Terapkan Pertanian Terintegrasi, Petani Milenial Ini Hasilkan Puluhan Juta Rupiah
Duta Petani Milenial dari Kabupaten Sumba Timur, NTT, Aprianto Kalikit Kalorang, telah berhasil menerapkan sistem pertanian terintegrasi.
Terapkan Pertanian Terintegrasi, Petani Milenial Ini Hasilkan Puluhan Juta Rupiah
POS-KUPANG.COM, SUMBA TIMUR – Untuk menekan biaya produksi, Kementerian Pertanian (Kementan) berupaya untuk menerapkan pertanian terintegrasi. Yakni memanfaatkan komoditi lainnya yang ditanam dan atau dikelola secara bersamaan dalam satuan lahan petani.
Termasuk di dalamnya pengendalian hama terpadu (PHT) dapat dilakukan dengan memadukan keselarasan antar tanaman. Kementerian Pertanian mengarahkan pertanian terintegrasi agar dimaksimalkan oleh petani milenial.
Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo (SYL), mengatakan petani milenial merupakan tumpuan harapan pertanian Indonesia di masa mendatang.
"Petani milenial dan andalan saat ini banyak meraup hasil dan keuntungan yang melimpah dari hasil bertani. Kuncinya adalah mereka mengunakan kerjasama dalam mendapatkan akses market nasional bahkan internasional dan komunitas pertanian untuk memasarkan hasil pertanian di dalam negeri dan luar negeri," papar Mentan.
Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Dedi Nursyamsi, menambahkan hal serupa.
Menurutnya, selain memanfaatkan peluang, petani milenial harus mampu mendongkrak produktivitas dan menjaga kualitas dan menjamin kontinuitas produknya lewat inovasi teknologi termasuk memanfaatkan pertanian terintegrasi seperti ini.
“Para DPM dan DPA harus memanfaatkan kerjasama dengan berbagai perusahaan untuk memasarkan dan mengembangkan produknya dan mendapatkan modal. Contohnya, jika mengalami kesulitan usaha, mereka bisa memanfaatkan adanya Kredit Usaha Rakyat (KUR),” imbuh Dedi.
Dedi bangga dengan semangat petani muda. Menurutnya, para petani muda bisa bangkit dan terus semangat ketika jatuh.
“Karena petani itu pantang menyerah dan petani itu keren,” tutup Dedi.
Salah satu Duta Petani Milenial dari Kabupaten Sumba Timur, NTT, Aprianto Kalikit Kalorang, telah berhasil menerapkan sistem pertanian terintegrasi.
Petani milenial yang biasa disapa Aprianto ini mempunyai peternakan unggas, kambing dan usaha hortikultura di lahannya dengan rincian jumlah ayam broiler sebanyak 500 ekor, kambing 5 ekor, dan sayuran horti berupa terong, tomat, dan cabai.
Dalam pola pertanian terintegrasi, luasan lahan tidak selalu menjadi syarat mutlak sebagai jalan utama untuk mengatrol kesejahteraan petani, karena yang paling dibutuhkan justru kreativitas dalam melihat potensi yang dimiliki dan memanfaatkannya dalam mata rantai simbiosis-mutualis (saling menguntungkan).
“Praktek di lahannya dengan memanfaatkan kambing dan ayam sebagai solusi atas penanganan sampah sisa dapur, dan kotorannya dipakai untuk memupuk tanaman sayur di pekarangan adalah contoh konkret dari pola pertanian terintegrasi dalam skala rumah tangga,” ujar Aprianto.
Kini, Aprianto memiliki telah mampu meraih omzet sekitar Rp 30 juta dalam setahun. Ia pun telah berhasil menjalin kerjasama dengan dengan pusat pelatihan misi terpadu (PPMT) Lewa.
“Saya ingin membangun kembali bisnis pertanian saya ketika saya mengalami kebangkrutan di tahun 2019 akibat kandang ayam roboh. Di tahun 2022 saya pun menargetkan untuk dapat memberntuk kelompok tani yang berisi petani muda,” ungkap Aprianto optimis.
Sumber: RILIS BPPSDMP
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/aprianto-kalikit-kalorang_01.jpg)