Breaking News:

Menjadi Guru Antara Harapan dan Kenyataan

Guru sebuah kata usang yang selalu disebutkan dan telah ada sejak ratusan abad yang silam. Kata usang ini pun telah disebutkan oleh  sekian generasi.

Editor: Frans Krowin
POS-KUPANG.COM
Drs. Yakobus Milan Dawan, Kepala SMK Negeri 1 Wulanggitang, Kecamatan Wulanggitang, Kabupaten Flores Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) 

Sebuah Refleksi Mengenang Hari Guru Nasional 25 November 2021

Oleh: Drs. Yakobus Milan Dawan

GURU sebuah kata usang yang selalu disebutkan dan telah ada sejak ratusan abad yang silam. Kata usang ini pun telah disebutkan oleh  sekian generasi manusia  di muka bumi dari abad ke abad, dari tahun ke tahun, bulan ke bulan, dari hari ke hari.

Kata usang ini memang sangat sulit untuk dibuang atau dicampakkan begitu saja. Kkarena dari kata inilah, lahir jutaan manusia  yang beradab, berakhlak, bermoral, berilmu dan  berpengetahuan serta membawa dunia pada perubahan peradaban yang multi dimensi.

Daya magnet dari seorang Guru sepertinya tidak bisa dikalahkan oleh daya kekuasaan manapun. Guru telah menjadi bagian sentral yang tidak dapat dipisahkan dari gerak perubahan zaman.

Harapan

Setiap kita menyadari predikat Guru harusnya sadar bahwa dalam diri kita terlahir sejuta harapan untuk anak didik kita. Hal ini menjadi eksistensi hakiki dalam setiap sikap, tutur kata dan perbuatan di tengah tugas yang kita embani.

Ekspresi dan tekad ini terlahir dari kesadaran akan peran Guru yang dianalogikan dengan sebutan Pelita, Embun dan Pahlawan Bangsa (Bunyi Syair dalam untaran lagu Hymne Guru)

Pelita

Pelita atau lampu merupakan alat penerangan. Ketika guru diibaratkan sebagai Pelita, artinya peran guru harus lebih maksimal dalam mentransformasikan  ilmu pengetahuan. Guru sebagai sumber ilmu (pelita/penerangan) yang menghalau kebodohan (kegelapan).

Halaman
12
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved