Australia Tahan Nelayan Rote

8 Nelayan Asal Rote Ndao Ditahan Australia, DKP NTT Tunggu Koordinasi KKP

koordinasi itu bisa saja berupa pembebasan nelayan beserta kapal atau hanya melakukan pemulangan nelayan sementara kapalnya

Editor: Rosalina Woso
8 Nelayan Asal Rote Ndao Ditahan Australia, DKP NTT Tunggu Koordinasi KKP
POS-KUPANG.COM/HO
PENAHANAN - Foto para nelayan ketika ditahan Polisi Perairan Australia

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Irfan Hoi

POS-KUPANG.COM, KUPANG - Delapan nelayan tradisional asal Kabupaten Rote Ndao ditahan Pemerintah Australia beberapa waktu lalu. 

Penahanan para nelayan lokal itu karena diduga melanggar batas perairan negara tersebut. Saat ini kedelapan nelayan belum dibebaskan untuk kembali ke kampung halamannya. 

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) NTT Stefania Tunga Boro, Jumat 2 Desember 2022, menyebut pihaknya masih menunggu koordinasi dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) RI perihal masalah ini. 

Baca juga: Daftar UMP NTT Selama Lima Tahun Terakhir, Trennya Terus Meningkat

"Nanti kita tunggu saja . Biasanya Australia koordinasi dengan KKP dan KKP akan koordinasi dengan kita," katanya dihubungi. 

Stefania mengaku, koordinasi itu bisa saja berupa pembebasan nelayan beserta kapal atau hanya melakukan pemulangan nelayan sementara kapalnya tetap ditahan Australia

Dia tidak menjelaskan lebih jauh mengenai hal itu. Namun, dia berjanji akan menyampaikan perkembangan terbaru tentang masalah demikian, jika sudah ada hasil koordinasi bersama KKP. 

Para nelayan diketahui ditangkap pada 3 November 2022 Australia Border Force (ABF) atau polisi perairan Australia  beserta dua kapal penangkap ikan. 

Baca juga: Pengamat Hukum Unwira Kupang, Mikael Feka Apresiasi Kapolda NTT Dalam Aplikasikan Presisi Polri 

Adapun nelayan yang ditahan antara lain; 

1. Muhamad Rian Arif 
2. Muhamad Yamin Puling 
3. Muhamad Djalilang 
4. Safarin
5. Laudi
6. Ramos Pello
7. Asal Salem
8. Dewa Polina 

Sebelumnya, pemegang mandat Hak Ulayat Masyarakat Adat NTT Timor-Rote-Sabu-Alor, Ferdi Tanoni menyebut perlakuan Australia ke nelayan Indonesia sudah berlebihan. 

Ferdi menggapai aksi penangkapan dan penahanan 8 orang nelayan tradisional asal Rote Ndao di wilayah Pulau Pasir, oleh Pemerintah Federal Australia

"Perlakuan Australia terhadap nelayan tradisional Laut Timor sudah berlebihan," katanya, Kamis 1 Desember 2022 ketika dihubungi. 

Ferdi yang juga Ketua Yayasan Peduli Timor Barat menyebut, selain penangkapan dan penahanan, perauh nelayan tradisional itu juga ditenggelamkan disekitar gugusan Pulau Pasir. 

Baca juga: Kuliner Khas NTT, Bunga Pepaya vs Daun Ubi Ibarat Belanda vs Equador di Piala Dunia 2022 Skor 2 - 1

Aksi Pemerintah Australia, sebut Ferdi, juga menuntut para nelayan membayar  20.000 dolar Australia karena kedapatan melanggar sekitar 5 mil batas laut.

Ia bahkan mendorong Pemerintah provinsi NTT agar menggugat Australia di Pengadilan Commonwealth  Canberra.

Ferdi Tanoni menduga Australia sengaja menggiring perahu para nelayan ke dalam wilah ZEE Australia lalu melakukan penangkapan. 

"Mungkinkah Pemerintah Australia ini bersahabat dengan Indonesia atau ingin mencari gara-gara untuk menguasai Gugusan Pulau Pasir," kata Ferdi bertanya. (Fan)

Ikuti Berita POS-KUPANG.COM Lainnya di GOOGLE NEWS

Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved