Berita Flores Timur

Hanya Ada di Kabupaten Flores Timur, Satu Sekolah Dua Kepala Sekolah

dialami, Dewi Astuti, guru SD Kelas 1 di SDI Waiwadan, Kecamatan Adonara Barat, Kabupaten Flores Timur setelah dilantik menjadi kepala sekolah

Editor: Ferry Ndoen
Dokumen PGRI Flotim
GURU - Guru SDI Waiwadan, Dewi Astuti 

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Amar Ola Keda

POS-KUPANG.COM,LARANTUKA -   Nasib kurang menggembirakan dialami, Dewi Astuti, guru SD Kelas 1 di SDI Waiwadan, Kecamatan Adonara Barat, Kabupaten Flores Timur setelah dilantik menjadi kepala sekolah dengan Surat Keputusan (SK) Bupati Flores Timur, 18 Mei 2022 dengan tempat tugas di SDI Pajinian

Pasalnya, saat melaporkan diri di SDI Pajinian untuk menjalankan tugas, ternyata Kepala Sekolah SDI Pajinian, Philipus Rimo Boli belum mendapatkan SK Pemberhentian dari Kepala Sekolah SDI Pajinian. Philipus masih memegang SK Pelantikan menjadi Kepala Sekolah sejak diangkat pada tahun 2020 lalu. Bahkan, tidak ada informasi kemana ia dipindahkan jika Dewi Astuti menggantikan posisinya.

Fakta ini, membuat nasib guru Dewi hingga kini terkatung-katung. 

Kepada wartawan, Kamis 11 Agustus 2022, Dewi Astuti menuturkan awalnya ia diminta sebagai kepala sekolah karena dari kualifikasi pendidikan, pangkat golongan sudah memenuhi, termasuk sudah mengantongi sertifikat profesi guru.

Ia kemudian mendapat SK sebagai Kepala Sekolah. Sebelum bertugas, ia sempat mendatangi Dinas PKO Flotim, Sekda dan juga mantan Bupati Anton Hadjon, sehari setelah melepaskan masa jabatan sebagai Bupati Flores Timur.

Sesuai rancangan Korwas, ia akan ditempatkan di SDI Waitenepang. Namun fakta mengejutkan saat pelantikan 18 Mei lalu, ia malah ditempatkan menjadi kepala sekolah di SDI Pajinian

"Saya sempat shock mendapat kenyataan ini. Mendapat tempat di SDI Pajinian untuk ukuran kami perempuan tentu sangat sulit," tutur Dewi.

Meski demikian, sebagai abdi negara ia siap menjalankan tugasnya sesuai SK. Namun, fakta pahit kembali dirasakan guru Dewi. Kepala sekolah sebelumnya di SDI Pajinian ternyata belum mendapat SK mutasi dari jabatannya dan masih aktif menjalankan tugas sebagai kepala sekolah di SDI Pajinian

"Saya kembali mengadu ke Dinas PKO dan mereka minta saya jalankan tugas. Menurut mereka, nanti Kepala Sekolah sebelumnya dengan sendirinya turun. Saya jadi bingung. Sekarang di rumah saja. Saya bingung mau bagaimana. Ada informasi Dinas PKO akan fasilitasi serah terima jabatan, tapi hingga kini belum ada informasi lanjutan yang saya terima," kata Dewi.

Sementara itu Kepala Sekolah SDI Pajinian Philipus Rimo Boli, mengatakan hingga saat ia masih aktif menjabat sebagai Kepala Sekolah di SDI Pajinian. Ia mengaku tidak mendapat informasi sama sekali soal mutasi Kepala Sekolah. 

"Saya masih pegang SK pengangkatan saya sebagai Kepala Sekolah. Saat Ibu Dewi ke sekolah, saya kaget karena saya juga masih pegang SK. Apalagi sertifikasi saya dibawah naungan Kemenag sehingga jika saya dimutasikan, itupun melanggar aturan. Apalagi Januari 2023 saya sudah pensiun," ungkapnya. 

"Soal harga diri, sepertinya kita tidak dihargai. Kami dilantik secara baik-baik dan mendapatkan SK, lalu saat dimutasi tidak ada informasi, tidak ada SK pemberhentian. Sangat kecewa.  Semoga ada jalan keluar yang bijak diambil Dinas PKO Flores Timur," tandasnya.

Ketua PGRI Flores Timur, Maksimus Masan Kian mengatakan selain di Adonara, persoalan yang sama terjadi juga di beberapa sekolah di Pulau Solor. 

Ia berharap masalah ini bisa diselesaikan secara baik oleh Dinas PKO.

"PGRI sudah mendapat pengaduan dan saat ini kita sedang menghimpun data dari guru-guru terkait. Sudah ada beberapa persoalan sebelumnya yang menyulitkan guru dan ada jalan keluarnya. Kita berharap persoalan inipun segera mendapat jalan keluarnya," kata Maksi. (*)

Ikuti berita POS-KUPANG.com di GOOGLE NEWS

GURU - Guru SDI Waiwadan, Dewi Astuti
GURU - Guru SDI Waiwadan, Dewi Astuti (Dokumen PGRI Flotim)
Sumber: Pos Kupang
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved