Ryan Tefa, Anak Penemu Mayat Pria Hangus Terbakar di Liliba Masih Trauma dan Takut

Ryan Tefa, Anak Penemu Mayat Pria Hangus Terbakar di Liliba Masih Trauma dan Takut

POS KUPANG/NOVEMY LEO
Ryan Tefa, bocah penemu jenasah pria terbakar di Liliba, mengantar Pos Kupang menuju ke TKP, di Kelurahan Liliba, Kota Kupang, Selasa (13/9) siang 

Pengakuan senada disampaikan mama Ryan, bahwa  sejak kejadian itu, perilaku Ryan berbeda dari sebelumnya.

Ryan dulu tidak ernah takut kalau jalan malam hari, tidur malam haripun tak mengapa jika sendirian.

Tapi sejak kejadian itu, Ryan sering takut jika harus berjalan sendiri pada malam hari dan tidur malam pun tidak bisa sendiri lagi seperti dulu.

"Biasa dia tidur sendiri tapi mulai dari itu sampai sekarang juga, Ryan tidak mau tidur sendiri. Tidak mau tidur sendiri, keluar malam juga takut," aku mama Ryan.

Karenanya mama Ryan berharap anaknya, Ryan, bisa didampingi psikolog sehingga trauma takut Ryan bisa hilang.

"Dulu dia biasa lap (bersihkan) kuburan sampai jam 9 malam, lalu ramai-ramai pulang dengan temannya. Tapi sekarang tidak berani lagi," kata ibu Ryan.

Ryan mengatakan, saat itu, tanggal  2 Agustus 2022 siang, dia pulang sekolah bersama tiga orang temannya. Namun saat hendak melewati kali, temannya memilih ikut jalan lain sehingga Ryan berjalan sendiri melewat kali itu.

Ryan Tefa, bocah penemu jenasah pria terbakar di Liliba, mengantar Pos Kupang menuju ke TKP, di Kelurahan Liliba, Kota Kupang, Selasa (13/9) siang
Ryan Tefa, bocah penemu jenasah pria terbakar di Liliba, mengantar Pos Kupang menuju ke TKP, di Kelurahan Liliba, Kota Kupang, Selasa (13/9) siang (POS KUPANG/NOVEMY LEO)

Saat itu Ryan turun melalui tebing dari arah Kuburan Liliba menuju ke kali mati itu. Pada saat menyusuri kali mati itu, tiba-tiba dia melihat ada sesuatu diantara batu.

"Kalau lurus jauh, jadi beta beloklokek, beta (saya) jalan beta pikir anjing beta lihat bai baik ada tangan lalu beta mundur langsung naik kembali ke atas kuburan," kata Ryan

"Itu kan langgar kali, biasanya beta lewat sonde ada bakar," kata Ryan. 

Seelah melihat jenasah itu, Ryan kemudian berbalik arah untuk pulang ke rumahnya. "Beta jalan naik keatas, beta kastau Ama (panggilan om untuk orang Kupang), dia bikin kuburan," kata Ryan yang mengaku tidak kenal dengan Ama itu.

"Beta kasih tahu ada orang terbakar, Ama ajak beta pi kembali tapi beta bilang beta sonde pi lai, jadi beta pulang," kata Ryan.

Ryan mengaku terus berjalan pulang. Dan sampai di jembatan dekat rumahnya, dia menangis. "Baru beta menangis, beta kek ingat begitu, betamenangis, sampai di rumah baru mama kasih tenang," kata Ryan.

Ryan mengatakan, jika tidur malam dia tidur dengan mama atau omnya karena masih takut. Jika pulang da pergi ke sekolah, Ryan tak mau melewati jalan itu lagi karena masih teringat dengan peristiwa itu.

Dirtanya bagaimana perasaannya sekarang apa masih takut, Ryan mengatakan, "Agak takut, setan sonde takur, tapi muka (wajah) saja (takut). Malam takut jalan sendiri," kata Ryan.

Halaman
123
Sumber: Pos Kupang
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved