Opini
Opini : Apa Kabar Stunting di NTT?
Stunting atau tubuh pendek atau sering dikenal dengan “manusia kerdil” aldalah kondisi gagal tumbuh pada anak akibat kekurangan gizi kronis.
Oleh : Katharina Kojaing
Dosen FKIP Unwira Kupang, Pendamping KKNT Unwira Kelurahan Oepuah Selatan 2022
KEBERADAAN Stunting di wilayah NTT masih menjadi momok yang mengkhawatirkan. Stunting atau tubuh pendek atau sering dikenal dengan “manusia kerdil” aldalah kondisi gagal tumbuh pada anak akibat kekurangan gizi kronis dan infeksi berulang, utamanya pada periode 1.000 hari pertama kelahiran (hpk).
Periode ini dimulai dari janin hingga anak berusia 24 bulan. Di Indonesia, kemunculan stunting sudah lama. Sejak Orde Lama (Orla) hingga Orde Baru (Orba) pemerintah gencar melakukan program perbaikan gizi baik di tingkat pusat maupun daerah guna menekan stunting. Tidak hanya itu, perjuangan pemeritntah melawan stunting pun terus berlanjut hingga sekarang.
Lalu bagaimana perkembangan stunting di NTT dalam lima tahun terakhir? Hasil Pantauan Status Gizi (PSG) pada tahun 2017 mencatat bahwa prevalansi stunting balita tertinggi diraih Provinsi NTT yang mencapai 40,3 persen, yang terdiri dari bayi dengan kategori sangat pendek 18 persen dan pendek 22,3 persen.
Kemudian pada tahun 2018 data Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat presentasi balita stunting teringgi dalam skala nasional ditempati Propinsi NTT yakni 42,7 persen, disusul Sulawesi Barat 41,6 persen. Lalu pada tahun 2019 angka tersebut turun menjadi 27,67 persen, tahun 2020 terus menurun menjadi 24,2 persen, dan pada tahun 2021 turun lagi menjadi 20,09 persen.
Kemudian pada 2022 data yang dilansir oleh stunting.go.id (18-08-2022) menyebutkan NTT merupakan daerah dengan prevalensi stunting tertinggi di Indonesia, yakni mencapai 37,8 persen. Juga data yang dihimpun oleh VictoryNews (23-03-2022) mencatat adanya kenaikan sebanyak 1,1 persen.
Hasil ini diketahui setelah Kelompok Kerja (Pokja) Penanganan Stunting di NTT melakukan evaluasi operasi timbang periode Februari yang dirampungkan pada 18 Februari 2022 lalu.
Kita lihat, dari data selama empat tahun berturur-turut grafik menunjukan angka stunting mengalami penurunan drastis hingga mencapai 20,09 persen (dari sebelumnya 42,7 persen), namun pada 2022 angka ini kembali melonjak naik menjadi 37,8 persen.
Musuh Besar yang Harus Diperangi
Perpres RI No. 72 tahun 2021 tentang Percepatan Penurunan Stunting menjelaskan bahwa stunting adalah bentuk kekurangan gizi kronis. Ini ditandai secara fisik, balita stunting memiliki tinggi badan di bawah standar pertumbuhan anak normal seusianya pada populasi, sesuai rujukan World Health Organization (WHO).
Beberapa penyebab stunting antara lain faktor keluarga dan rumah tangga seperti; maternal/kesehatan ibu (nutrisi yang kurang pada saat prekonsepsi, kehamilan dan laktasi akibat mitos masyarakat, tinggi ibu yang rendah, infeksi, kehamilan pada usia remaja, jarak kehamilan yang terlalu dekat). Sedangkan faktor lingkungan seperti; stimulasi dan aktivitas anak kurang, sanitasi dan pasokan air yang buruk, ketersediaan pangan yang sulit, makanan yang kurang sesuai, dan edukasi pengasuh yang rendah.
Faktor lain seperti kualitas makanan yang rendah, kurangnya sumber makanan hewani, makanan yang terkontaminasi, kurangnya kebersihan makanan, pemberian Air Susu Ibu (ASI) yang terlambat atau ASI tidak ekslusif, infeksi klinis seperti diare, infeksi cacing, infeksi pernapasan dan malaria (Perpres RI No. 72 tahun 2021 tentang Percepatan Penurunan Stunting).
Perlu dicatat, NTT menempati urutan pertama masalah stunting dalam skala nasional periode 5 tahun berturut-turut. (2017-2022). Salah satu faktor utamanya adalah kurangnya “asupan gizi”.
Sengaja saya garis bawahi kata “asupan gizi. Ini agak miris, lantaran NTT merupakan daerah kepulauan yang memiliki hasil alam yang masuk dalam kategori baik. Sebut saja Nagekeo dijuluki sebagai kota pangan, atau Sumba sebagai penghasil susu, SoE sumber Madu hutan, Lembata penghasil ikan, Kupang penghasil sayur kelor dan masih banyak lagi daerah yang memiliki hasil alam yang cukup banyak menyumbang nilai gizi masyarakatnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/ukur-tinggi-badan.jpg)