Breaking News:

Berita Kota Kupang

Sinode GMIT Keluarkan SOP Ibadah Natal dan Tahun Baru

Majelis Sinode GMIT telah mengeluarkan standar operasional prosedur (SOP) Natal dan Tahun Baru ( Nataru)

Penulis: Oby Lewanmeru | Editor: Kanis Jehola
Sinode GMIT Keluarkan SOP Ibadah Natal dan Tahun Baru
ISTIMEWA/POS-KUPANG.COM
Pdt. Dr. Mery Kolimon

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, oby Lewanmeru

POS-KUPANG.COM, KUPANG -- Majelis Sinode GMIT telah mengeluarkan standar operasional prosedur (SOP) Natal dan Tahun Baru ( Nataru) 25 Desember 2021 dan 1 Januari 2022.

SOP ini dikeluarkan untuk mengantisipasi munculnya kasus penularan Covid-19 melalui  pelayanan  perayaan Nataru.

Hal ini disampaikan Ketua Majelis Sinode GMIT, Pdr. Dr. Mery  Kolimon, Minggu 5 Desember 2021.

Menurut Mery, Majelis Sinode GMIT telah mengeluarkan SOP perayaan Nataru sebagai tindaklanjut terhadap surat edaran Menteri Agama No 31 tahun 2021 tentang pencegahan dan penanggulangan Covid-19 di saat perayaan Natal 2021.

"SOP ini disusun selain mempertimbangkan surat edaran Menteri Agama, juga pesan Natal bersama PGI dan KWI dan Rakor tingkat sektoral , TNI,Polri dan instansi  terkait dalam rangka pengamanan dan antisipasi lonjakan kasus Covid-19," kata Mery.

Dijelaskan, SOP pelaksanaan Natal dan Tahun Baru, yakni pelaksanaan ibadah Natal baru bisa dilakukan setelah masa Adven atau selama masa Adven, tidak diperkenankan merayakan Natal.

"Hendaknya ibadah Natal, akhir tahun dan tahun baru dilakukan secar sederhana dan khidmat dengan lebih mengutamakan persekutuan dalam keluarga. Hal lain, dilarang melakukan pawai, jamuan makan bersama, pesta, mabuk-mabukan, membunyikan petasan. Kembang air, atau bahan peledak lain yang dapat mengganggu ketertiban umum selama masa raya natal dan tahun baru," ujarnya.

Dikatakan, untuk menghindari hal yang tidak diinginkan bersama, untuk ibadah malam Natal dan syukur Tahun Baru tidak dilaksanakan malam hari.

Sedangkan ibadah bisa dilakukan secara hybrid (daring atau luring), apabila tersedia fasilitas yang memadai. 

Menurut Pdt. Mery, majelis jemaat juga perlu menyediakan liturgi bagi jemaat uangy mengikuti ibadah secara daring atau ibadah di rumah karena kondisi kerentanan.

"Bagi kaum difabel perlu diberi perhatian khusus dalam merayakan Natal, " ujarnya.

Dikatakan, khusus bagi jemaat yang menyiapkan ornamen-ornamen Natal, maka mohon dibuat dengan menggunakan bahan yang ramah lingkungan atau bisa didaur ulang.

"Sebisa mungkin pohon Natal menggunakan pohon hidup. Sedangkan perayaan Natal kategorial, fungsional/profesional dan rayon tidak dilaksanakan dalam bentuk seremonial yang mengumpulkan banyak orang dalam waktu yang lama," katanya.

Sinode GMIT juga menyampaikan sejumlah  standar pelaksanaan ibadah jemaat secara bersama, antara lain, memastikan tempat ibadah memiliki sirkulasi udara yang baik, sinar matahari yang cukup, ruang ibadah harus disterilkan dengan desinfektan, peserta dibatasi hanya 50 persen dari kapasitas ruangan, sehingga ibadah bisa digelar lebih dari satu kali dalam sehari serta beberapa standar lainnya, seperti pengukuran suhu tubuh, memakai masker menjaga jarak serta tidak berjabatan tangan. (*)

Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved