Breaking News:

Berita Kota Kupang

Begini Kata Ketua KPAD Kota Kupang, Herman Man Soal ODHA

tahun 2022 mendatang anggaran tidak tersedia, lonjakan kasus ini akan naik dan memungkinkan tidak terkontrol

Editor: Rosalina Woso
POS KUPANG.COM/IRFAN HOI
Ketua KPAD Kota Kupang, Hermanus Man  

"Sehingga penanganan itu komperhensif kalau tidak dia ditelantarkan. Jadi kalau tahun 2022 ini Pemkot tidak menyiapkan anggaran, ya juga tidak bisa berbuat banyak," katanya.

Dalam waktu dekat KPAD akan menggelar rapat bersama Pemkot dan DPRD untuk menyampaikan proses kerja selama ini. Herman menyampaikan ketersediaan anggaran menjadi sangat penting bagi penanganan ODHA.

Selain itu, Herman Man menerangkan, ODHA di Kota Kupang mayoritas penderita adalah laki-laki dan rata-rata berada di umur yang produktif. Untuk itu, dengan anggaran yang tercukupi maka kecepatan penanganan akan lebih baik.

ODHA yang memiliki kartu kesehatan, menurut Herman tetap mendapat layanan kesehatan. Asalkan, ODHA tersebut terdaftar sebagai warga di Kota Kupang sehingga memudahkan petugas dan dinas terkait untuk mendata dan melakukan pembayaran iuran.

Dikatakannya, anggaran ini juga digunakan untuk mendeteksi area baru potensi terjadi penyebaran kasus seperti boking open yang berseliweran secara online. Petugas, kata Herman, harus melacak itu hingga ke tempat hiburan malam, SPA, dan panti pijat.

Baca juga: Sekda Kota Kupang Minta Masyarakat Bisa Pahami Kenaikan Tarif Angkot

Salah seorang ODHA di Kota Kupang meminta kepada Pemerintah Kota (Pemkot) Kupang untuk bisa membantu dalam hal pengurusan Kartu Tanda Penduduk (KTP) dan BPJS Kesehatan sehingga bisa memperlancar proses pelayanan ODHA di Fasilitas Kesehatan (Faskes).

ODHA berinisial Y itu mengaku banyaknya ODHA yang tidak memiliki KTP dan BPJS menyebabkan pelayanan untuk mendapat obat dan pemeriksaan menjadi terganggu.

Ketiadaan administrasi ini, menurutnya diakibatkan kondisi perekonomian ODHA yang dinilainya masih dibawah standar. Selain ekonomi, lambannya pengurusan KTP dan BPJS kesehatan di instansi terkait merupakan masalah lain yang sering dihadapi oleh dia dan para ODHA lainnya.

Sebagai ODHA, Y menyebut usahanya untuk tetap memotivasi sesama ODHA dengan terus mengajak melakukan pemeriksaan dan mendapat obat di layanan rumah sakit di Kota Kupang.

Y merupakan penderita ODHA sejak tahun 2004 silam. Dia mengungkapkan, dari pelayanan dan pendampingan dari Komisi Penanggulangan Aids (KPA) dan LSM, dirinya bisa menjadi seperti orang lain pada umumnya.

Halaman
123
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

Tribun JualBeli
© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved