Perang Rusia Ukraina

Surat Terbuka Kepada Sesama di Rusia dan Ukraina

kendali kendaraan perang bergerak gilas sesama tanpa ampun. Pesawat melayang sebarkan maut, kapal di laut luncurkan torpedo mematikan.

Editor: Rosalina Woso
POS-KUPANG.COM/VINSEN HULER
Dr. Anton Bele, M.Si 

Oleh Dr. Anton Bele, M.Si

POS-KUPANG.COM, KUPANG - Rusia dan Ukraina, beda. Dua negara. Dua pemerintahan. Berbatasan. Bersaudara. Dipisah wilayah. Dicerai waktu. Tapi satu. Satu suku. Sesaudara.

Jelas terlihat dari wajah-jawah bocah, pipi-pipi remaja memerah delima, mata biru bening mengaca, tubuh tinggi tegap berotot, sama di Rusia, sama di Ukraina. Kalian sama, kalian satu.

Huruf-huruf ini saya ketik dengan air mata. Kata-kata ini terungkap tersendat di tenggorokan.

Pikiranku sedang melayang penuh tanya, kok bisa terjadi? Hatiku sungguh gulana, kalian tega kuti pelatuk bedil peluru melesat ke jantung saudara!

Baca juga: Putin Dianggap Kejam Agresi ke Ukraina, Terkuang Penyebab Rusia Invasi Tetangganya, Ada Australia?

Ttangisku bersama hisak kanak-kanak meyatim-piatu, rintihan remaja tak sempat berumah-tangga. Saya sama meratap bersama saudari-saudariku menjanda, saudara-saudaraku menduda, keluh-kesah oma-opa terperangkap reruntuhan rumah.  Salju putih berderai turun menyelimuti keranda menutupi tubuh membeku.

Kutulis untaian kata ini di kota Kupang, Pulau Timor, ujung Tenggara Indonesia di senja kelabu.

Kalian bangun rumah dan jembatan dengan uang millyaran, lalu luluh-lantakkan dalam hitungan detik. Kalian kendali kendaraan perang bergerak gilas sesama tanpa ampun. Pesawat melayang sebarkan maut, kapal di laut luncurkan torpedo mematikan.

Baca juga: Dituduh Tak Seberani Presiden Indonesia Jokowi Soal Invasi Rusia ke Ukraina, PM Malaysia Ngambek

Sesamaku di Rusia dan Ukraina, kita sama-sama hirup udara yang sama. Sinar mentari yang sama hangatkan kulit kita. Remang rembulan yang satu sama kita nikmati. Kalian kunci gedung tempat ballerina tarikan ballet, kalian gantung biola tali terputus, kalian berhenti berlagu suara bariton. Kalian runtuhkan rumah-rumah tempat kalian memuja Sang Damai.

Bahasa kalian tidak kumengerti, tapi hati kita satu dan degup jantungmu sama degup jantungku. Kalian berpuisi seirama dengan puisi kami cuma lafal berbeda. Kalian tulis surat cinta sama seperti kami torehkan cinta, hanya huruf berbeda bahasa berbeda, tapi kita saling mengerti, saling memahami. Sayang, vodka penghangat dada tertumpah ruah membasahi relung-relung gudang

Halaman
12
Sumber: Pos Kupang
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved