Berita Nasional

Kenaikan Harga BBM Berbuntut Menurunnya Kepuasan Masyarakat terhadap Kinerja Jokowi

Menurunnya kepuasan masyarakat tersebut ditunjukkan melalui survei Indikator Politik Indonesia yang dirilis Minggu 18 September 2022.

Editor: Agustinus Sape
YOUTUBE/SEKRETARIAT PRESIDEN
MENURUN - Presiden Joko Widodo alias Jokowi saat berkunjung ke Kepulauan Aru, Provinsi Maluku, Kamis 15 September 2022. Setelah menaikkan harga BBM Selasa 3 September 2022 Pemerintah langsung membagikan BLT BBM kepada masyarakat. 

POS-KUPANG.COM, JAKARTA - Keputusan Pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) penugasan, subsidi dan non subsidi sejak 3 September 2022 segera berdampak menurunnya kepuasan masyarakat terhadap kinerja Presiden Joko Widodo alias Jokowi.

Menurunnya kepuasan masyarakat tersebut ditunjukkan melalui survei Indikator Politik Indonesia yang dirilis Minggu 18 September 2022. Kepuasannya menunun sekitar 10 persen dibandingkan survei sebelum kenaikan harga BBM bulan Agustus 2022.

"Waktu kita survei, yang mengatakan sangat puas atau cukup puas 62,6 persen, yang mengatakan kurang puas atau tidak puas sama sekali itu 35,3 persen," kata Direktur Eksekutif Indikator Politik Burhanuddin Muhtadi saat jumpa pers di Jakarta, Minggu 18 September 2022.

"Jadi memang efeknya terhadap trend approval rating Presiden cukup lumayan, kurang lebih (turun) 10 persen dibanding survei bulan Agustus sebelum kenaikan harga BBM," imbuhnya.

Untuk diketahui, hasil survei Indikator Politik Indonesia terkait angka kepuasan terhadap kinerja presiden pada Agustus 2022 adalah 72,3 persen.

Meski demikian, Burhanuddin menilai keputusan Jokowi membuat kebijakan menaikkan harga BBM di saat hasil survei approval rating-nya sedang tinggi, cukup cerdik.

Pasalnya, kata dia, jika kebijakan tersebut dilakukan saat terjadi penurunan tingkat kepuasan terhadap kinerja presiden, hasil surveinya bisa lebih rendah dari yang saat ini.

Baca juga: Tuntut Penurunan Harga BBM, Aliansi Mahasiswa Menggugat Kabupaten Timor Tengah Utara Gelar Aksi

Karena itu, menurutnya, hasil survei tingkat kepuasan publik kepada Jokowi yang terbaru ini masih di atas batas wajar.

"Pak Jokowi cukup cerdik melakukan kebijakan yang tidak populer di saat approval rating-nya sedang tinggi yakni di bulan Agustus 72,3 persen," kata Muhtadi.

"Karena ini keputusan yang tentu tidak menyenangkan banyak pihak. Tetapi, ketika tidak dilakukan di saat approval rating Presiden sedang tinggi-tingginya, dampaknya setidaknya tidak sampai di bawah 50 persen, karena kalau sampai di bawah 50 persen, itu alarming. Ini kan masih di atas 60 persen," ungkapnya.

Sebagai informasi, survei ini dilakukan pada 5-10 September 2022 atau dilakukan dua hari setelah kenaikan harga BBM diumumkan oleh pemerintah, dengan melibatkan 1.215 responden.

Populasi survei adalah WNI berusia 17 tahun ke atas atau yang sudah menikah dan memiliki telepon.

Pemilihan sampel dilakukan melalui random digit dialing (RDD) atau secara acak nomor telepon.

Sedangkan ambang batas kesalahan survei ini plus-minus 2,9 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.

Baca juga: Tuntut Harga BBM Diturunkan, Cipayung Kota Kupang Kembali Gelar Aksi Demonstrasi 

Halaman
123
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved