Berita Internasional

Bom Guncang Istanbul Turki, 6 Orang Tewas 53 Korban Luka Luka, Presiden Erdogan Murka

Bom meledak di Istiklal Avenue, Istanbul, Turki pada Minggu 13 November 2022 sekitar pukul 13.30 waktu setempat atau 16.20 WIB.

Editor: Alfons Nedabang
Twiter Nurettin Sonmez
Bom mengguncang Istiklal Avenue, Istanbul, Turki pada Minggu 13 November 2022 sekitar pukul 13.30 waktu setempat atau 16.20 WIB. Sebanyak 6 orang tewas dan 53 korban lainnya luka-luka. 

POS-KUPANG.COM - Bom mengguncang Istiklal Avenue, Istanbul, Turki pada Minggu 13 November 2022 sekitar pukul 13.30 waktu setempat atau 16.20 WIB.

Ledakan itu menewaskan 6 orang dan 53 korban lainnya luka-luka.  Empat orang meninggal di lokasi kejadian, dan dua orang meninggal di rumah sakit.

Lokasi Istiklal Avenue merupakan kawasan padat pejalan kaki.

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengatakan ledakan bom di Istanbul disebabkan oleh 'serangan bom' di jalur pejalan kaki utama kota, setidaknya enam orang telah meninggal dunia.

Berbicara sebelum keberangkatannya ke KTT G20 di Bali pada Minggu 13 November, Presiden Erdogan mengatakan ledakan itu adalah "serangan berbahaya" dan pelakunya akan dihukum.

"Empat orang tewas di tempat kejadian dan dua di rumah sakit," kata Presiden Erdogan.

Sementara itu 53 lainnya dilaporkan mengalami luka-luka menurut informasi yang dia terima dari gubernur Istanbul sebagaimana dilaporkan AP.

Penyebab ledakan di Istiklal Avenue tidak segera jelas.

Baca juga: BABAK BARU Perang Rusia Ukraina, Pejabat Dua Negara Siap Duduk Satu Meja di Istanbul 

Sementara lima jaksa ditugaskan untuk menyelidiki ledakan itu, menurut kantor berita Anadolu.

Sebuah video yang diunggah online menunjukkan api meletus dan ledakan keras terdengar, mengakibatkan pejalan kaki berbalik dan melarikan diri.

Rekaman lain menunjukkan ambulans, truk pemadam kebakaran, dan polisi di tempat kejadian.

Pengguna media sosial mengatakan kemudian toko-toko dan jalan ditutup.

Pengawas media Turkiye memberlakukan larangan sementara untuk melaporkan ledakan, sebuah aturan yang mencegah penyiar menampilkan video saat ledakan atau setelahnya.

Dewan Tertinggi Radio dan Televisi negara itu telah memberlakukan larangan serupa di masa lalu, menyusul serangan dan kecelakaan.

Halaman
12
Sumber: Kompas.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved