Berita Alor

Kasus ASF di Alor Belum Bisa Dipastikan

terjadi kasus serupa di wilayah Desa Maritaing, Desa Kolana Utara, Desa Elok, dan Desa Belemana, Kecamatan Alor Timur.

Editor: Rosalina Woso
POS-KUPANG.COM/HO DINAS PETERNAKAN KAB. ALOR
SOSIALISASI PMK  - Dinas Peternakan Kabupaten Alor melakukan sosialisasi penyakit hewan menular, dan peningkatan pengawasan, pencegahan penyakit mulut dan kuku kepada warga Desa Maritaing Kabupaten Alor. 

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Else Nago

POS-KUPANG.COM, KALABAHI – Maraknya virus African Swine Fever (ASF) yang menyerang ternak babi di sejumlah Kabupaten/Kota di Provinsi NTT membuat warga resah.

Demikian pula dengan Kabupaten Alor, di mana pada tahun 2022 telah terjadi kematian babi namun belum bisa dipastikan sebagai ASF.

Hal ini dikarenakan sampel darah babi yang diduga terserang virus ASF, masih diperiksa di Laboratorium Balai Besar Veteriner (BBVET) Denpasar dan belum memperoleh hasil.

Baca juga: Ganjar Milenial Gelar Lomba Tari Lego-Lego Bareng Anak Muda di Kabupaten Alor NTT

Ditemui di ruang kerjanya, Rabu 25 Januari 2023 Kanisius Radja, S. TP selaku Kepala Bidang Keswan, Kesmavet, Pengolahan dan Pemasaran Dinas Peternakan Kabupaten Alor mengungkapkan sejumlah kasus kematian babi. Dari gejala klinis yang ditemukan mengarah pada penyakit ASF.

“Tahun 2022 di sekitar bulan Juni, muncul kasus kematian babi di Kelurahan Kalabahi Tengah. Setelah kami mendapat laporan ada kasus di sana, kami langsung turunkan semua tenaga lapangan untuk melakukan pengendalian penyebaran virus dengan melakukan penyemprotan disinfektan di kandang. Penyemprotan ini tidak hanya di kandang  ternak yang sakit, tetapi juga kandang ternak yang ada disekitarnya,” ujar Kanisius.

Kemudian pada bulan Agustus kembali terjadi kasus serupa di wilayah Desa Maritaing, Desa Kolana Utara, Desa Elok, dan Desa Belemana, Kecamatan Alor Timur.

“Bulan Agustus kita mendapat laporan ada kasus kematian babi di Maritaing.  Itu sudah menyebar baru kita dapat laporan. Jadi ada babi yang sakit dipotong lalu dijual ke tetangga, dan ke masyarakat di desa tetangga makanya menyebar ke Desa kolana utara 96 ekor,  Desa Elok 7 ekor, dan Desa Belemana 2 ekor . Kami segera turunkan petugas lapangan untuk penyemprotan dan juga sosialisasi kepada masyarakat tentang virus ini dan cara penanganan jika ada babi yang mati,” tutur Kanisius.

Baca juga: KPU Alor Tanggapi Tuduhan Kecurangan Seleksi PPS

Dinas Peternakan Kabupaten Alot tidak hanya menyemprotkan disinfektan, namun juga mengadakan sosialisasi kepada pemerintah desa dan masyarakat agar masyarakat dan peternak bisa mengenali gejala klinis ASF, mencegah penyebaran virus, dan melakukan penanganan apabila terjadi kematian hewan. Dinas Peternakan Kabupaten Alor juga terus memantau beberapa titik yang pernah terjadi kematian babi.

"Karena upaya yang kami lakukan untuk mencegah persebaran virus, sampai dengan saat ini di tahun 2023 belum ada kasus kematian babi," kata Kanisius.

Sementara itu, Drh. Asriyani Dopongtonung selaku Dokter Hewan di Dinas Peternakan Kabupaten Alor  menyampaikan terkait penyakit ASF dan tanda-tanda klinis yang dapat dikenali oleh peternak.

“Penyakit ASF atau African Swine Fever penyebabnya adalah virus. Sehingga tidak ada obatnya hanya bisa dicegah dengan vaksinasi. Namun sampai saat ini belum ada vaksin, hanya ada serum Konvalesen yang merupakan serum dari babi yang sembuh dari penyakit ASF. serum tersebut mengandung antibodi terhadap penyakit ASF. sehingga diharapkan serum konvalesen ini sebagai alternatif dalam pencegahan penyakit ASF. Gejala klinis yang muncul yakni ada bintik-bintik kemerahan di daerah sekitar perut, telinga, demam (41 derajat celcius), kehilangan nafsu makan itu yang secara klinis bisa dilihat oleh peternak.,”  kata Asriyani.

Menurut Asriyani, karena penyebab ASF ini adalah virus sehingga  peneguhan diagnosanya harus dilakukan pengambilan sampel darah atau organ dari babi yang sakit untuk di uji laboratorium.

Baca juga: Natal 2022, Umat Nasrani dan Muslim Rayakan Natal Bersama di Kecamatan Pantar Timur Alor

“Kasus yang terjadi beberapa bulan terakhir ini kami baru menduga ASF, karena untuk pastinya terjangkit ASF atau tidak harus mengambil sampel darah dari hewan yang memiliki gejala klinis ASF dan diperiksa di laboratorium. Kasus di Maritaing itu kami ambil sampel darahnya lalu dikirim ke laboratorium BBVET DENPASAR  untuk diperiksa, namun sampai sekarang kami belum memperoleh hasilnya,” terang Asriyani.

Penyemprotan desinfektan kandang dianggap sangat bermanfaat untuk memutus mata rantai penyebaran virus. Demikian Asriyani menyampaikan himbauannya kepada warga agar mencegah penyebaran virus ASF.

“Pertama kita bersama-sama mengawasi lalu lintas ternak babi dan produk asal ternak (daging, se'i, sosis, bakso) babi karena penyebaran utama dari ASF ada di lalu lintas sehingga tidak boleh membawa masuk ternak babi dan produknya dari daerah yang tertular ke daerah bebas. Kedua, jika ada ternak yang sakit jangan dipotong dan dibagikan atau dijual ke masyarakat. Ketiga ternak yang mati harap untuk di kuburkan. Keempat limbah rumah tangga seperti air cucian daging  babi, makanan sisa yang mengandung daging babi harap tidak diberikan kepada ternak babi. Kelima apabila ada ternak yang sakit segera melapor ke dinas peternakan kab. alor atau petugas dinas peternakan terdekat,” ujar Asriyani mengakhiri wawancara. (cr19).

Ikuti Berita POS-KUPANG.COM Lainnya di GOOGLE NEWS

Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved