Berita Kupang Hari Ini
Dikeluhkan, Ombudsman NTT Sarankan ASDP Perbaiki Layanan Pembelian Tiket
Layanan pembelian tiket non tunai dengan kartu Brizzi sering dikeluhkan para pengguna layanan ASDP akhir-akhir ini. Kepala Ombudsman RI perwakilan NTT
Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Irfan Hoi
POS-KUPANG.COM, KUPANG - Layanan pembelian tiket non tunai dengan kartu Brizzi sering dikeluhkan para pengguna layanan ASDP akhir-akhir ini. Kepala Ombudsman RI perwakilan NTT, Darius Beda Daton mengaku, selalu menerima komplain dari pengguna layanan kapal ASDP, terutama sewaktu jadwal pelayaran kapal.
Menurutnya, komplain itu berupa penggunaan kartu Brizzi untuk pembayaran tiket non tunai membuat alur layanan menjadi lebih panjang dan memperbanyak antrian. Karena calon penumpang harus membeli terlebih dahulu kartu brizzi dan top up kartu di ATM BRI di pelabuhan atau koperasi pensiunan ASDP di pelabuhan.
"Di sana terjadi dua kali antrian yaitu di lokasi pembelian kartu dan di loket cetak tiket ASDP," kata Darius dalam siaran persnya, Kamis 21 April 2022.
Selain itu, biaya tiket menjadi lebih mahal karena ada tambahan biaya admin pembelian kartu sebesar Rp 30.000 plus biaya top up/admin di bank dan koperasi berkisar 6500-10.000 dan mengapa harus melibatkan koperasi.
"Dua substansi komplain ini kami diskusikan guna mencari solusi bersama managemen ASDP dalam rangka perbaikan layanan kepada masyarakat," kata dia.
ASDP menginformasikan bahwa sejak 1 Juni 2021, ASDP Kupang menerapkan sistem pembelian tiket non tunai menggunakan kartu prepaid Brizzi BRI, flazz BCA, e-money Mandiri dan BNI tapcash khusus di pelabuhan Bolok Kupang, Pelabuhan Waibalun di Larantuka dan Pelabuhan Pantai Baru di Rote.
Layanan non tunai sejatinya dimaksudkan untuk memudahkan layanan kepada para penumpang dan menghilangkan pungli atau kemungkinan uang receh yang tidak dikembalikan petugas. Sedangkan kehadiran koperasi di pelabuhan juga dalah salah satu upaya mendekatkan pelayanan top up bagi yang tidak sempat top up di luar pelabuhan.
Untuk kartu prepaid, ASDP bekerja sama dengan koperasi pensiunan ASDP untuk penjualan dan top up dengan biaya sebesar Rp.30.000 terdiri atas biaya kartu dan top up yang dikenakan pihak koperasi. Tidak ada biaya cetak tiket yang dikenakan ASDP di loket. Dengan demikian biaya yang dikenakan selain harga tiket adalah biaya kartu dan top up.
Kartu ini selanjutnya akan terus dipakai setiap menggunakan kapal ASDP dan top up kartu dapat dilakukan di mana saja melalui bank kerja sama. Kartu yang sudah di top up akan dicetak tiketnya di loket tiket pelabuhan. Antrian di pelabuhan akan bisa terurai jika top up kartu dilakukan di luar pelabuhan.
Ombudsman pun menyarankan, agar pelayanan tiket bisa dirancang secara online sehingga calon penumpang bisa membeli tiket di mana saja tanpa harus mencetak kembali tiket di loket pelabuhan.
Baca juga: Liga 1: Ini Alasan Skuad Juku Eja PSM Makassar Belum Umumkan Pemain Baru,Ini Sosok Pelatih Baru
"Cukup dengan e-tiket tersebut calon penumpang bisa langsung naik kapal dan diperiksa saat di kapal," sebut Darius Beda Daton.
Berikutnya, agar gerai-gerai penjualan tiket bisa ditambah di berbagai tempat tidak hanya di bank tetapi juga pihak ketiga lainnya yang bisa diajak kerja sama. Sama mudahnya seperti saat kita membeli tiket peswat atau membeli token listrik. (Fan)
