Breaking News:

Berita Internasional

Pekan Diplomasi Iklim 2021 Ketiga Ditutup dengan Webinar Dialog Konservasi Keanekaragaman Hayati

Di satu sisi akan meningkatkan produksi pertanian dan ternak, tapi di satu sisi akan banyak manusia untuk masuk hutan dan berburu hewan

Penulis: Michaella Uzurasi | Editor: Rosalina Woso
POS KUPANG.COM/ISTIMEWA
First Counsellor-Environment, Climate Action, ICT-EU Delegation Indonesia, Henriette Faergemann 

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Michaella Uzurasi

POS-KUPANG.COM, KUPANG - Pekan Diplomasi Iklim 2021 telah berjalan selama tiga hari dan pada hari ketiga, Rabu, 13 Oktober 2021, kegiatan ditutup dengan webinar “Dialog Konservasi Keanekaragaman Hayati". 

Berdasarkan rilis yang diterima, dalam pembukaan webinar, First Counsellor-Environment, Climate Action, ICT-EU Delegation Indonesia, Henriette Faergemann,mengatakan, sesi ke-8 ini bertujuan untuk menjangkau khalayak yang lebih luas soal keanekaragaman hayati.

“Sainsnya sudah nampak, saat ini kita sedang menimbulkan tekanan yang sangat besar, pemanasan global pada 2030-2052 naik 1,5 derajat celsius, penurunan kualitas alam ini sayang sekali diakibatkan oleh perilaku manusia dalam hal konsumsi dan produksi,” kata dia.

Kegiatan ekstraksi bumi juga telah mengubah kondisi alam dalam tingkatan yang begitu besar sehingga menghadirkan krisis. Salah satu cara mengatasinya adalah melalui konservasi keanekaragaman hayati.

 “Konservasi keanekaragaman hayati sangat penting, karenanya Uni Eropa telah menetapkan keanekaragaman hayati sebagai pusat kebijakannya, dan telah mengadopsi strategi keanekaragaman hayati untuk 2030,” ujarnya lagi.  

Baca juga: Perkara HAM, Ini Alasan Mantan Presiden Timor Leste Tak Seret Indonesia ke Pengadilan Internasional

Pembicara pertama, Francesco Ricciardi, Environment Specialist, Asian Development Bank (ADB) membahas, hubungan konservasi keanekaragaman hayati terhadap pengurangan risiko pandemi di masa depan.

Menurut dia, ada studi area dengan potensi pertanian yang tinggi akan kontradiksi dengan kenaekaragaman hayati yang tinggi. Saat ini kita telah kehilanagn 3000 ribu kilometer persegi akibat pembukaan lahan.

“Pada 2050 mendatang akan ada 2 juta km jalan yang akan dibangun di kawasan dengan keanekaragaman hayati yang tinggi. Di satu sisi akan meningkatkan produksi pertanian dan ternak, tapi di satu sisi akan banyak manusia untuk masuk hutan dan berburu hewan dan merusak keanekaragaman hayati suatu wilayah,” kata Francesco.

Sementara itu, Marcel Silvius, Global Green Growth Institute (GGGI)menyatakan gambut tersebar di setiap negara, namun di Asia Tenggara luas gambut menjadi yang tertinggi, yang tersebar di Indonesia, Malaysia serta negara lain di Asia Tenggara.

Halaman
12
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved