Berita Nasional Hari Ini

Adik Kandung Prabowo Subianto Disebut Main Proyek IKN Nusantara, Begini Katanya Saat Namanya Disebut

Upaya pemerintah membangun lokasi Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara di Penajam Paser Utara, kini terus bergulir. Prabowo Subianto kini jadi sorotan. Lho

Editor: Frans Krowin
Tribunnews.com
Hashim Djojohadikusumo, adik kandung Prabowo Subianto menampik semua tudingan bahwa ia juga kecipratan proyek IKN Nusantara di Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur. 

POS-KUPANG.COM - Upaya pemerintah membangun lokasi Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara di Penajam Paser Utara, kini terus bergulir.

Isu tersebut tak hanya soal calon kepala IKN sebagaimana yang disebut-sebut selama ini.

Namun terungkap pula nama sejumlah orang yang kini dekat dengan lingkaran Kabinet Indonesia Maju (KIM) Presiden Jokowi-Maruf Amin.

Prabowo Subianto, adalah salah satu sosok yang selalu disebut-sebut sebagai pelaksana proyek pembangunan IKN.

Namun sesungguhnya bukan soal Prabowo Subianto yang juga Ketua Umum Partai Gerindra. Tapi adiknya, yakni Hashim Djojohadikusumo.

Hashim Djojohadikusumo dituding sebagai salah satu pengusaha yang saat ini sedang kecipratan proyek IKN di Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur.

Namun tudingan tersebut dibantah habis-habisan oleh Hashim Djojohadikusumo.

Ia menampik tudingan para pihak yang menyebutkan bahwa ia mendapat jatah dari pemerintah dalam proyek Ibu Kota Negara di Kalimantan Timur (Kaltim).

Kepada wartawan, Hashim mengaku terkejut mendengar tudingan yang tak berdasar itu.

"Saya terkejut dan kecewa nama saya disebut-sebut seolah-olah bagian dari oligarki."

Baca juga: Ridwan Kamil Tiba-tiba Beri Saran ke Jokowi Soal Desain IKN Nusantara, Ada Apa?

"Seolah-seolah saya terus mendapat rezeki dari pemerintah, dapat pembagian proyek dari pemerintah," kata Hashim dalam konferensi pers, Selasa 8 Februari 2022.

Apalagi, kata Hashim, isu tersebut dikaitkan dengan masuknya Prabowo Subianto ke dalam pemerintahan Jokowi pada kabinet 2019-2024.

Padahal, kata pemilik Arsari Grup tersebut, ia sesungguhnya sudah memiliki lahan di Kaltim sejak 2007 silam.

Kebetulan, lanjut dia, lokasi IKN Nusantara itu berdekatan dengan lahannya dan lokasi sejumlah proyek yang selama ini ia jalankan.

Ini desain IKN Nusantara di Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur.
Ini desain IKN Nusantara di Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur. (Tribunnews.com)

Salah satu proyek tersebut, kata Hashim, yakni penyediaan ari bersih.

Ia sudah berencana menjadi penyuplai air bersih di sejumlah kota di Kaltim, tiga tahun sebelum Presiden memutuskan ibu kota pindah ke Penajam Paser Utara.

"Ini adalah proyek air bersih yang kami kembangkan tahun 2015 untuk suplai air bersih ke sejumlah kota di Kalimantan Timur."

"Juga untuk industri, termasuk industri yang nanti akan didirikan oleh grup saya juga."

Baca juga: IRONIS, Kalau Presiden Pilih Ahok Jadi Kepala IKN Nusantara, Kenapa Harus Gelisah? Ini Figur Terbaik

"Kita mau ajukan kepada industri lain, ada pabrik kilang Pertamina, ada pabrik kertas, pabrik sawit yang semuanya memerlukan air bersih, air jernih," ungkapnya.

Oleh karena itu, Hashim mengatakan sangat tidak tepat apabila ia disebut mendapatkan jatah proyek dari pemerintah.

"Saya bisa katakan bahwa itu adalah bohong."

"Ini kebohongan besar sekali, juga merupakan fitnah menurut saya, tidak ada deal politik."

"Itu proyek air bersih semata-mata untuk melayani kebutuhan masyarakat Kalimantan Timur atas permintaan dari masyarakat Kaltim," tegasnya.

Prabowo Subianto: "Kamu Itu, Aku Bicara Teknologi Kamu Bicara Duet"

Meski disebut-sebut sangat berpeluang untuk maju pada Pilpres 2024, namun Prabowo Subianto punya keraguan soal itu.

Menteri Pertahanan RI ini merasa ragu walaupun hasil survei memperlihatkan peluangnya sangat besar untuk hal tersebut.

Keraguan ini masih menghinggapinya karena Prabowo sudah tiga kali maju sebagai calon presiden tapi semuanya gagal.

Pertama, saat berpasangan dengan Megawati Soekanoputri pada Pilpres 2009.

Kedua, di Pilpres 2014 saat berpasangan dengan Hatta Radjasa, dan ketiga, di Pilpres 2019 bermitra dengan Sandiaga Uno.

Berangkat dari faktor itulah sehingga Prabowo kini harus mempertimbangkan lagi apakah ia layak maju untuk Pilpres 2024 mendatang.

Dan, keraguan itu diungkapkan Prabowo saat dikonfirmasi wartawan terkait wacana yang menduetkannya dengan Ketua Umum PKB, Muhaimin Iskandar.

Ia meladeni pertanyaan wartawan tersebut, manakala ia hadir dalam acara di Kampus Uiversitas Gadjah Mada Yogyakarta, Jumat 4 Februari 2022.

"Kamu itu, aku datang bicara teknologi kamu bicara itu (duet dengan Cak Imin di Pilpres 2024)," kata Prabowo, dikutip dari tayangan Youtube Kompas TV, Minggu 6 Februari 2022.

Baca juga: Menhan RI Prabowo Subianto Bakal Borong 2 Kapal Selam Scorpene Prancis, Bagaimana Spesifikasinya?

Wacana duet Prabowo Subianto dengan Muhaimin Iskandar atau Cak Imin di Pilpres 2024 pertama disampaikan oleh Wakil Ketua Umum PKB Jazilul Fawaid pada akhir 2021.

Awalnya, Prabowo merasa heran dengan adanya pertanyaan tersebut.

Kendati demikian, ia justru mempertanyakan kembali soal peluangnya maju sebagai calon presiden di Pilpres 2024.

Sebab, ia belum bisa memastikan apakah akan kembali maju di gelaran Pemilu 2024.

"Menurut kamu gimana, aku ada peluang enggak? Kok Cak Imin, aku aja belum tentu loh," ujar Prabowo.

Prediksi Pengamat

Direktur Eksekutif Lingkar Madani (LIMA) Ray Rangkuti mengatakan keinginan PKB untuk menduetkan Muhaimin Iskandar alias Cak Imin dengan Prabowo Subianto dinilai sah-sah saja.

Namun menurut Ray, keputusan tersebut ada di tangan Prabowo selaku Ketua Umum Partai Gerindra.

"Keinginan PKB untuk menduetkan Prabowo dengan Cak Imin, tentu sah-sah saja. Sekalipun, titik keputusannya ada di tangan Pak Prabowo," kata Ray kepada Tribunnews.com, Sabtu 5 Februari 2022.

Alasan itu lantaran elektabilitas Prabowo jadi salah satu yang paling menonjol untuk dicalonkan sebagai presiden.

Di sisi lain, nama Cak Imin sebagai calon presiden maupun wakil presiden masih abu - abu.

Baca juga: MENGEJUTKAN, Prabowo Subianto Ternyata Belum Pasti Maju pada Pilpres 2024: Apakah Saya Masih Layak?

Faktor lainnya, hubungan PKB dan Nahdlatul Ulama (NU) terlihat makin repot usai terpilihnya Ketum PBNU yang baru.

"Elektabilitas Prabowo salah satu dari nama yang paling menonjol sebagai calon presiden. Nama Cak Imin sendiri baik sebagai capres maupun sebagai calon wakil presiden masih samar-samar," ucapnya.

Dengan pertimbangan - pertimbangan tersebut, posisi Cak Imin dinilai rendah untuk mendampingi Prabowo di Pilpres 2024.

"Dengan 3 pertimbangan ini posisi Cak Imin untuk masuk sebagai calon wakil presiden Prabowo sebenarnya rendah," ungkap Ray.

Dukungan Umat Islam

Di sisi lain, Pengamat politik Islam The Political Literacy, Muhammad Hanifudin menilai, wacana menduetkan Prabowo Subianto dengan Cak Imin akan berpengaruh pada dukungan umat Islam pada Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024 mendatang.

Menurut Hanif, potensi duet Prabowo-Muhaimin untuk Pilpres 2024 cukup terbuka.

Secara kalkulatif, lanjut Hanif, suara Gerindra dan PKB telah memenuhi ambang batas 20 persen presidential threshold sebagai syarat maju.

"Tapi, untuk menjadi pasangan pemenang, khususnya mendapat mayoritas dukungan umat Islam/partai Islam, masih butuh jalan panjang," paparnya kepada KOMPAS.TV via WhatsApp, Jumat malam 4 Februari 2022.

Hanif lantas memaparkan terkait potensi duet dua tokoh itu mewakili dua kubu partai besar tersebut.

Syarat pertama adalah, kata Hanif, Prabowo-Muhaimin harus mampu bangun koalisi partai berbasis Islam.

"Di antaranya adalah, pertama, harus mampu membangun koalisi dengan partai-partai Islam atau religius-nasionalis. Semisal PKS, PAN, dan PPP," paparnya.

Kedua, harus mampu merumuskan isu dan program kerja yang dapat menarik banyak suara.

"Mengingat, pemilih di Indonesia sudah mulai cerdas. Pemilih nanti juga akan melihat track record dan tawaran program kerja," ujarnya.

Sempat Mesra dengan PDIP

Pengamat politik dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Adi Prayitno menilai, wacana duet Prabowo Subianto dan Muhaimin Iskandar sebagai calon presiden dan wakil presiden merupakan simulasi yang aneh.

Adi beralasan, sejauh ini Partai Gerindra telah menunjukkan kemesraannya dengan PDI Perjuangan sehingga wacana duet Prabowo-Muhaimin dapat menimbulkan pertanyaan soal nasib PDI-P.

"Kemesraan PDI-P-Gerindra itu sulit untuk dipisahkan saat ini. Makanya kalau ingin mencoba untuk merayu Prabowo, memang PDI-P mau dikemanakan?" kata Adi saat dihubungi Kompas.com, Kamis 3 Februari 2022.

Sementara, menurut Adi, Gerindra juga tampak kurang berminat untuk berkoalisi dengan PKB bila melihat respons elite Partai Gerindra menyikapi wacana duet Prabowo-Muhaimin.

"Kalau enggak direspons itu sama halnya tidak dianggap opini-opini dan gosip-gosip itu kan. Gerindra kan tidak bereaksi, bagi Gerindra itu tidak terlampau penting untuk direspons," ujar Adi.

Adi berpandangan, semua partai memang masih mengambil sikap menunggu sambil memantau situasi, tetapi ia menilai Gerindra akan berupaya untuk berkoalisi dengan partai yang perolehan suaranya setara atau lebih besar dari mereka.

Adi menambahkan, wacana Prabowo-Muhaimin juga aneh karena sebelumnya elite-elite PKB kerap melemparkan kritik kepada Prabowo pada masa kampanye Pemilihan Presiden 2014 dan 2019. (*)

Artikel ini telah tayang dengan judul: Dituding Oligarki dan Dapat Jatah Proyek di IKN, Adik Prabowo: Bohong Besar dan Fitnah

Sumber: Tribunnews
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved