Berita Manggarai Timur Hari Ini

Dinas Kesehatan Manggarai Timur Lakukan Pengobatan Gratis Untuk Anastasia dan Maria

Dinas Kesehatan Manggarai Timur ( Dinkes Matim) Lakukan Pengobatan Gratis Untuk Anastasia Sedis dan Maria Jemida

Penulis: Robert Ropo | Editor: Kanis Jehola
POS-KUPANG.COM/HO MASYARAKAT
BERTEMU - Sekertaris Dinas Kesehatan Kabupaten Manggarai Timur, Pranata Kristiani Agas sedang bercengkrama dengan Anastasia Sedis, Kamis 24 Frebuari 2022 

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Robert Ropo

POS-KUPANG.COM, BORONG - Respon cepat terhadap Anastasia Sedis (45) yang menderita Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) dan Maria Jemida (43) yang menderita stroke, Dinas Kesehatan Kabupaten Manggarai Timur (Matim) bersama UPTD Puskesmas Mukun langsung turun memantau dan memberikan pelayanan kesehatan gratis, Kamis 24 Frebuari 2022.

Anastasia dan adiknya Maria merupakan warga Kampung Lemo, Desa Mokel, Kecamatan Kota Komba Utara. Keduanya hidup sebatang kara dibawa gubuk yang reyot dan tanpa lampu penerangan listrik dari PT PLN serta tidak mempunyai mandi cuci kakus (MCK).

Kedatangan Dinas Kesehatan Kabupaten Manggarai Timur bersama UPTD Puskesmas Mukun dipimpin langsung Sekertaris Dinas (Sekdis) Kesehatan Pranata Kristiani Agas bersama dr Richie Sudarmono, Kepala Puskesmas (Kapus) Mukun, Sergius B A S Dura, dan Pengelola Keswa Puskesmas Mukun Philipus Onggur.

Baca juga: Prihatin Dua Perempuan Penderita ODGJ dan Stroke di Matim Tinggal di Gubuk Tanpa Listrik

Kedatangan Ani Agas bersama rombongan ini disambut ceria oleh Vincen Naur (28) anak dari Anastasia.

Dalam kesempatan itu Ani Agas bersama dokter Richie juga memberikan penghiburan dan memberikan pelayanan kesehatan gratis untuk Anastasia dan adiknya Maria serta memberikan edukasi untuk keluarga.

Ani Agas kepada wartawan, Jumat 25 Frebuari 2022, menyampaikan terima kasih kepada media yang sudah memberikan informasi melalui pemberitaan terkait dengan Anastasia Sedis yang menderita ODGJ dan Maria penderita stroke yang selama ini belum terjangkau atau terlayani secara maksimal. Maksud kunjungan itu untuk melihat secara langsung dan mengecek keadaan Anastasia dan Maria.

Menurutnya, kepedulian dan pelayanan terhadap ODGJ tidak semata-mata peran dari Dinas Kesehatan sebagai OPD teknis untuk menangani kesehatan masyarakat dalam hal ini kesehatan jiwa. Namun semua menjadi peranan yang sama.

Baca juga: Wabup Heribertus Letakan Batu Pertama Pembangunan MCK Bagi ODGJ di Lao Manggarai

Dijelaskan Ani Agas, dari hasil kajian secara klinis memang diperoleh untuk Anastasia menderita kecemasan atau psikotis yang memang harus segera ditangani. Anastasia mengalami keadaan seperti ini sejak anak bungsunya berada di bangku sekolah kelas tiga Sekolah Dasar.  

"Sangat disayangkan hingga saat ini belum mendapatkan penanganan serius. Tapi komitmen kami dari Dinas Kesehatan adalah untuk terus melayani, menjangkau  dan memberikan pelayanan secara maksimal kepada pasien ODGJ yang selama ini belum mendapatkan perhatian,"ungkapnya.

Ani Agas juga menambahkan, dari hasil kajian pihaknya Anastasia mengalami kekambuhanya terjadi pada malam hari. "Biasanya secara psikologis ketika kita berada dalam situasi yang kurang akses terhadap cahaya maka disitulah muncul hal-hal negatif,"ujarnya.

Ani Agas juga berharap, peran dari berbagai sektor untuk bisa bersinergi bersama untuk bisa membantu kesembuhan dari mama Anastasia Sedis ini. Tidak bisa serta-merta menggantungkan penanganan Anastasi ke Puskesmas setempat.

"Pelayanan kami sebatas memberikan pelayanan klinik atau memberikan terapi pengobatan untuk kesembuhan secara klinis. Namun yang harus diingat adalah penanganan pasien ODGJ tidak hanya kepada penanganan secara klinis saja akan tetapi ada hal-hal psikososial yang harus disentuh, selain memberikan edukasi terkait tata cara penggunaan obat, juga mengedukasi keluarga lewat keluarga dekat ibu Anastasia Sedis untuk bersama-sama menghilangkan stigma terhadap pasien ODGJ,"ungkapnya.

"Kuncinya penanganan ODGJ tidak hanya penanganan terapis secara klinis tetapi bagaimana pasien ODGJ kita merasa nyaman dengan suatu lingkungan dia merasa terdukung. Tanggung jawab moral kita adalah harus menghilangkan stigma negatif terhadap pasien ODGJ,"sambungnya.

Halaman
12
Sumber: Pos Kupang
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved