Berita Kota Kupang
Romo Maxi Un Bria: Semua Orang Adalah Profesor Dalam Hidup
Saya alami sendiri bahwa saat belajar doktoral maka itulah kesempatan orang untuk belajar menjadi rendah hati untuk dengar para profesor
Penulis: Ray Rebon | Editor: Rosalina Woso
Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Ray Rebon
POS-KUPANG.COM, KUPANG - Romo Maxi Un Bria berhasil meraih gelar doktor dalam menempuh studi S3 di Universitas Sahid Jakarta, Konsentrasi Studi Lintas Budaya.
Gelar doktor itu berhasil ia lalui selama 2,5 tahun atau 30 bulan. Ia pun berhasil menjadi wisudawan terbaik dengan predikat cumlaude.
Sebagai bentuk syukur atas kerja keras dan perjuangan itu, Romo Maxi Un Bria melakukan syukuran dengan mengundang para biarawan/biarawati, para umat dan akademisi yang berlangsung di Restoran Nelayan Kupang, Minggu, 31 Juli 2022 malam.
Baca juga: Romo Maxi Un Bria Minta Penyuluh Agama Katolik Tunjukkan Tindakan Konkrit
Dalam momentum itu, RD Maxi Un Bria menyampaikan mendapat kesempatan untuk belajar doktoral adalah anugerah Tuhan.
Sebagai seorang imam yang lahir dan besar di desa, Romo Maxi melihat bahwa pencapaian ini adalah anugerah Tuhan dan banyak orang pun terlibat di dalamnya.
"Inilah karya Tuhan melalui bapa uskup, para imam, para suster, tokoh umat, para profesor, para pendidik yang membantu dengan caranya masing-masing," ungkapnya
Ia mengakui, sekolah doktoral sungguh berat atau tidak mudah.
"Saya alami sendiri bahwa saat belajar doktoral maka itulah kesempatan orang untuk belajar menjadi rendah hati untuk dengar para profesor," tuturnya.
Lanjut disampaikan bahwa harus rendah hati mendengarkan profesor karena telah ahli di bidangnya.
Kata dia, perjuangan meraih gelar doktor banyak suka-duka yang dialami. Sehingga upaya untuk menyelesaikan program doktoral harus rendah hati untuk belajar banyak hal dari orang lain.
"Dalam suka-duka, upaya untuk selesaikan program doktoral saya menjadi sadar bahwa banyak hal yang belum diketahui dan harus belajar banyak hal dari banyak orang," kata dia.
Baca juga: Pengukuhan Forkoma PMKRI NTT, RD. Maxi Un Bria: Jadi Garam dan Terang serta Penggerak Perubahan
Ia menambahkan, semua tempat yang didatangi, di mana pun itu merupakan universitas dan setiap orang yang dijumpai dengan latarbelakang yang berbeda merupakan profesor-profesor hebat.
Sebagai motivasi, Romo Maxi mengajak semua orang untuk tidak pernah berhenti belajar. Kata dia, dengan belajar akan selalu meng-update pengetahuan maupun pengalaman yang dimiliki.
"Begitu banyak hal yang belum kita tahu, maka tetap semangat, rendah hati dan selalu mengandalkan Tuhan serta belajar kapan saja dan dari siapa pun juga," tukasnya.
Sementara Komisaris Tribun Network, Sentrijanto menyampaikan rasa syukur atas pencapaian Romo Maksi dalam meraih gelar doktoral. Semoga apa yang dicapai ini tentu dalam pelayanan yang diberikan oleh romo semakin baik dan semakin bermakna bagi semua orang.
Sentrijanto juga berterima kasih kepada romo yang sudah memberi peran kepada Pos Kupang dalam proses studinya.
"Mohon maaf agak terlambat untuk merayakan. Saya koordinasi dengan Mba Ina untuk menyiapkan acara syukuran ini. Saat itu, saya bertugas di Bali tanggal 29 Juli 2022, dari Bali bisa dilanjutkan ke Kupang, kalau sudah kembali ke Jakarta, sudah ada jadwal lain lagi," ujar Sentrijanto.
Sedangkan Prof. Dr. Aloysius Liliweri, M.S, promotor Romo Maksi Un Bria mengajak siapa saja termasuk para pendeta atau pastor untuk mengikuti program doktoral. Peluang masih terbuka lebar untuk mendalami ilmu ini.
Ia juga menceritakan tentang dinamika mendampingi mahasiswa dengan latar belakang teologi dan filsafat ini.
"Kadangkala saya harus turunkan cara berpikir Romo Maxi yang sangat teologis dan filosofis, yang tinggi-tinggi itu dalam memahami ilmu yang diberikan," kata Prof. Alo asal Kedang, Lembata ini.
Ia juga menceritakan ketika masa-masa Covid-19, Romo Maksi mengikuti ujian terbuka melalui zoom. Namun, ketika hendak ujian, laptop Romo Maksi mengalami error. Maka ia merelakan laptopnya untuk digunakan oleh Romo Maksi untuk ujian itu.
Selain itu, kata Prof. Alo, iklim ilmiah tetap ia jaga. Meski mengenal baik Romo Maksi dan menganggapnya sebagai anak, proses akademis tetap lurus ditegakkan. "Sejumlah halaman disertasi saya coret dan harus diperbaiki," katanya. Tapi, romo tetap sabar bahkan selalu mendahui waktu perbaikan yang saya minta," katanya.
Yang mengharukan katanya, setelah Romo Maksi dinyatakan lulus sebagai doktor, dialah yang melantiknya.
Hadir, Komisaris Tribun Network, Sentrijanto dan ibu; GM Business Tribun Papua dan Tribun Papua Barat, Marina Napitupulu; Pemimpin Perusahan Pos Kupang, Margareta Wahyuningrum; Pemimpin Redaksi Pos Kupang, Hasyim Ashari, mantan Kepala Disperindag NTT, Edy Ismail, senior Pos Kupang, Beny Dasman; sejumlah romo seperti Romo Ambros Ladjar, para suster dan undangan lain.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/romo-maksi-un-bria-diapit-prof-dr-aloysius-liliweri-ms.jpg)