Berita Nagekeo

Jadikan Anakoli Jadi Desa Binaan, Bank NTT Cabang Mbay Garap Potensi Wisata dan Tanaman Holtikultura

pemerintah Desa membangun sejumlah lopo dan toilet di pantai tersebut. Namun karena diterjang badai seroja, lopo-lopo tersebut rusak

Penulis: Thomas Mbenu Nulangi | Editor: Rosalina Woso
POS KUPANG.COM/TOMMY MBENU NULANGI
KEBUN - Kebun cabai milik Kelompok Tani Mona Noa di Desa Anakoli. Foto diambil, Rabu 20 Juli 2022.  

POS-KUPANG.COM, MBAY - Desa Anakoli di Kecamatan Wolowae, Kabupaten Nagekeo menyimpan potensi alam yang sangat menjanjikan untuk dikembangkan.

Ada dua potensi alam yang dimiliki desa itu yakni potensi wisata dengan Pantai Kota Jogo dan potensi pengembangan tanaman holtikultura untuk dijadikan sebagai agrowisata.

Pantai Kota Jogo terkenal dengan pantai berpasir putih. Pantai yang ada di wilayah utara Kabupaten Nagekeo itu dikelilingi tebing batu putih di sisi kiri dan hutan bakau yang hijau di sisi kanan. Keindahan pantai itu dilengkapi dengan kondisi lautan yang tenang dan ombak nya yang kecil.

Baca juga: Mahasiswa Peserta KKNT-PPM Unwira Menyapa Desa Tonggo Kabupaten Nagekeo dengan Aman Calistung

Sejak tahun 2016-2019 lalu, pemerintah Desa Anakoli melakukan penataan terhadap Pantai Kota Jogo. Melalui dana desa, pemerintah Desa membangun sejumlah lopo dan toilet di pantai tersebut. Namun karena diterjang badai seroja, lopo-lopo tersebut rusak.

Desa Anakoli juga cocok untuk dikembangkan tanaman holtikultura seperti cabai, tomat, pria, semangka, sayur-sayuran, dan anggur.

Budidaya tanaman holtikultura tersebut sangat cocok karena didukung kondisi tanah dataran rendah yang subur.

Terbukti kelompok Tani Mona Noa sudah tahun kedua budidaya tanaman cabai di lahan seluas dua hektar itu. Kelompok yang beranggotakan sekitar 20 orang tersebut kini sudah bisa menikmati hasilnya.

Bahkan para petani cabai tidak repot-repot untuk menjual cabai ke pasar. Sebab para pembeli langsung datang ke kebun cabai yang berada persis di jalan trans utara.

Baca juga: Masyarakat Bangga! Tenun Ikat Nagekeo Tampil di Herborist Bali Fashion Carnival 2022

Anggota Kelompok Tani Mona Noa, Kristoforus Lua mengatakan, ia sudah empat kali memanen cabai. Rata-rata 40 kg per satu kali panen dengan harga  Rp. 40 ribu per kg. Uang hasil jualan cabai tersebut digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

"Ini baru panen pertama, nanti pasti lebih banyak lagi, karena buah semakin banyak," ujarnya.

Selain dua potensi tersebut, ternyata Desa Anakoli juga menyimpan potensi lain seperti pengembangan ternak sapi dan juga pengembangan garam. Meski begitu, Kepala Desa Anakoli, Yoseph Lakarani tidak ingin warganya fokus pada pengembangan salah satu potensi saja.

Ia ingin semua potensi yang ada di Desa Anakoli dapat dikembangkan secara bersamaan untuk peningkatan ekonomi masyarakat.

"Disini ada juga tambak garam. Ada tiga kelompok yang mengembangkan tambak garam. Mereka sudah pakai geomembran, pengadaan tahun lalu. Sekarang mereka sudah panen. Baru lima ton, mereka jual ke Boawae. Satu karung 50 ribu," ujarnya.

Saat ini, kata Yoseph, pemdes juga melakukan penyertaan modal sebesar Rp. 50 juta untuk membantu Bumdes  membeli hasil pertanian dan ternak dari masyarakat.

Baca juga: Bank NTT Siap Jadi Office Boy Bagi Usaha Mikro Kecil Menengah

Halaman
12
Sumber: Pos Kupang
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved