Berita Lembata Hari Ini

Budaya "Kosu" di Amarasi Bekal Bagi Pengantin Jalani Rumah Tangga Baru

Uang tersebut dijadikan sebagai modal awal bagi keluarga baru untuk membeli berbagai keperluan rumah tangga atau investasi lainnya

Editor: Rosalina Woso
POS-KUPANG.COM/HO-DOK ISTIMEWA
TARIAN - Tarian Kosu kepada pasangan pengantin di Amarasi. 

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Ryan Tapehen

POS-KUPANG.COM, OELAMASI - Pernikahan akan menjadi awal perjalanan sebuah rumah tangga baru, khusus di Amarasi ada sebuah tradisi memberikan bekal bagi pengantin baru.

Bekal tersebut bukan berupa barang tapi berupa uang yang akan diselipkan di sebatang lidi kelapa, bambu, sebatang kayu atau peralatan lainnya lalu dicucukan ke kepala pengantin sambil diiringi lagu dan tarian.

Bagi orang Amarasi, tarian kosu dengan ciri khas menari berdiri di tempat menggerakkan tangan mengikuti alunan musik Amarasi sebagai awal pembuka pada acara resepsi pesta pernikahan.

Baca juga: Suasana Saat Pembukaan Bagi 417 Siswa Baru Ikut MPLS SMAN 1 Kupang Timur Kabupaten Kupang

Kebanyakan tarian kosu dengan menyelipkan uang sebagai bekal tersebut di sanggul mempelai wanita.

Biasanya jumlah uang bervariasi nilainya. Ada yang menggunakan uang lima ribu rupiah sampai dengan ratusan ribu rupiah. Uang tersebut dijadikan sebagai modal awal bagi keluarga baru untuk membeli berbagai keperluan rumah tangga atau investasi lainnya

Tarian ini sebagai ungkapan kegembiraan, suka cita keluarga besar sambil mengelilingi mempelai laki-laki dan mempelai perempuan.

Tarian ini mejadi populer baik bagi kalangan muda-muda maupun orang tua.Tarian ini sampai sekarang masih populer dan dikenal seluruh lapisan masyarakat Amarasi.

Baca juga: Peserta KKNT-PPM Unwira Kupang Disambut Secara Resmi Pemdes Tunfeu Kabupaten Kupang

Umumnya mempelai perempuan setelah nikah adat, nikah Gereja dan acara turun fam (marga) wajib ikut mempelai laki-laki membentuk rumah tangga baru di tempat asal mempelai laki-laki.

Uang yang dihimpun melalui tarian kosu dapat digunakan di tempat yang baru dimana mereka tinggal.

"Kosu bukan cuma ajang pamer tapi sebagai bentuk penghargaan bagi kedua mempelai," ujar Adrianus Tnunay salah satu Tokoh Masyarakat Adat Buraen saat acara adat peminangan di salah satu warga di Buraen.

Maka tak heran dimanapun berada masyarakat amarasi yang melakukan acara adat pernikahan akan melakukan tradisi mereka dengan menari Kosu.

Kini terkadang maknanya sudah mulai bergeser dan sering dilakukan bila ada acara suka baik hajatan syukuran Wisduda maupun acara lainnya.(*)

Berita Kupang Lainnya

Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved