Breaking News:

Afganistan Makin Amburadul Setelah Dikuasi Taliban, Ektrimis Di Mana-mana Hingga Krisis Kemanusiaan

Harapan rakyat Afganistan paca hengkanya Amerika Serikat dan menyerahkan kekuasaan ke Taliban tidak membuat negara itu lebih baik

Editor: Alfred Dama
AFP
Pejuang Taliban berdiri di atas kendaraan di sepanjang pinggir jalan di Kandahar Afghanistan pada 13 Agustus 2021. 

Saat ini, kelompok yang berafiliasi dengan ISIS tersebut telah muncul di hampir seluruh provinsi di Afghanistan.

Kepada Dewan Keamanan PBB, Lyons melaporkan bahwa Taliban telah merespons kehadiran kelompok Negara Islam-Provinsi Khorasan (ISKP) di Afghanistan.

Pihak Taliban pun dilaporkan telah berjuang menghalau gerakan tersebut.

"Taliban tampaknya sangat bergantung pada penahanan di luar proses hukum dan pembunuhan terhadap tersangka pejuang ISKP. Ini adalah sisi yang layak mendapat perhatian lebih dari komunitas internasional," ungkap Lyons, sebagaimana dikutip Reuters.

Baca juga: China Kerjasama dengan Negara-negara Islam, Usai Taliban Kini Sedang Dekati Palestina

Laporan Lyons terkait meluasnya aktivitas ISKP disampaikan hanya beberapa jam setelah kelompok itu mengaku bertanggung jawab atas dua ledakan yang menewaskan sedikitnya satu orang dan melukai enam lainnya di lingkungan Muslim Syiah di Kabul.

Dalam laporannya, Lyons menyebut untuk saat ini Taliban masih sangat kesulitan membendung lawan ideologisnya tersebut.

Tahun ini, jumlah serangan anak kelompok ISIS tersebut melonjak hingga 334.

"Serangan kelompok tersebut telah meningkat dari 60 serangan pada 2020 menjadi 334 pada tahun ini. Dulu terbatas di beberapa provinsi dan ibu kota, kini ISKP seolah hadir di hampir semua provinsi, dan semakin aktif," lanjut Lyons.

Baca juga: Pejuang Taliban Cambuk Wanita Afghanistan yang Protes Pemerintah Sementara yang Semuanya Laki-laki

Di tengah kondisi ekonomi dan politik yang belum stabil pasca pengambilalihan kekuasaan, PBB memperingatkan lagi tentang bencana kemanusiaan menjelang datangnya musim dingin.

Lyons memohon kepada komunitas internasional agar bisa mendanai gaji petugas kesehatan, guru dan pekerja kemanusiaan yang terus bekerja di tengah kekurangan bantuan kemanusiaan.

Halaman
123
Sumber: Grid.ID
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved