dari penyebabnya. 

Baca juga: Kabar Gembira, RS Siloam Kupang Sediakan Cath Lab Kateterisasi Jantung

"Apabila penyebabnya bisa dihilangkan, misalkan ada batu di saluran kencing yang menyumbat ginjal, apabila batunya dihilangkan, sembuh dia. Nggak perlu cuci darah lagi tapi apabila ada penyebab yang tidak bisa disingkirkan maka dia perlu penanganan cuci darah dalam waktu yang cukup lama," ungkapnya. 

Kepala Ruangan Hemodialisis Siloam Kupang, Ratna Melinda Bakker dalam kesempatan yang sama mengungkapkan, prosedur hemodialysis (HD) sendiri sudah ada di RS Siloam sejak tahun 2015. 

"Awalnya itu kita masih empat mesin kemudian kita naik sembilan mesin, naik empat belas mesin. Untuk saat ini yang berjalan ada delapan belas mesin," kata Linda.

Baca juga: Kadis Kesehatan TTS Dokter Irene Atte Tak Sadarkan Diri, Dirujuk ke RS Siloam Kupang

Pasiennya sendiri kurang lebih sekitar 140-an orang yang sedang menjalani prosedur cuci darah di RS Siloam Kupang

"Shift pelayanan kita juga ada pagi sama siang, tidak menutup kemungkinan kita melayani pasien itu sampai selesai kemudian jika ada pelayanan Sito itu pasti kita layani di luar hari kerja. Kita kan kerjanya dari hari Senin sampai Sabtu, untuk hari Minggu jika ada pasien yang betul - betul membutuhkan pelayanan cuci darah tetap kita layani," ungkapnya. 

Pelayanan pun bisa dilakukan dari jam 7 pagi sampai jam setengah 9 malam namun disesuaikan juga dengan kebutuhan pasien yang menjalani perawatan. 

Durasi waktu yang diperlukan untuk menjalani prosedur cuci darah juga cukup lama yakni lima jam untuk yang menjalani prosedur ini seminggu dua kali dan empat jam untuk yang menjalani prosedur cuci darah tiga kali seminggu.

 


Head of Marketing RS Siloam Kupang, Iin juga menyampaikan, RS Siloam juga menyediakan layanan medical check up yang harganya berkisar mulai dari Rp800.000.

Untuk detailnya sendiri bisa diakses informasi di media sosial. Selain itu, pasien juga bisa mengakses informasi dan melakukan janji dengan dokter melalui aplikasi My Siloam.

Tidak hanya itu, RS Siloam juga menyediakan layanan home care untuk jenis pelayanan perawatan luka, pemasangan NGT dan pemasangan kateter urine. 

Fasilitas penunjang yang ada di RS Siloam antara lain kamar operasi, ambulans dan UGD 24 jam, laboratorium, radiologi, rehabilitasi medik, farmasi, unit medical check up, unit hemodialisa, klinik TB Dots dan klinik asma. (uzu)

Ikuti berita POS-KUPANG.COM lainnya di GOOGLE NEWS 

Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved