Berita Pendidikan

Olah Pisang Jadi berbagai Kudapan, Petani Milenial Kupang Jadi Jutawan

Bagi kebanyakan orang, camilan merupakan makanan ringan yang wajib ada untuk menemani hari-hari dalam bekerja maupun ketika santai

Editor: Ferry Ndoen
FOTO/HO/SMK-PP-KUPANG
Olah Pisang Jadi berbagai Kudapan, Petani Milenial Kupang Jadi Jutawan 

POS-KUPANG.COM, KUPANG - Bagi kebanyakan orang, camilan merupakan makanan ringan yang wajib ada untuk menemani hari-hari dalam bekerja maupun ketika santai. Camilan dapat dibeli di supermarket maupun dapat di olah sendiri. Hal ini menjadi peluang besar ladang bisnis bagi masyarakat Kupang, khususnya para siswi di SMK-PPN Kupang ini.

Untuk memulai sebuah usaha memang dibutuhkan tekad besar. Seperti yang ditekuni oleh Yuliani, Welmi, dan Maria Edita. Ketiganya siswi Kelas 3, SMK-PPN Kupang yang membuka usaha camilan keripik pisang melalui program PWMP.

Sebagai bahan baku utama pembuatan keripik, mereka membeli pisang dari penjual pisang. Jenis pisang yang digunakan adalah pisang kapok atau pisang raja. Pengolahan dan packing pisang dilakukan di Lab yang ada di sekolah.

Dengan fasilitas yang diberikan oleh sekolah, sangat mendukung mereka dalam proses produksi keripik pisang. Pisang dipasarkan dalam ruang lingkup sekolah. Konsumen nya sendiri adalah para siswa, dan guru. Untuk satu kali produksi, mereka mampu menjual lebih dari 20 pcs bungkus keripik dan habis terjual.

Kemasannya ada dalam kemasan kecil dijual dengan harga Rp5.000,00 dan kemasan besar Rp10.000,00. Sehingga omzet yang didapat berkisar Rp100.000,00-Rp200.000,00. Jika ada beberapa bungkus keripik yang belum habis terjual, mereka jajakan dirumah masing-masing. Laba yang didapatkan sekitar 50% dari pendapatan yang didapat. Laba tersebut mereka kumpulkan guna mengembangkan bisnis ini.

Namun dalam menjalankan bisnis, tentu tidak semulus jalan tol. Pasti selalu ada kendala,begitu pula dengan usaha ini. Kesulitan mendapatkan pisang yang digunakan sebagai bahan utamalah yang menjadi kendala.

Para penjual pisang tidak selalu menyediakan pisang dalam jumlah banyak. Maka dari itu banyak atau tidaknya produksi keripik tergantung dari banyak tidaknya pisang yang didapat dari para penjual. Rugi pun pernah dialami dikarenakan salah perhitungan modal dan omzet yang didapat. Apalagi ketika harga pisang naik, sedangkan harga jual keripik tidak naik. Kendati begitu semua dapat diatasi dan penjualan tetap berjalan baik hingga saat ini. Bahkan permintaan order keripik via whatsapp yang membludak.

Kelompok PWMP peserta didik SMK PP Negeri Kupang ini membuktikan pernyataan Mentan, Syahrul Yasin Limpo, bahwa anak-anak muda memang seharusnya mencintai pertanian.

“Pertanian itu menjanjikan jadi jangan takut menjadi petani karena dari bertani kamu bisa menghidupi dirimu, keluargamu bahkan bangsamu”, tegas Mentan Syahrul.

Senada dengan Mentan, Kepala BPPSDMP, Dedi Nursyamsi mengungkapkan kebanggaanya kepada generasi muda yang sudah mencintao pertanian dan mau bertani dengan serius di SMK PP Negeri Kupang.
Dedi menegaskan bahwa para pendidik harus menjadi contoh bagi anak didiknya untuk mencintai pertanian dan menjalankan bisnis pertanian secara serius.

“Pisang yang notebene nya buah yang dimakan sehari-hari akan mempunyai nilai lebih jika diolah dengan benar dan secara kreatif seperti kelompok wirausahawan muda pertanian di SMK PP Negeri Kupang. Anak muda harus kreatif, optimis, dan berdaya saing untuk mewujudkan pertanian yang maju, mandiri, dan modern”, pungkas Dedi. (*)

Olah Pisang Jadi berbagai Kudap K
Olah Pisang Jadi berbagai Kudapan, Petani Milenial Kupang Jadi Jutawan
Olah Pisang Jadi berbagai Kudapan, Petani Milenial Kupang Jadi Jutawan
Olah Pisang Jadi berbagai Kudapan, Petani Milenial Kupang Jadi Jutawan (FOTO/HO/SMK-PP-KUPANG)
Olah Pisang Jadi berbagai Kudapan, Petani Milenial Kupang Jadi Jutawan
Olah Pisang Jadi berbagai Kudapan, Petani Milenial Kupang Jadi Jutawan (FOTO/HO/SMK-PP-KUPANG)
Sumber: Pos Kupang
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved