Breaking News:

Laut China Selatan

China Sangat Mendesak, Filipina Tidak akan Pindahkan Kapal Perang dari Laut China Selatan

Situasi di Laut China Selatan, China Mendesak, Filipina Tidak akan Pindahkan Kapal Perang dari Laut China Selatan

Editor: Gordy Donofan
Istimewa
Ilustrasi Kapal di Laut China Selatan 

POS-KUPANG.COM - Filipina tidak akan memindahkan kapal perang yang rusak dari sebuah atol di Laut China Selatan, menolak permintaan China setelah negara itu memblokir misi untuk memasok kembali perbekalan untuk pasukan di kapal itu.

Menteri Pertahanan Filipina Delfin Lorenzana membantah pernyataan China pada Rabu (24/11) yang menyebutkan, Filipina telah berkomitmen untuk memindahkan BRP Sierra Madre dari Second Thomas untuk memperkuat klaim kedaulatan Manila di Kepulauan Spratly.

Kapal pendarat tank sepanjang 100 meter itu awalnya milik Angkatan Laut AS yang digunakan selama Perang Dunia Kedua.

"Kapal itu sudah ada sejak 1999 (di Second Thomas). Kalau ada komitmen, pasti sudah lama disingkirkan," kata Lorenzana, Kamis (25/11), seperti dikutip Reuters.

Baca juga: Militer China Minta AS Hentikan Aktivitas Militer di Laut China Selatan

Juru bicara Kementerian Luar Negeri China Zhao Lijian pada Rabu mengatakan, Beijing "menuntut Filipina menghormati komitmennya dan memindahkan kapalnya yang ditempatkan secara ilegal".

Beting Thomas Kedua, berjarak 195 km dari Palawan, adalah rumah sementara dari kontingen kecil militer Filipina di atas kapal berkarat, yang "berlabuh" di atas karang.

Lorenzana menuduh China "melanggar" kedaulan ketika penjaga pantainya mengganggu misi pasokan untuk pasukan Filipina yang bertugas BRP Sierra Madre.

Beting Second Thomas berada dalam zona ekonomi eksklusif (ZEE) 200 mil laut Filipina, seperti tertuang dalam Konvensi PBB tentang Hukum Laut (UNCLOS), yang ditandatangani oleh China.

"Kami memiliki dua dokumen yang membuktikan bahwa kami memiliki hak berdaulat di ZEE kami sementara mereka tidak, dan klaim mereka tidak memiliki dasar," tegas Lorenzana.

"China harus mematuhi kewajiban internasionalnya yang menjadi bagiannya," ujarnya.

Halaman
123
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved