Berita NTT

NTT Semakin Dekat Silent Tsunami atau Krisis Pangan, Pangan Hanya Penuhi Kebutuhan Dua Pekan

krisis pangan atau efek lanjut dari krisis energi, juga resesi ekonomi di berbagai negara, inflasi yang saat ini sedang terjadi dan menekan daya beli

Editor: Ferry Ndoen
istimewa
Prof. Fred Benu 

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Irfan Hoi

POS-KUPANG.COM, KUPANG - Provinsi NTT akan semakin dekat dengan ancaman silent tsunami atau krisis pangan seperti yang diramalkan PBB atau World Bank sejak 2007 lalu. 

Prof. Fred L. Benu,  Guru Besar Undana Kupang menyampaikan silent tsunami ini adalah krisis pangan atau efek lanjut dari krisis energi, juga resesi ekonomi di berbagai negara, inflasi yang saat ini sedang terjadi dan menekan daya beli masyarakat, adanya kenaikan harga Bahan Bakar Minyak BBM, sistem agraria NTT yang juga belum siap menghadapi kemarau nantinya.

Ia menjelaskan krisis pangan ini terjadi secara perlahan-lahan dan mendongkrak angka kemiskinan baru sehingga perlu diantisipasi Pemerintah NTT. 

"Berbagai potensi ketahanan pangan perlu dilakukan dengan budidaya secara besar-besaran," sebut Fred, Senin 12 September 2022. 

Meskipun telah diingatkan sejak 2007 lalu, lanjut Fred, ternyata secara nasional Pemerintah Indonesia belum mantap mengantisipasinya dengan keandalan pangan dan masih bergantung pada negara-negara supplier. 

Silent tsunami ini, kata dia, bisa semakin tinggi gelombang ancamannya setelah konflik Rusia dan Ukraina. Pada 2023 nantinya negara-negara di dunia dipastikan akan melakukan embargo pangan agar dapat memenuhi kebutuhan masing-masing. 

Indonesia jelas dirugikan jika ini terjadi, ungkap dia, karena ketergantungan Indonesia selama ini dan minimnya stok yang tidak mencapai periode tahunan. 

Berbeda dengan Rusia dan Ukraina yang stok pangan nya bisa berlangsung 5 tahun, Penyedian stok pangan Indonesia sendiri hanya bertahan 3  bulan saja. NTT malah hanya bertahan stok pangannya selama 2 sampai 8 minggu.

"NTT hanya 2 sampai 8 minggu. Ini yang menjadi konsern Presiden Jokowi bagi kita untuk memanfaatkan lahan yang ada untuk menghasilkan pangan dan Pak Gubernur kita merespon ini juga," jelas Fred lagi.

Pada kesempatan yang sama Zet Malelak selaku Dosen Pertanian UNKRIS Kupang menyampaikan hal yang sama.

Ketergantungan Indonesia terhadap negara produsen pangan memang terjadi sejak lama dan ini berpengaruh hingga ke ekonomi mikro. 

Belum lagi komoditi yang diimpor ke Indonesia sejak lama ini adalah alat politik sebagaimana kedelai atau bahan baku tempe.

Amerika yang pernah menghentikan suplai kedelai begitu terjadi tendensi politik dengan Indonesia yang dipimpin Susilo Bambang Yudhoyono saat itu pun sudah cukup memberi dampak pada masyarakat.

Halaman
12
Sumber: Pos Kupang
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved