Berita NTT

Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional NTT:Pernikahan Dini Stunting di NTT Ancam

Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Provinsi NTT sebuthal ini mempengaruhi indeks kemiskinan

Editor: Ferry Ndoen
POS-KUPANG.COM/IRFAN HOI
SOSIALISASI - Sosialisasi usai peluncuran Aksi Kurangi Stunting (Akting) oleh Gereja Bethel Indonesia (GBI) Tunas Daud di Gereja St Petrus TDM Kupang, Kamis 8 September 2022 

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Irfan Hoi

POS-KUPANG.COM, KUPANG - Berbagai ancaman tengah menghantui NTT untuk menikmati bonus demografi pada tahun 2035 mendatang. Kompleksitas persoalan yang dihadapi NTT menjadi pemicu keniscayaan era itu. 

Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Provinsi NTT, Marianus Mau Kuru menjelaskan, masyarakat perlu memiliki perencanaan dan persiapan yang matang untuk menikah dan memiliki anak karena hal ini mempengaruhi indeks kemiskinan, kesehatan dan ekonomi NTT saat ini.

Dia berkata, berkeluarga hingga memiliki anak merupakan sebuah rencana yang perlu kesiapan matang. Pendidikan, finansial yang cukup, mental, kesehatan reproduksi, bahkan sampai pada pendidikan anak dan investasi diri sendiri di usia tua, menjadi pilar penting menyongsong keluarga sejahtera.  

"Perlu itu perencanaan yang baik untuk berkeluarga," sebutnya, dalam peluncuran Aksi Kurangi Stunting (Akting) oleh Gereja Bethel Indonesia Tunas Daud atau GBI Tunas Daud di Gereja St Petrus TDM Kupang, Kamis 8 September 2022. 

Angka kehamilan dini termasuk yang dialami remaja NTT juga tergolong tinggi secara nasional, tambah dia, yang di lain sisi kehamilan dini tidak baik untuk kesehatan reproduksi perempuan. 

Baca juga: BKKBN Kembali Raih Penghargaan Tertinggi Dunia Bidang Kependudukan

Pengaruhnya terhadap kesehatan juga bisa berdampak panjang. Lebih buruknya menambah angka kematian ibu dan anak.

"Idealnya perempuan nikah atau hamil di umur 21 tahun. Pria juga perlu siap setidaknya punya pekerjaan yang jelas atau tetap," ungkapnya lagi.

Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di NTT sendiri juga tidak begitu baik karena masih rendah dengan wilayah lainnya dan akan berpengaruh terhadap pendidikan, daya memperoleh pendapatan, kesehatan dan lain sebagainya. 

Ia menyebut NTT masih banyak anak usia sekolah yang memiliki pendidikan sebatas jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP) saja. 

"Kerja dulu baru nikah dan ada anak. Itu yang perlu dipersiapkan. Capai pendidikan yang tinggi dan buka lapangan kerja atau bekerja," sebutnya. 

Kehamilan yang tidak direncanakan maupun tidak siapnya orang tua membesarkan anak karena keterbatasan pendapatan bisa berkontribusi lagi terhadap meningkatnya stunting.

NTT sendiri sementara masih menjadi daerah dengan angka stunting tertinggi di Indonesia yaitu 37,8 persen dengan Kabupaten TTS, TTU, Alor, Sumba Barat Daya dan Manggarai Barat yang adalah daerah stunting tertinggi. 

NTT juga adalah provinsi termiskin ketiga di Indonesia dengan jumlah 1,1 juta jiwa dari 5,4 juta total penduduk di NTT.

Sementara angka harapan hidup di NTT kini 66 tahun dan disebutnya masih rendah dibandingkan angka harapan hidup nasional yang dapat mencapai 72 tahun. 

"Perlu perubahan dari masing-masing kita juga. Mulai dari perencanaan hidup kita atau melalui perencanaan keluarga yang matang, kalau tidak maka semua permasalahan ini tidak bisa kita selesaikan," kata dia. (Fan)

Ikuti berita POS-KUPANG.com di GOOGLE NEWS

Aksi Kurangi Stunting
SOSIALISASI - Sosialisasi usai peluncuran Aksi Kurangi Stunting (Akting) oleh Gereja Bethel Indonesia (GBI) Tunas Daud di Gereja St Petrus TDM Kupang, Kamis 8 September 2022
Sumber: Pos Kupang
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved